Senin, 22 September 2014

Pemerintah diminta tinjau royalti batubara

Sabtu, 24 Maret 2012 14:24 WIB | 3.913 Views
Pemerintah diminta tinjau royalti batubara
Sejumlah pekerja melakukan aktivitas penambangan pada salah satu perusahaan tambang batubara.(FOTO ANTARA/Kasriadi)
Pontianak (ANTARA News) - Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria meminta pemerintah untuk meninjau kembali besaran royalti barubara agar bisa mendongkrak APBN sehingga tidak perlu mengambil kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi.

"Batubara harusnya diperlakukan sama dengan migas. Harus dibuat sistem bagi hasil sebagaimana migas, sehingga bagian negara harus lebih besar dari penambangnya," kata Sofyano Zakaria saat dihubungi dari Pontianak, Sabtu.

Tetapi pemerintah sepertinya menutup mata dan telinga soal batubara.

"Karena banyak pejabat pemerintah dan politisi di negeri ini yang punya bisnis batubara. Karena itu mereka tidak mau royalti dan bagi hasil batubara dikutak-katik, sehingga nyaris tak terdengar politisi menyorot soal royalti dan bagi hasil batubara," ujar Sofyano.

Dalam kesempatan itu, Direktur Puskepi menyatakan, jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bingung mencari solusi agar APBN tidak defisit, hrusnya mengkaji dan menerapkan kebijakan yang telah diambil pemerintah selama ini terhadap batubara.

Karena menurut UUD, batubara merupakan hasil dari bumi dan dikuasai oleh negara untuk kepentingan dan sebesar besarnya bagi bangsa ini. Tetapi nyatanya pemerintah tidak jelas terbukti memaksimalkan pendapatan negara dari royalti batubara, kata Sofyano.

"Para pembantu SBY terkesan hanya mengandalkan kenaikan harga BBM untuk solusi jebolnya APBN. Solusi mereka seperti menawarkan `madu` kepada SBY tetapi sesungguhnya itu adalah `racun`," ungkapnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Fraksi PDIP yang sekaligus Anggota Komisi VII DPR RI Dewi Aryani dalam keterangan tertulisnya yang diterima ANTARA menyatakan, guna mendongkrak APBN pemerintah hendaknya menaikkan cukai rokok sebesar 100 persen sehingga bisa menyumbang Rp146 triliun per tahun dan uang tersebut bisa digunakan untuk mensubsidi BBM dan subsidi lainnya untuk rakyat.

"Sudah banyak sekali digulirkan ide-ide mulai dari pakar ekonomi, kebijakan publik termasuk politisi dalam menambah pemasukan negara, cukai rokok harusnya bisa juga menjadi alternatif solusi," katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah menargetkan pendapatan dari cukai rokok untuk tahun 2012 sebesar Rp73 triliun, jika dinaikkan sebesar 100 persen, maka negara akan mendapat tambahan pemasukan sekitar Rp146 triliun per tahun sehingga bisa dialihkan untuk mensubsidi BBM.

Menurut Dewi, bagi pencandu rokok, cukai rokok dinaikan hingga 300 persen pun, mereka akan tetap membeli rokok. Paling mereka akan mengurangi pembelian rokok dan ini malah menguntungkan pemerintah dan masyarakat karena kesehatan akan lebih terjamin.

"Pemerintah sebenarnya banyak memiliki peluang untuk menambah pemasukan negara. Hanya saja diperlukan kearifan berpikir dengan nurani sehingga semuanya dipertimbangkan berdasarkan kepada kepentingan rakyat banyak, jangan malah merugikan," ujarnya.

Ia mencontohkan, di Singapura misalnya, harga sebungkus rokok Sampoena buatan Indonesia dijual seharga Rp80 ribu/bungkus, Sementara di Indonesia cuma seharga Rp12 ribu/bungkus. Tetapi meskipun mahal tetap saja orang membeli rokok tersebut karena ia tak bisa hidup tanpa rokok dan dampak dari kenaikan harag rokok tidak mempengaruhi harga kebutuhan pokok.

Dalam kesempatan itu, Dewi menyatakan, pada sektor energi pemerintah hendaknya mulai punya nyali untuk mempertimbangkan lagi menaikkan royalty sektor migas dan pertambangan, terutama yang kelas besar dan raksasa.

Khusus mineral harusnya pemerintah segera membangun "smelter" dan digunakan untuk menampung dan memproduksi sehingga Indonesia memiliki berbagai industri strategis yang tidak hanya mandiri memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga dapat menambah pemasukan negara jika dapat di komersialisasi dengan baik melalui kegiatan ekspor.
(A057)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga