Rabu, 24 September 2014

Terorisme global

Senin, 19 Maret 2012 10:46 WIB | 6.723 Views
Terorisme global
BJ. Habibie. (ANTARA/Rosa Panggabean)
Jakarta (ANTARA News) - Sebelum berbicara  "Terorisme Global", tidak ada salahnya terlebih dahulu dijelaskan apa yang dimaksud dengan terorisme, apa motivasinya, seperti apa sifatnya dan bagaimana prilaku teroris?

Terorisme adalah tindakan teror atau kekerasan yang dilaksanakan secara sistematik dan tidak dapat diperhitungkan yang dilakukan terhadap negara, penyelenggara pemerintahan -- baik eksekutif maupun legislatif --, bahkan terhadap warga elit sosial-politik dan perseorangan dalam negara, untuk memperjuangkan sasaran politik teroris.

Sejarah membuktikan, baik organisasi politik "kanan" maupun "kiri", organisasi nasional, organisasi etnik, organisasi agama, bahkan angkatan bersenjata dan polisi rahasia negara pun pernah melakukan tindakan terorisme.

Perkembangan teknologi canggih dalam bidang informasi, komunikasi, peledak (explosive) dan transportasi telah meningkatkan dampak dan keberhasilan aksi terorisme.

Banyak aktivitas teroris di dunia diilhami dan dipengaruhi oleh gerakan teror abad ke-19 di Eropa, yang menyasar perubahan politik radikal, tidak memihak kepentingan masyarakat luas dan bersifat anarkistis.

Pemberitaan serentak, cepat dan langsung mengenai kekerasan terorisme di seluruh dunia  melalui jaringan televisi, radio, dan jejaring sosial YouTube, Facebook, Twitter, dan sebagainya, akan diikuti oleh jutaan manusia yang memperhatikan pandangan, tuntutan dan sasaran politik teroris.

Itu berarti, melalui aksi teror, perhatian masyarakat pada "tuntutan teroris" dapat ditingkatkan dengan efisien.

Perbedaan terorisme masa kini dari terorisme masa lalu adalah sekarang korban masyarakat sipil lebih banyak dan luas karena teroris dengan sengaja merekayasa dan melaksanakan teror secara acak di mana prilaku teror lebih membidik lokasi dengan kesibukan tinggi atau dipadati banyak orang.

Karena teroris tidak memiliki banyak pendukung atau massa, maka tindakan kekerasan berupa penculikan, pemboman, sandra laut dan sandra udara, menjadi cara mereka agar tuntutan mereka diperhatikan publik.

Pada abad ke 20, motif dan cara terorisme berubah dan berkembang. Terorisme menjadi prasarana gerakan atau rentetan tuntutan organisasi politik dari hampir semua spektrum aliran seperti terjadi di Eropa, Timur Tengah, Asia dan Amerika Utara.

Perkembangan teknologi seperti senjata dan sistem persenjataan serba automatis, bahan ledakan yang sangat kompak dengan pengendalian jarak jauh, akan memperkuat mobilitas, ketepatan waktu dan kedahsyatan kerusakan akibat tindakan kekerasan berencana oleh teroris.

Biasanya terorisme dimanfaatkan oleh gerakan kelompok perorangan atau institusi politik yang menghendaki ketidakstabilan pemerintahan atau sistem pemerintahan dengan sasaran mengubah konstitusi.

Kerjasama internasional

Baik pelaku sistem pemerintahan maupun rezim yang ada dan mereka yang mau mengubahnya, telah memanfaatkan terorisme sebagai prasarana.

Dari kacamata pemerintah yang sah, gerakan yang memiliki program "perubahan total' melalui kekerasan dan tidak melalui jalan yang telah diatur UUD, dinamai "terorisme". Namun "perubah atau pembrontak" menganggapnya proses perjuangan.

Sebagai contoh, terorisme dalam arti luas yang terjadi pada abad-20 dan 21 antara lain:
- Gerakan antikolonialis (Indonesia-Belanda, Vietnam-Perancis, Algeria-Perancis, Irlandia-Inggris, Vietnam-AS)
- Permasalahan antarkelompok etnik, masalah keadilan dan wilayah (Palestina-Israel, Spanyol-Basque, India dan Pakistan)
- Konflik antaraliran keyakinan agama (Katholik-Protestan di Irlandia Utara) Islam radikal (Irak, Alqaeda, Taliban)
- Penyelesaian pertentangan radikal dalam satu masyarakat (Malaysia, Indonesia, Filipina, Iran, Iraq, Nikaragua, El Salvador, Argentina)

Kelompok revolusioner Baader-Meinhof di Jerman, kelompok Red Army di Jepang, Brigade Merah di Italia, Al Fatah, Hamas, Taliban dan Al Qaida, Zwickauer Neonazi Trio di Jerman, gerakan ekstrem kanan antiIslam Anders Behring Breivik di Norwegia, dan banyak lagi, adalah beberapa contoh terorisme radikal dan revolusioner yang memanfaatkan teknologi sebagai prasarana teror tercanggih di akhir abad 20 dan awal abad 21.

Pemanfaatan teknologi mutakhir dan canggih ternyata tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kehidupan suatu masyarakat, tetapi dapat pula disalahgunakan oleh teroris dan penjahat yang merugikan umat manusia!

