Harga minyak tinggi batu ujian bagi ekonomi AS, Obama
Kamis, 23 Februari 2012 20:02 WIB | 3430 Views
Presiden AS Barack Obama. (ANTARA/REUTERS )
Berita Terkait
Washington (ANTARA News) - Lonjakan harga bensin mengancam memadamkan kerlip api pemulihan ekonomi AS serta harapan Presiden Barak Obama mempertahankan kembali Gedung Putih.
Goyah namun masih tetap berdiri setelah empat tahun bekerja keras melewati resesi, perekonomian AS tengah -- baru mau -- menahan guncangan gempa bumi dan tsunami Jepang, Kebangkitan Arab dan krisis utang Eropa yang masih berlangsung, lapor AFP.
Kini, ketika pengangguran akhirnya mulai kendur dan pertumbuhan naik, kenaikan harga minyak bisa menjadi pukulan keras bagi perekonomi terbesar di dunia itu.
Tahun lalu, ketegangan di Iran, Suriah, Libya, Nigeria dan Sudan Selatan, ketatnya pengilangan dan kerasnya permintaan global telah berkonspirasi hingga menjadikan harga minyak metah dan bensin lebih tinggi.
Bagi warga Amerika itu artinya kenaikan harga 12,5 persen di POM bensin -- dari rata-rata 3,17 dolar per galon setahun lalu menjadi 3,57 dolar saat ini -- yang mengubah neraca banyak rumah tangga.
Kenaikan harga energi menjadi "salah satu risiko utama terhadap perekonomian tahun ini," menurut kepala ekonom Deutsche Bank AS Joseph LaVorgna.
LaVorgna dan timnya mengestimasi bahwa untuk setiap satu sen kenaikan harga bensin, biaya energi rumah tangga naik sekitar 1,4 miliar dolar.
Uang tersebut sebagian besar lari ke luar negeri, alih-alih membasahi perekonomian domestik.
Terdapat tanda-tanda bahwa kenaikan harga mulai menggoyahkan kepercayaan konsumen. Menurut Gallup dan jajak pendapat lain, kepercayaan ekonomi sudah mulai turun setelah serangkaian pencapaian yang membesarkan hati.
Harga minyak sebenarnya diharapkan akan turun dalam beberapa bulan ke depan ketika Belahan Bumi Utara memasuki jeda antara periode permintaan tinggi musim dingin dan musim panas, namun kelegaan itu mungkin hanya akan bersifat temporer.
Menurut Asosiasi Otomobil Amerika, harga minyak dapat naik hingga 4,25 dolar sebelum akhir Mei, jauh di atas pagu simbolis 4,00 dolar yang dianggap banyak warga Amerika terlalu tinggi.
Ironisnya, penguatan ekonomi mungkin dipersalahkan.
"Moment ekonomi yang sedang bangkit, walaupun dari dasar yang lemah, berpotensi menarik harga minyak lebih tinggi selama 12 hingga 24 bulan," kata analis JP Morgan kepada klien Selasa.
Jika kenaikan harga minyak memantrakan kabar buruk bagi ekonomi negara itu, maka hal itu juga kabar buruk secara politis bagi Obama.
Tingkat keterterimaan presiden terkadang memiliki hubungan kuat dengan kenaikan harga bensin, seperti halnya dengan pendahulu Obama George W. Bush. Pada kesempatan lain hubungan itu kurang jelas.
Gedung Putih nampak khawatir. Pada Kamis Obama diperkirakan akan kembali ke pokok masalah kebijakan energi dalam sebuah pidato di Miami, Florida.
Paling tidak, kenaikan harga telah memberi musuh politis Obama amunisi bahkan ketika ekonomi pulih, sementara mematikan dampak pemotongan pajak 40 dolar per bulan yang diperjuangkan dengan keras bagi warga Amerika.
Para calon presiden Republik Mitt Romney, Rick Santorum dan Newt Gingrich telah berupaya menimpakan kesalahan kenaikkan harga minyak tersebut pada calon Demokrat.
Mereka menuding penentangan Obama terhadap pemboran lepas pantai dan saluran pipa dari Kanada, serta dukungannya bagi diakhirinya pengurangan pajak perusahaan minyak, sebagai berkontribusi terhadap naikan harga gas.
Gingrich bahkan telah menjanjikan akan menurunkan harga bensin menjadi 2,50 dolar per galon.
Semua kandidat Republik berharap pendirian pro-energi mereka akan membuka dompet perusahaan minyak besar ketika mereka melanjutkan kampanye presiden mereka yang mahal.
Gedung Putih memukul balik, ketika juru bicaranya Jay Carney Selasa mewanti-wanti bahwa "tidak ada solusi ajaib untuk harga minyak yang naik."
Gedung Putih juga menuduh para calon Republikan oportunis politik.
"Presiden sangat sadar...tentang dampak harga minyak global terhadap keluarga, dan ini bukanlah sesuatu yang pemerintahan ini temukan atau temukan kembali setiap musim semi seperti sejumlah politisi lakukan," kata Carney.
Obama tidak memiliki sejumlah opsi untuk menurunkan harga, menurut Ed Yardeni, seorang strateg energi Yardeni Research.
"Pemerintahan Obama akan secara tak diragukan lagi memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis (SPR) segera apabila harga bensin tetap pada tingkat sekarang atau bergerak lebih tinggi," katanya meramalkan.
Juni lalu, Obama memerintahkan pelepasan sekitar 30 juta barel dari cadangan AS ketika perang di Libya berkecamuk, membantu menurunkan harga bensin dari ketinggian sekitar 4,00 dolar per galon.
Gedung Putih mungkin harus segera merespon gangguan asing lebih jauh ketika ketegangan meningkat menyangkut program nuklir kontroversial Iran.
Bukan Amerika Serikat maupun kebanyakan negara Barat lain yang mengandalkan sumber sebagian besar minyak mereka dari Iran, namun konfrontasi dengan Tehran dapat menakuti pasar dan mendorong harga lebih tinggi.
Pada 1979, kampanye pemilihan kembali presiden waktu itu Jimmy Carter berjuang di tengah harga bensin yang tinggi, berkat sebagian besar kekacauan menyusul revolusi Iran, maka pada akhirnya dia ditolak untuk jabatan kedua. (K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com