Bandung (ANTARA News) - Pemerintah melakukan kampanye tentang manfaat dan jaminan keamanan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung, kepada masyarakat setempat.

Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta usai memberikan kuliah umum di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu, mengatakan saat ini Pulau Bangka dinilai sebagai lokasi paling tepat untuk membangun PLTN.

"Posisinya aman, di sana juga ada tambang uranium sebagai bahan baku, saat ini kami fokus untuk meneliti lokasi di Bangka," ujarnya.

Bangka, lanjut dia, juga strategis sebagai lokasi penyalur listrik karena dekat dengan Sumatera yang padat industri dan Jawa yang padat penduduk.

Lokasi Bangka karena itu jauh lebih menguntungkan dibanding Kalimantan yang meski dinilai aman dari bencana gempa namun terlalu jauh untuk menyalurkan listrik kepada industri dan perumahan.

Berdasarkan survei yang sudah dilakukan, menurut Gusti, dukungan masyarakat Bangka untuk pembangunan PLTN di pulau itu awalnya mencapai 55 persen.

"Tapi menurun sampai di bawah 50 persen setelah ada kejadian di PLTN Fukushima kemarin," ujarnya.

Idealnya, kata Gusti, dukungan masyarakat untuk pembangunan PLTN di Pulau Bangka lebih dari 55 persen.

Karena itu, ia mengatakan pemerintah masih berupaya melakukan kampanye tentang pentingnya pembangunan PLTN guna menjamin ketersediaan energi nasional kepada masyarakat setempat.

Kampanye yang juga menjelaskan tentang aspek keselamatan dan lingkungan dari PLTN itu, lanjut dia, juga dilakukan ke sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas.

"Masyarakat yang masih takut ini yang harus diyakinkan melalui kampanye," katanya.

Secara jangka panjang, Gusti mengatakan, tenaga nuklir adalah cara yang paling murah dan memungkinkan bagi Indonesia untuk memiliki ketahanan energi.

"Cadangan minyak kita diperkirakan habis sekitar 12 sampai 14 tahun ke depan, gas kira-kira habis 40 tahun lagi. Batu bara memang masih banyak tapi kalau dibakar menghasilkan gas rumah kaca," tuturnya.

Sedangkan energi terbarukan dari bahan nabati, lanjut dia, kurang kompetitif untuk dipasarkan sebagai bahan bakar massal karena harga keekonomiannya masih di atas harga bahan bakar fosil.

"Jadi sebenarnya alternatif untuk menghasilkan energi secara masif dan murah untuk jangka panjang itu adalah nuklir," katanya.

Gusti meyakini Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun PLTN karena memiliki tenaga ahli di Badan Atom Nasional (BATAN) yang selama ini kerap diminta oleh badan atom internasional untuk menjadi peneliti di lembaga tersebut.

Apabila berjalan mulus, Gusti mengatakan pemerintah pada 2016 berencana untuk memulai pembangunan PLTN di Pulau Bangka.

(D013)