Jumat, 31 Oktober 2014

Petani Cirebon gulung tikar akibat bawang impor

| 2.514 Views
id petani bawang, bawang merah impor, harga bawang lokal, harga bawang impor, bawang merah lokal
Petani Cirebon gulung tikar akibat bawang impor
Demo buruh butik Sejumlah buruh petik (butik) bawang merah menggelar aksi unjuk rasa di Brebes, Jateng, Rabu (29/2). Mereka menuntut pemerintah menghetikan impor bawang merah karena menyebabkan harga bawang merah lokal turun dan tidak mempu lagi berproduksi. (FOTO ANTARA/Oky Lukmansyah)
Cirebon (ANTARA News) - Ribuan petani di pantai utara kabupaten Cirebon, Indramayu, Jawa Barat dan Brebes Jawa Tengah terancam gulung tikar karena merugi akibat setiap panen raya harga bawang merah anjlok dampak melimpahnya bawang merah impor.

Suhartoyo petani bawang merah di Pantura Cirebon, Minggu mengatakan, harga bawang merah sempat stabil untuk eceran Rp9000 per kilogram, kini panen raya, murah dijual sekitar Rp3.500 per kilogram kualitas baik.

"Diperkirakan ribuan petani Pantura akan gulung tikar akibat melimpahnya bawang merah impor," katanya.

Biaya tanam bawang merah cukup tinggi, kata dia, diperkirakan modal tanam sekitar Rp5.000, kini dijual di bawah standar hanya Rp3.500 per kilogram, petani merugi berkali-kali karena jika hasil panen disimpan akan membusuk.

Harga bawang merah terus anjlok, sejak tahun 2009 padahal sebelumnya berjalan normal, setiap tanam masih mendapatkan keuntungan karena bawang merah impor dibatasi, kini hasil panen petani lokal bersaing dengan bawang merah impor.

Sunarto ketua Dewan Bawang Merah Nasional kepada wartawan, menuturkan, harga bawang merah terus anjlok akibat melimpahnya bawang impor padahal kualitasnya rendah, namun pasar tetap memilih barang murah sehingga terjadi persaingan tidak sehat.

Bawang merah impor yang dikirim dari India merupakan sampah bawang sehingga harga dasarnya murah sekitar Rp1.000 per kilogram, sedangkan modal tanam petani lokal mencapai Rp5.000 per kilogram saat musim hujan karena pasokan air mudah dan murah.
(KR-EJS/S025)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga