Taufiq luncurkan "empat pilar untuk satu Indonesia"
Rabu, 22 Februari 2012 21:39 WIB | 1835 Views
Taufik Kiemas (FOTO ANTARA)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Ketua MPR RI Taufiq Kiemas di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Rabu, meluncurkan buku yang berjudul "Empat Pilar untuk Satu Indonesia: Visi Kebangsaan dan Pluralisme Taufiq Kiemas".
Dalam acara peluncuran yang dirangkai dengan diskusi buku tersebut oleh sejumlah narasumber, diantaranya Ketua Fraksi PDIP MPR RI Yasonna Laoly, pengamat politik Yudi Latief dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj itu, dihadiri pula sejumlah tokoh diantaranya mantan Presiden Megawati dan Ketua Dewan Penasehat Golkar Akbar Tandjung.
Dalam bukunya, Taufiq Kiemas mengungkapkan keyakinannya bahwa "empat pilar" terutama Pancasila, merupakan rumusan cita-cita besar bangsa Indonesia.
"Pancasila adalah terjemahan dorongan hati manusia Indonesia kedalam dimensi sosial-politik. Dalam Pancasila, bangsa Indonesia melihat wajahnya sebagaimana ia mencita-citakannya," kata Taufiq.
Tokoh senior PDIP itu berpendapat, Pancasila dapat pula berfungsi sebagai pedoman untuk melihat peristiwa sosial-politik, ekonomi dan kebudayaan yang terjadi di tengah masyarakat dari berbagai dimensi.
Dimensi horizontal misalnya diingatkan oleh aspek kerakyatan (sila keempat) dan aspek keadilan (sila kelima) agar kesejahteraan mayoritas warga di lapisan bawah meningkat lewat mobilitas sosial.
Sedangkan dimensi vertikal atau sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengingatkan perlunya keadilan bagi warga minoritas untuk memeluk dan melaksanakan ajaran agamanya.
Menurut Taufiq, mayoritas warga negara Indonesia adalah moderat-toleran dan hanya sebagian kecil saja yang prilakunya ekstrim karena adanya pembiaran oleh negara.
Dalam bukunya itu, Taufiq juga menggagas tentang kebangsaan atau nasionalisme yang mengusung pluralisme dan toleransi yang didasarkan pada pemahamannya terhadap sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang sejak awal mempersatukan pemikiran dari berbagai aliran politik di masa itu.
Karena itu, menurut Taufiq, aspek persatuan itu semestinya mulai dimasukkan dalam berbagai kajian sejarah politik Indonesia. "Hal ini berguna untuk menunjukkan bahwa dikotomi Islam dan nasionalis yang terlanjur terbentuk, baik dalam kesadaran sosial bangsa maupun praktek politik mutakhir, sesungguhnya tidak valid sejak dari awal," ujarnya.
Sementara itu Yasonna Laoly mengatakan bahwa gerakan nasional membangkitkan kembali pemahaman tentang Pancasila sebagai falsafah bangsa sangat diperlukan sebagai jawaban atas kegalauan bangsa Indonesia saat menghadapi berbagai persoalan mutakhir saat ini.
Dia juga mengatakan bahwa sejak Taufiq Kiemas terpilih sebagai Ketua MPR, ia sangat menyadari posisi politiknya sangat strategis untuk mewujudkan visi kebangsaan dan pluralisme di Indonesia.
"Perwujudan visi ini bukan untuk dirinya, tetapi untuk kepentingan bangsa dan negara ini," katanya.
(T.D011/Z003) Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com