Militan Yaman klaim bunuh agen CIA di Aden
Sabtu, 3 Maret 2012 02:39 WIB | 2369 Views
Aden (ANTARA News) - Sebuah kelompok militan Yaman yang terkait dengan Al-Qaida menyatakan, Jumat, anggotanya menyerang dan membunuh seorang agen CIA di provinsi Aden, Yaman selatan.
Namun, seorang pejabat keamanan Yaman mengatakan, tidak ada korban ketika tim keamanan AS di wilayah itu diserang, lapor Reuters.
Dalam sebuah pesan teks yang dikirim kepada wartawan di Yaman, kelompok Ansar al-Sharia mengatakan, "Mujahidin membunuh seorang aparat CIA pada Kamis ketika ia berada di provinsi Aden, setelah melacaknya dan memastikan ia bekerja sama dengan pemerintah Sanaa."
Sebuah pesan sebelumnya dari kelompok itu mengatakan, mereka menyerang seorang agen CIA, namun tidak menyebutkan korban.
Seorang pejabat keamanan Yaman di Aden mengatakan, seorang pria bersenjata menembaki tim keamanan AS yang terlibat dalam pelatihan pasukan keamanan Yaman pada Kamis, namun tembakan-tembakan itu mengenai kendaraan lapis baja mereka dan tidak ada korban.
Presiden baru Yaman Abdrabuh Mansur Hadi berjanji menumpas Al-Qaida dan memulihkan keamanan di negaranya yang miskin dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin baru.
Sejak protes anti-pemerintah meletus di Yaman pada akhir Januari 2011, militan memanfaatkan melemahnya kekuasaan pusat dengan membangun pangkalan di sejumlah provinsi selatan.
Pasukan keamanan Yaman selama beberapa bulan memerangi kelompok orang bersenjata yang dituduh sebagai anggota Al-Qaida di Abyan, Yaman selatan, khususnya di ibu kota provinsi itu, Zinjibar, yang sebagian besar dikuasai oleh militan sejak Mei.
Kekerasan menewaskan ratusan prajurit sejak militan bersenjata yang menamakan diri Ansar al-Sharia (Pengikut Sharia) menguasai sebagian besar Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan, pada 29 Mei. Ratusan militan juga tewas dalam bentrokan-bentrokan.
Para pejabat keamanan mengatakan bahwa militan itu adalah Al-Qaida, namun oposisi politik menuduh pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh mengada-ada tentang ancaman jihad dengan tujuan menangkal tekanan Barat terhadap kekuasaannya yang telah berlangsung 33 tahun.
Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari yang menuntut pengunduran diri Saleh telah menewaskan ratusan orang.
Dengan jumlah kematian yang terus meningkat, Saleh, sekutu lama Washington dalam perang melawan Al-Qaida, kehilangan dukungan AS.
Pemerintah AS mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara, menurut sebuah laporan di New York Times.
Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden, kata laporan itu.
Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaida akan menimbulkan "ancaman nyata" bagi AS.
Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.
Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.
Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP). (M014)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com