Para teroris dan penjahat tersebut, di manapun mereka berada, dapat meningkatkan kerjasama regional dan internasional. Mereka menyalahgunakan globalisasi untuk mengembangkan jaringan organisasi kriminal dan teror internasional, yang merugikan kualitas ketenteraman, kualitas kesejahteraan dan kualitas hidup umat manusia (Alqaeda, IRA, Brigade Merah, dan lain-lain).

Untuk menghadapi semua ini butuh pendekatan, pemikiran dan strategi baru nan canggih, dengan memanfaatkan teknologi yang paling tepat dan berguna. Hanya dengan meningkatkan kerjasama internasional dalam memerangi kejahatan dan terorisme, kita dapat mengembangkan dunia yang lebih tenteram, lebih sejahtera dan lebih damai.

Diperlukan pemikiran dan peninjauan kembali bentuk dan konsep "pertahanan dan keamanan negara", baik menyangkut sistem maupun lembaganya. Kalau saat ini sistem pertahanan dan keamanan cenderung lebih diarahkan kepada skenario perang dan gangguan keamanan "klasik konvensional", apakah tidak perlu perhatian pada masalah ketenteraman ditambahkan?

Di samping itu, akibat ancaman makin kompleks, tidak jelas dan tidak nyatanya "musuh" yang dihadapi, maka diperlukan teknologi persenjataan dengan struktur dan platform baru yang disesuaikan dengan taktik, metode dan cara perang terorisme dan kejahatan pada tingkat nasional, regional dan global.

Kerjasama internasional dan regional sangat penting dilaksanakan, dengan prasyarat peningkatan ketahanan nasional sebagai andalan utama dalam menghadapi terorisme global yang beroperasi nasional. Indonesia tidak terkecuali.

Bangsa Indonesia adalah masyarakat pluralistik atau masyarakat bhineka yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya.

Mengembangkan SDM

Kebhinekaan dapat disalahgunakan menjadi suatu "ketidakcocokan" atau uncompatbility antara golongan, suku dan etnik. Keadaan demikian dapat bersinergi dengan gerakan sejenis di mancanegara melalui jaringan internasional dan regional.

Kelompok ekstrem dan radikal dapat menyalahgunakan "ketidakcocokan" menjadi terorisme dengan memanfaatkan segala prasarana teror untuk menyukseskan pelaksanaan program atau ideologi kelompok kecil melalui destabilisasi pemerintah yang sah dan mengganggu ketentraman masyarakat luas.

Namun sebaliknya, jika "kebinekaan" dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kerjasama atau sinergi positif antara golongan, suku dan etnik, maka produktivitas dan daya saing masyarakat dapat ditingkatkan. Hal itu telah terbukti pada masyarakat Amerika Serikat sejak awal berdirinya negeri ini dan pada masyarakat Jerman sejak 50 tahun lalu.

Kelompok radikal "kanan" di Indonesia telah beberapa kali berusaha memanfaatkan terorisme untuk memperjuangkan cita-cita yang secara damai tidak dapat mereka capai. Pemboman di Hotel JW Marriot, Jakarta, pada 2003 dan di Bali pada 2005 adalah contoh kerjasama teroris regional Hambali alias Riduan Isamuddin dengan teroris nasional.

Karena kegagalan hegemoni kiri dunia, maka kekuatan teroris "radikal ekstrem kiri" tak dapat diandalkan lagi oleh kelompok "radikal ekstrem kiri" di mana saja mereka beroperasi secara nasional, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, hanya kelompok radikal ekstrem kanan atau kelompok radikal etnik saja yang kini dapat menyalahgunakan kebebasan pemanfaatan teknologi canggih untuk tindakan teror mereka.

Terorisme adalah akibat tindakan manusia yang lewat kekerasan hendak memaksakan kehendak secara radikal.  Kualitas hidup, sikap dan produktivitas sumberdaya manusialah yang akhirnya sangat menentukan, sementara kualitas pendidikan, pembudayaan dan lapangan kerja adalah prasarana "antiterorisme" yang paling andal.

Pesantren dan para kyai dapat sangat membantu upaya pencegahan terorisme dengan cara meningkatkan iman dan taqwa (imtaq) umat melalui sistem pembudayaan yang menonjolkan "cinta" dalam arti yang luas.

Cinta dalam arti luas berarti cinta antardua manusia, antarsesama manusia, antarmanusia dan lingkungannya dan cinta manusia kepada tugas, karya dan ketrampilannya melalui penguasaan Iptek.

Bukankah Allah SWT yang menciptakan seluruh alam semesta, termasuk semua kehidupan di dalamnya? Apakah mungkin Allah SWT membenci karya dan ciptaan-Nya sendiri?

Dari kedua pertanyaan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mengembangkan SDM secara sempurna dan sistematik dapat mencegah berkembangnya terorisme di mana saja, sepanjang masa.

Harapan saya, para ulama pesantren dapat memberi saran dan masukan mengenai bagaimana "pembudayaan dan pendidikan" harus dikembangkan dan dilaksanakan di pesantren. Insya Allah.

(*) Mantan Presiden RI

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga