Minggu, 24 Agustus 2014

Pesan Paskah: singkirikan sekat perbedaan

Sabtu, 7 April 2012 23:46 WIB | 1.467 Views
Kupang (ANTARA News) - Romo Florence Maxi Un Bria, Sabtu malam, memimpin misa malam Paskah di Kapel Yesus Maria Yosef (YMY) Liliba dan menyampaikan pesan kepada umat Katolik setempat untuk menyingkirkan perbedaan dalam membangun kebersamaan.

"Jika masih ada perbedaan pandangan atau apapun namanya masih melekat dalam diri setiap kita, sekecil apapun persoalan yang dihadapi akan sulit untuk diatasi," kata Pastor Paroki St Yoseph Pekerja Penfui Kupang itu ketika menguraikan kehebatan sekelompok wanita yang mampu menyingkirkan batu besar untuk melihat kubur Yesus yang sudah bangkit dari kematian.

Misa malam Paskah di kapel kecil itu dihadiri ribuan umat Katolik untuk mengenang kebangkitan Yesus Kristus menjelang Paskah yang jatuh pada Minggu (8/4).

Susana serupa dapat dilihat pula di gereja-gereja Katolik di wilayah Kota Kupang, seperti Sta Maria Assumpta Kota Baru, Katedral Kristus Raja Kupang, St Yosep Naikoten dan beberapa gereja lainnya.

Romo Stefanus Mau ketika memimpin misa malam Paskah di Gereja St Yoseph Pekerja Penfui mengajak umat Katolik untuk tetap meneguhkan harapannya dengan peringatan kebangkitan Yesus Kristus dalam perayaan Paskah.

"Malam Paskah merupakan malam penuh harapan bagi umat Katolik sejagad. Peristiwa kematian Yesus Kristus pada kayu salib bukan merupakan akhir seluruh rangkaian hidup manusia yang percaya kepada Allah, karena kehidupan orang beriman, kematian hanyalah jalan untuk mendapatkan sebuah hidup baru yang abadi," katanya.

Paskah dan kebangkitan Yesus yang diyakini sebagai Putra Allah yang hidup, dilambangkan sebagai sebuah cahaya yang mampu mengatasi segala kegelapan yang ada di sekitar hidup manusia.

"Kegelapan harus dapat dikalahkan dengan cahaya kemenangan yang dahsyat, untuk sebuah kebangkitan yang kekal," kata Romo Stef.

Paskah membawa sejumlah perubahan dengan cahaya yang abadi. "Habis gelap terbitlah terang abadi di malam Paskah," kata Romo Stef.

Dalam perayaan Paskah, diyakini umat Katolik sebagai sebuah kebangkitan Kristus, yang mampu memberikan makna yang lebih abadi bagi tuhan dan terutama bagi sesama.

"Perjalanan menuju Kebangkitan Kristus hanya dilalui dengan kasih yang setian, karena itulah umat Allahpun diajarkan untuk memberikan kasih dan cintanya kepada sesamanya," ajak Romo Stef yang juga Kepala SMA Katolik Giovanni Kupang itu.

Dalam liturgi gereja, hari Sabtu biasa disebut "Sabtu Alleluia, Sabtu Suci atau Vigili Paskah" atau berjaga-jaga, siap-siap bersama Yesus Kristus yang beralih dari kematian menuju kebangkitan.

Berdasarkan penghayatan iman Kristiani, peringatan akan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, telah dimulai pada upacara liturgi Malam Paskah.

Pada abad ke-2, peringatan sengsara maupun kebangkitan Kristus dirayakan atas cara yang sederhana. Menurut penghayatan Gereja pada waktu itu, pada Malam Paskah, Yesus melewati pintu gerbang kematian menuju kehidupan.

Di zaman sekarang, umat memadati gereja untuk merayakan malam kebangkitan Kristus tersebut dengan tidak meninggalkan liturgi sabda yang sudah menjadi tradisi gereja.
(T.L003/Z002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga