Mahfud MD-Ali Masykur Moesa spontan pimpin ISNU 2012-2017
Sabtu, 18 Februari 2012 23:51 WIB | 3437 Views
Mahfud MD (tengah) dan Marzuki Alie (kiri) saat menghadiri Kongres I Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Universitas Darul Ulum (UNISDA) Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (18/2). Kongres I ISNU itu dihadiri sekitar 600 peserta dari berbagai daerah untuk merumuskan program kerja lima tahun mendatang. (ANTARA/Syaiful Arif)
Berita Terkait
Lamongan (ANTARA) - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Moh. Mahfud MD, dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Dr Ali Masykur Moesa, terpilih secara spontan dan aklamasi untuk memimpin Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (DPP ISNU) periode 2012-2017.
"Cak Ali Masykur Moesa terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) ISNU, sedangkan Prof Mahfud MD menjadi Ketua Dewan Kehormatan dan Guru Besar (DKGB) DPP ISNU," kata pimpinan sidang pemilihan dalam Kongres I ISNU, Ir Muhammad Koderi MT, di Universitas Darul Ulum (UNISDA) Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu malam.
Koderi tampil memimpin sidang pemilihan secara spontanitas, mengingat pimpinan sidang sebelumnya, Nur Hasan, justru disoroti para peserta kongres, sehingga proses pemilihan terkesan gaduh, karena peserta kongres justru berebut ingin bicara terkait siapa yang berhak menjadi peserta, apakah wilayah hingga cabang atau bagaimana.
Dalam situasi itulah, Koderi yang merupakan ketua panitia Kongres I ISNU pun mengambil alih pimpinan sidang dengan menskors sidang selama lima menit untuk mendinginkan suasana, kemudian melanjutkan sidang dengan memaparkan kondisi riil ISNU saat ini.
"Siapa yang berhak menjadi peserta dalam kongres kali ini memang tidak jelas, karena ISNU memang belum memiliki AD/ART. Justru dari kongres inilah diharapkan lahir ada rumusan AD/ART ISNU, apalagi DPP ISNU yang berjalan saat ini sebenarnya sudah kedaluwarsa selama tiga tahun," katanya.
Setelah mengemukakan kondisi riil organisasi itu, Koderi yang juga pengurus DPW ISNU Jatim itu pun menyebutkan dua nama yang bertekad membesarkan ISNU, yakni Prof Mahfud MD dan Ali Masykur Moesa.
"Jadi, bagaimana kalau keduanya kita sepakati untuk memimpin ISNU? Pak Mahfud sebagai Ketua Dewan Kehormatan dan Cak Ali Masykur sebagai Ketua Umum ISNU, setuju ?," katanya, meminta persetujuan dari peserta kongres.
"Setujuuu....," begitulah jawaban mayoritas peserta yang akhirnya diikuti ketokan palu oleh Koderi sebagai tanda pengesahan.
Setelah itu, Koderi mengajak peserta menentukan formatur (ketua lama dan ketua terpilih) dan mede-formatur yang dibagi pada sistem perwakilan untuk tujuh kepulauan, yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan Jawa.
"Jadi, ketua dipilih dulu, lalu bekerja membahas program kerja, rekomendasi, dan peraturan organisasi," katanya.
Menanggapi penunjukan dirinya, Ali Masykur Moesa mengaku dirinya siap membesarkan ISNU dengan merangkul semua kalangan yang selama ini berjuang di dalam ISNU.
"Saya akan kembangkan ISNU melalui program pendidikan master dan doktor yang lebih banyak untuk para sarjana NU, sehingga ISNU ke depan akan lebih berperan untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta," katanya.
Proses pemilihan yang "sederhana" itu sempat menimbulkan kasak-kusuk di kalangan peserta kongres, antara mereka yang setuju dan tidak setuju. Mereka yang setuju umumnya melihat periode kepemimpinan ISNU 2012-2017 merupakan periode transisi dengan kondisi yang masih belum sempurna, sedangkan mereka yang keberatan melihat cara pemilihan tidak demokratis.
"Itu model baru, saya setuju, karena mereka yang dipilih adalah mereka yang mau bekerja untuk organisasi, bahkan saya dengar ada calon yang menyodorkan sejumlah uang untuk menjadi ketua, tapi ditolak panitia. Itu bagus, ISNU bisa menjadi teladan bagi organisasi lain," kata seorang peserta dari Kalimantan.
Kongres I ISNU juga dimeriahkan dengan seminar nasional dan seminar pararel yang membahas 40 `call paper` para pakar yang dimuat dalam Jurnal ISNU yang disunting 10 pembahas dalam tujuh bidang, yakni teknik/arsitektur, kesehatan, ekonomi, pendidikan, politik, hukum, dan budaya/agama. (*)
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com