Uni Eropa-Indonesia tukar pikiran mengenai timur tengah
Selasa, 28 Februari 2012 11:23 WIB | 2562 Views
Investasi EU Indonesia (kiri ke kanan) Ketua APINDO Sofyan Wanandi, Direktur Operasional 'External Action Service' Uni Eropa David O'Sullivan, Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto, dan Wakil Ketua KADIN Emirsyah Satar usai memberi keterangan pers di Jakarta, Senin (27/2). (FOTO ANTARA/Rosa Panggabean)
Selama periode 2011 hingga 2013 kami berencana untuk memberikan dana tambahan hingga 1 miliar Euro untuk mendukung perubahan di Timur Tengah.
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah delegasi Indonesia- Uni Eropa mengikuti diskusi mengenai persoalan Timur Tengah di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa.
Diskusi ini diadakan di sela-sela kunjungan Direktur Operasi "External Action Service" Uni Eropa, David O`Sullivan.
Dalam sambutannya, O`Sullivan mengatakan berbagai program dan dukungan diberikan Uni Eropa bagi negara-negara demokratis baru di Kawasan Timur Tengah dan juga prioritas pada masa yang akan datang.
"Selama periode 2011 hingga 2013 kami berencana untuk memberikan dana tambahan hingga 1 miliar Euro untuk mendukung perubahan di Timur Tengah," kata O`Sullivan.
Sebelumnya, kata O`Sullivan, pihaknya sudah menyediakan dana 5,7 miliar Euro bagi Timur Tengah. Selain itu juga ada dana pinjaman tambahan bagi wilayah itu senilai 1 miliar Euro.
Ia menambahkan fokus utama adalah memperkuat kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, pihaknya menyetujui dana 4,8 juta Euro untuk mempromosikan reformasi ekonomi dan politik di Tunisia dan Maroko.
"Langkah selanjutnya adalah meningkatkan mobilitas dan komunikasi antara masyarakat di wilayah itu. Kami telah memulainya di Tunisia dan Maroko," ujar dia.
Selanjutnya adalah mendorong terlaksananya perjanjian dagang dengan Mesir, Tunisia, Maroko dan Yordania yang sudah disetujui Uni Eropa pada Desember tahun lalu.
Sementara itu Direktur Jenderal Informasi dan Publik Kementerian Luar Negeri Abdurrahman M Fachir mengatakan tantangan bagi sebuah negara yang baru saja melalui proses demokrasi adalah bagaimana meminimalisasikan situasi ekonomi dan politik.
"Indonesia berhasil melewatinya, dan saat ini bisa menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara," kata Abdurrahman.
Abdurrahman menambahkan dia telah menyaksikan berbagai gejolak yang terjadi di wilayah Timur Tengah dan menyimpulkan pangkal persoalannya adalah kemiskinan dan ketidakadilan dalam penegakan hukum.
Abdurrahman menambahkan Revolusi Melati yang terjadi di Timur Tengah membawa perubahan yang sangat signifikan salah satunya adalah kebebasan berpendapat walaupun bergejolak di tingkat akar rumput.
Indonesia, lanjut Abdurrahman, terbukti mampu melakukan transformasi dengan damai.
Diskusi tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai kementerian, lembaga riset, masyarakat dan perwakilan diplomatik yang ada di Jakarta.
(I025)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com