Jakarta (ANTARA News) - Wirausahawan Indonesia harus dapat mengambil kesempatan kapitalisasi dari melonjaknya kelas menengah hingga tahun 2030, yang sebagian besar akan terjadi di Asia.

"Antara saat ini dan 2030, jumlah orang-orang kelas menengah secara global akan tumbuh dari 1,8 miliar orang menjadi 4,9 miliar. Berarti terdapat sekitar 3 miliar orang di dunia akan memasuki kelas menengah pada 2030," kata CEO Ernst & Young Indonesia, Giuseppe Nicolosi, dalam paparan riset ekonomi bertajuk "Innovating for The Next Three Billion," yang digelar di Jakarta, Senin.

Menurut Giuseppe Nicolosi, kalangan warga yang dapat dikategorikan sebagai golongan kelas menengah adalah mereka yang memiliki kekuatan konsumsi atau pengeluaran sehari-hari antara 10 - 100 dolar AS per hari.

Dia menyarankan perusahaan harus menjalankan konsep "frugal innovation" yaitu dengan menjalankan konsep riset dan penciptaan produk terhadap kelas menengah ke bawah.

Ia mencontohkan, hal tersebut antara lain dilakukan oleh perusahaan asal India, Tata Chemical, yang telah menciptakan mesin pemurni air yang menargetkan pelanggan berpendapatan rendah dengan penciptaan mesin yang tidak memerlukan listrik untuk operasional sehingga harga bisa lebih murah.

Sementara contoh lainnya adalah perusahaan raksasa asal Amerika Serikat yang menciptakan mesin electrokardiogram (EKG) dengan tipe "handheld" yang biaya produksi atau pembuatannya lebih murah dibandingkan dengan mesin tradisional EKG.

"Kapitalisasi terhadap 3 miliar orang kelas menengah baru tidak bisa dilakukan secara langsung. Para perusahaan itu harus berpindah lebih dekat kepada target pasar untuk lebih dapat beradaptasi," katanya.
(M040)