Susu sapi Indonesia bukan golongan terbaik
Sabtu, 25 Februari 2012 21:09 WIB | 3582 Views
Seorang pekerja memerah susu dari seekor sapi di tempat produksi susu sapi kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (14/9). Pemerintah menargetkan kenaikan populasi sapi perah dari sekitar 500.000 menjadi dua juta ekor sapi guna memenuhi kebutuhan industri susu nasional yang saat ini dinilai masih sangat minim. (FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Apakah anda penggemar susu dan berbagai produk
turunannya seperti keju atau yoghurt? Anda tentu tahu mana produk yang
nikmat dan enak di lidah.
Namun tahukah Anda, bahwa produk susu terbaik itu berasal dari daerah
hijau? Dan sangat disayangkan bahwa Indonesia tidak termasuk dalam
daerah hijau tersebut.
Berdasarkan penelitian oleh Environmental Protection Index (EPI) yang
dikembangkan Center for Environmental Law and Policy Yale
University, serta Center for International Earth Science Information
Network (CIESIN) Colombia University pada 2010, negara-negara hijau di
dunia adalah Islandia, Swiss, Costa Rica, Swedia, New Zealand dan
beberapa negara lain di Eropa bagian utara lainnya.
Namun sangat disayangkan, karena Indonesia yang dianggap kaya akan
keanekaragaman hayati ini, justru menduduki posisi 134 dalam indeks itu.
Hal tersebut sebagaimana yang diinformasikan Kepala Divisi Pusat
Riset Nutrifood, Susana, dalam diskusi media
tentang pentingnya mineral di Jakarta, pada Jumat.
"Negara yang masih hijau, kondisi lingkungannya lebih baik dan masih
terjaga sehingga menghasilkan kualitas mineral yang lebih baik," ujar
Susana.
Lalu apa hubungannya dengan susu terbaik ya? Tentu saja ada, karena
tumbuhan yang dikonsumsi oleh sapi yang menghasilkan susu, masih
mengandung mineral yang sangat baik.
"Hasilnya, susu yang diproduksi oleh sapi-sapi di daerah hijau juga
memiliki kandungan mineral yang lebih baik," kata Susana yang
menambahkan bahwa mineral dari susu sapi sesuai dengan apa yang
dikonsumsi oleh sapi-sapi tersebut.
Sementara itu, menurut Susana berdasarkan dara dari CIESIN yang
bekerja sama dengan World Economic Forum dan Joint Research Centre of
the European Commision, sejak tahun 2006 mereka menentukan EPI
berdasarkan 25 kriteria termasuk emisi karbon suatu negara, sulfur
yang dihasilkan, serta usaha dalam konservasi dan kemurnian tanah dan
air. (M048) Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com