Sanaa (ANTARA News) - Presiden yang mengundurkan diri Ali Abdullah Saleh hari Senin mendesak mendesak rakyat Yaman memberikan suara untuk penggantinya, Abdrabuh Mansur Hadi, dalam pemilihan seperti referendum Selasa untuk menjamin peralihan kekuasaan yang "damai", kata media pemerintah.

"Saya mengundang kalian berpartisipasi aktif dalam peristiwa demokratis ini dan pergi ke tempat-tempat pemungutan suara untuk memilih Abdrabuh Mansur Hadi" sebagai presiden mendatang, kata Saleh dalam pernyataan kepada rakyat Yaman, yang disiarkan oleh kantor berita Saba, lapor AFP.

"Peristiwa ini merupakan bagian dari (rencana) yang kita setujui bagi peralihan kekuasaan lancar dan damai yang akan membawa bangsa kita keluar dari krisis setahun yang telah membuat pembangunan terhenti," kata Saleh, menunjuk pada rencana perdamaian sponsoran Teluk yang ditandatangani pada November.

Menurut perjanjian itu, Hadi menjadi satu-satunya calon dalam pemilihan Selasa, dan ia akan memimpin masa peralihan selama dua tahun.

"Saya meminta kalian semua... mengatasi masa silam dan melangkah ke depan untuk memperbaiki kemunduran yang ditimbulkan oleh krisis itu dan unsur-unsur teroris" terhadap Yaman, kata Saleh.

Saleh kini berada di AS untuk perawatan medis akibat cedera dalam serangan bom terhadap istananya di Sanaa pada Juni tahun lalu.

Yaman dilanda pergolakan yang menewaskan ratusan orang sejak demonstran menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh pada akhir Januari 2011.

Saleh (69), yang memerintah Yaman selama 33 tahun, menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan yang ditengahi oleh negara-negara Teluk di Riyadh pada 23 November, yang menetapkan ia menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya meski ia tetap menjadi presiden kehormatan sampai Februari 2012.

Prakarsa Dewan Kerja Sama Teluk yang bertujuan mengakhiri protes berbulan-bulan itu menetapkan Saleh mengundurkan diri dengan imbalan kekebalan dari tuntutan hukum bagi dirinya dan anggota-anggota keluarganya.

Pada 7 Desember, Wakil Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi mengeluarkan sebuah dekrit yang mensahkan pembentukan pemerintah persatuan nasional yang disepakati sesuai dengan perjanjian penengahan Teluk.

Pemerintah baru yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammed Basindawa menjalankan tugas selama tiga bulan, dan setelah itu pemilihan umum dilaksanakan dan Hadi akan secara resmi mengambil alih tugas presiden.

Pemerintah AS dikabarkan mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara.

Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden.

Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaida akan menimbulkan "ancaman nyata" bagi AS.

Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP).

Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaida memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar