Kamis, 28 Agustus 2014

PM Inggris dan pemimpin Myanmar bahas demokrasi

Sabtu, 14 April 2012 02:04 WIB | 1.009 Views
PM Inggris dan pemimpin Myanmar bahas demokrasi
David Cameron (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)
Naypyidaw (ANTARA News) - Perdana Menteri Inggris David Cameron bertemu dengan presiden Myanmar Thein Sen, Jumat untuk kunjungan pertama dalam puluhan tahun oleh seorang pemimpin Barat ke negara itu, membicarakan antara lain demokrasi dan hak asasi manusia.

Mantan Jenderal Thein Sein memuji pertemuan itu sebagai "bersejarah" ketika ia menyambut Cameron di kediaman resminya di ibu kota Naypyidaw.

"Kami sangat gembira dan lega dengan pengakuan anda atas usaha-usaha Myanmar untuk meningkatkan demokrasi dan hak asasi manusia," katanya kepada Cameron.

Perdana menteri Inggris itu juga akan bertemu dengan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi di Yangon dalam lawatan seharinya, yang dilakukan setelah berakhirnya pemerintah militer hampir setengah abad tahun lalu.

Inggris-- bekas penguasa kolonial Myamar -- secara tradisi melakukan sikap garis keras menyangkut sanksi-sanksi karena pelanggaran hak asasi manusia, tetapi belum lama ini sikapya menunjukkan tanda-tanda melunak.

"Pemerintah sekarang mengatakan pihaknya berjanji akan melakukan reformasi, yang telah mulai dilaksanakan, dan saya kira adalah tepat untuk mendukung langkah-langkah ini," kata Cameron segera setelah tiba di Naypyidaw, kata stasiun televis BBC.

Cameron, yang disambut di bandara oleh para pejabat senior dan pasukan kehormatan, memuji Suu Kyi sebagai "satu contoh pencerahan bagi rakyat yang menginginkan kebebasan, demokrasi dan kemajuan".

Satu arus pejabat penting asing termasuk Menlu AS Hillary Clinton mengunjungi Myanmar sejak pemerintah baru berkuasa tahun lalu.

Tetapi Cameron adalah kepala pemerintah Barat pertama mengunjungi Myamar sejak militer berkuasa tahun 1962, yang memerintah hampir setengah abad pemerintah junta dan pengucilan dari Barat.

Ia diperkirakan merupakan perdana menteri Inggris pertama mengunjungi Myanmar, yang memperoleh kemerdekaan tahun 1948.

Setelah perundingan itu, Cameron menurut rencana menghadiri jamuan makan dengan Thein Sen sebelum ke bekas ibu kota Yangon untuk berembuk dengan Suu Kyi. Pemimpin oposisi itu memiliki pengaruh besar di Amerikan Serikat dan Eropa terutama Inggris, setiap tindakan menyangkut sanksi-sanksi hampir dipastikan memerlukan dukungan dia.

Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara telah mencabut beberapa sanksi terhadap rezim itu tahun ini dan para menlu asing memutuskan tidakan-tindakan apabila mereka berunding 23 April.

Jika Myanmar dapat meyakinkan Cameron bahwa reformasi akan dilanjutkan, EU mungkin menyetujui "pencabutan sanksi-sanksi penting," kata Derek Tonkin, mantan dubes Inggris untuk Thailand dan seorang pendukung pendekatan dengan Naypydaw.

Cameron disertai oleh satu kelompok pemimpin perusahaan Inggris tetapi karena sanksi-sanksi itu mereka diperkirakan tidak akan membicarakan kegiatan berkaitan dengan bisnis, demikian AFP.
(Uu.H-RN/B002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga