Minggu, 26 Oktober 2014

Balada seorang reporter

| 1.315 Views
id resensi buku, reporter, dunia wartawan, wartawan
Bandung (ANTARA News) - Tersebutlah seorang reporter televisi bernama Tari.  Dia menghadapi dilema: melanjutkan karir demi cita-cita menjadi pembaca berita atau pindah kerja demi gaji besar supaya cepat melunasi utang.

Tari, dalam novel "23 Episentrum" karya Adenita, terbitan Grasindo, Maret 2012, adalah reporter baru bergaji Rp2,5 juta sebulan, gaji yang sebenarnya besar jika dibandingkan rata-rata reporter baru di media massa lain.

Dengan gaji sebesar itu, Tari merasa pekerjaan tersebut hanya memberikan kesenangan bagi dirinya, tapi tidak untuk target-targetnya sebagai lulusan baru sebuah perguruan tinggi terkemuka.

Kebutuhan akan gaji besar itu makin membebani ketika tiga kawannya yang pernah mengutangi Tari untuk menyelesaikan kuliah, menagih.  Total tagihan sebesar Rp8 juta itu datang ketika dia baru delapan bulan menjadi reporter.

Itu baru sebagian kecil utang Tari.

"Memang bukan angka yang fantastis bagi sebagian orang, tapi bagi dirinya yang kala itu tak tahu harus mencari sumber dari mana lagi, angka itu sungguh membuatnya pusing bukan main," demikian novel itu.

Pindahkah Tari dari televisi itu ketika lamarannya di perusahaan lain diterima? Di sana dia bakal mendapat gaji tiga kali lipat dari gajinya sebagai reporter.

Lewat Tari, Adenita, yang juga mantan pekerja berita televisi, membuat cerita tentang balada seorang reporter.

Paparannya yang rinci dan tidak tergesa-gesa, membuat dia membenarkan satu ungkapan bahwa pekerjaan wartawan pada umumnya memang menyenangkan tapi tidak mensejahterakan.

Kekurangan materi sang wartawan itu langsung dibandingkan dengan sahabatnya yang pegawai bank dan seorang lagi yang pekerja sebuah perusahaan pengeboran minyak.

Wartawan boleh saja makan siang dan berbincang dengan pejabat tinggi atau artis papan atas sambil makan siang di sebuah hotel berbintang.  Tapi setelah itu dia harus kembali ke kantor dengan kendaraan umum yang pengap dan padat atau naik ojek untuk mempercepat perjalanan.

Adegan Tari menumpang Metromini terekam baik dalam novel ini.

Pengalaman Adenita membuat pemaparannya soal Tari begitu rinci, mulai keakraban dan keriangan awak media, beban pekerjaan yang begitu tinggi, hingga beragam istilah yang dipakai awak televisi saat siaran berita.

Pun ketika dia memaparkan ketegangan saat Tari ketiban berita melalui hidung kewartawanannya yang mengendus berita besar soal penampilan mantan presiden yang sudah dua tahun tidak muncul di hadapan umum.

Berita dan gambar yang dibuat reporter itu meledak. Berita dan gambar tentang sang mantan presiden yang lemah karena sakit itu membuat untung perusahaannya. Tapi tidak buat sang reporter.

Adenita berhasil menggambarkan betapa pekerjaan kewartawanan begitu kuat mencengkeram orang yang terjerumus di dalamnya, teracuni oleh warna-warni yang terus berubah setiap hari dalam pekerjaannya, dan membuat tekanan waktu tenggat melupakan sejenak kewajiban memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Kebahagian di luar uang

Menikmati Tari, pembaca akan mendapat informasi banyak mengenai kehidupan wartawan televisi, profesi yang kini menjadi incaran anak muda.

Perjalanan cerita tentang Tari yang agaknya ditarik dari pengalaman sang penulis terlihat jauh lebih kuat ketimbang cerita tentang dua tokoh utama lain di novel ini.

Cerita tentang Awan, pekerja bank yang ingin jadi tukang cerita, dan Prama, sahabat Awan yang kaya raya karena bekerja di pengeboran minyak perusahaan asing, tidak lebih rinci.

Bahkan, ketika cerita masuk ke dunia pekerjaan Prama, ada dialog dan penggambaran yang kaku walau tak mengganggu kenikmatan mengikuti dialog soal persahabatan, pencarian kebahagiaan, dan semangat berbagi tanpa uang.

Banyak juga dialog antara Tari, Awan, dan Prama yang "terlalu pintar", "terlalu bijak", dan "terlalu mengerti hidup" bagi orang seumuran mereka. 

Boleh jadi ini disadari  penulisnya sehingga ada kalimat berbunyi: "Eh, tumben lu pintar....," atau "Macam betul aja omongan kau....," atau "Cieee... tumben omongan lo bener."

Boleh jadi juga, sang penulis novel ini, dalam usianya yang belum bisa disebut tua, sudah belajar begitu banyak mengenai hidup.  Bisa saja ketika bertemu dengan begitu banyak sumber berita ketika bekerja, dia juga mempelajari hidup, terutama soal uang dan kebahagiaan.

Yang pasti, dia belajar khusus dari 23 orang dari beragam pekerjaan, yang profilnya dia tulis menjadi buku. Buku tentang 23 orang itu menjadi sisipan buku "23 Episentrum".

Mengenai uang dan kebahagiaan itu, ada dialog panjang yang mengharukan antara Awan dengan ibunya.  Dialog soal keinginan Awan meninggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar dengan gaji menjanjikan dan sang ibu yang tak mengerti akan keinginan anaknya pindah haluan menjadi penulis cerita film, sebuah pekerjaan yang tak menjanjikan.

Juga dialog panjang dengan penjual sarung yang membangkitkan kesadaran Prama bahwa ada orang yang bisa riang walau pendapatan tahunannya jauh di bawah gajinya sebulan.  Ada kebahagiaan di luar uang; sesuatu yang rupanya dicari pemuda tajir itu.

Dialog masalah berat, yang dalam sebuah lagu Iwan Fals disebut "karang yang kerap ganggu tidurmu", dalam novel ini berjalan apik dan tak melelahkan.

"Aku ingin sukses dan bahagia."  Inilah kalimat yang menjadi ruh novel ini. 

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga