Dua prajurit Albania ditembak mati polisi Afghanistan
Selasa, 21 Februari 2012 05:33 WIB | 1913 Views
Tirana (ANTARA News) - Dua prajurit Albania ditembak mati oleh polisi Afghanistan ketika sedang menghadiri peresmian dua sekolah di dekat kota Kandahar, Afghanistan selatan, demikian diumumkan Kementerian Pertahanan Albania, Senin.
Kapten Feti Vogli dan Kopral Aleksander Peci dibunuh oleh "polisi lokal", kata kementerian itu, dengan menambahkan bahwa 11 polisi Afghanistan ditangkap terkait dengan insiden tersebut, yang terjadi di desa Robot, lapor AFP.
Kementerian itu mengatakan bahwa seorang prajurit asing lain cedera namun tidak menyebutkan kewarganegaraannya.
Kedua prajurit itu adalah korban-korban tewas pertama Albania di Afghanistan, dimana Tirana mengirim 260 prajurit untuk bergabung dalam pasukan pimpinan NATO di negara itu.
Komandan-komandan militer NATO berusaha memperketat pengamanan untuk mencegah gerilyawan menyusup ke dalam pasukan keamanan Afghanistan setelah sejumlah prajurit Prancis dibunuh oleh seorang prajurit Afghanistan.
Enam persen dari kematian prajurit NATO di Afghanistan disebabkan oleh serangan pasukan keamanan Afghanistan, menurut laporan rahasia aliansi itu yang bocor kepada media bulan lalu.
Sekitar 130.000 prajurit NATO bekerja sama dengan lebih dari 300.000 anggota pasukan keamanan Afghanistan.
Pembunuhan empat prajurit tak bersenjata Prancis oleh seorang prajurit Afghanistan yang mereka latih bulan lalu mendorong Presiden Prancis Nicolas Sarkozy segera mengkhiri peran tempur negara itu di Afghanistan pada akhir 2013.
Sekitar 40 serangan dilakukan oleh prajurit Afghanistan terhadap pasukan NATO dalam empat tahun terakhir, kata Menteri Pertahanan Prancis Gerard Longuet.
Sebuah laporan rahasia yang dikutip oleh The New York Times pada 20 Januari mengatakan, peningkatan serangan oleh prajurit Afghanistan terhadap pasukan AS dan NATO di negara itu merupakan masalah sistematis dan tidak terjadi dalam insiden tertentu.
Pada Oktober, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.
Presiden Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.
Gerilyawan meningkatkan serangan terhadap aparat keamanan dan juga pembunuhan terhadap politikus, termasuk yang menewaskan Ahmed Wali Karzai, adik Presiden Hamid Karzai, di Kandahar pada Juli dan utusan perdamaian Burhanuddin Rabbani di Kabul bulan September.
Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.
Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan sepanjang tahun lalu, yang menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs independen icasualties.org.
Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010 akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan pada gerilyawan.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara berada di Afghanistan untuk membantu pemerintah kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer. (M014)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com