Kamis, 18 Desember 2014

Kesenian tradional Indonesia tampil di Fujian

| 2.065 Views
id batik, malam kesenian indonesia di fujian, indonesia-china
Kesenian tradional Indonesia tampil di Fujian
ilustrasi Sejumlah artis dan penyanyi seperti Denny Malik, Meychan, Tata Dado, Maia Ahmad,Indra Bekti memperagakan busana modifikasi batik dan sarung. (FOTO ANTARA/Teresia May)
Beijing (ANTARA News) - Beberapa ragam kesenian tradisional Indonesia tampil memeriahkan "Malam Indonesia" di Minqing Convention Center, Minqing, Provinsi Fujian, Sabtu malam.

Acara "Malam Indonesia" menampilkan tari Bali kreasi baru, tari Saman, tari kreasi baru dengan judul "Batikku" yang ditampilkan lima penari perempuan bersama dua raksasa berkostum batik diiringi lagu "Suwe Ora Jamu".

Selain tarian, "Malam Indonesia" juga dimeriahkan penampilan Trio Batak yang menyanyikan lagu Sing Sing So, Butet, dan satu lagu Mandari "Tian Mimi".

Saat Trio Batak menyanyikan lagu "Alusio" Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia Imron Cotan didaulat untuk turut berdendang.

Sementara pihak China menampilkan tarian bertema kehidupan pedesaan, beserta pertunjukkan 200 alat musik tradisional, serta tarian anak-anak kreasi baru.

Pertunjukan seni dan budaya Indonesia-China dalam "Malam Indonesia" ditutup dengan penampilan angklung interaktif dengan lagu "Ayo Mama".

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Jenderal Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi Fujian , Direktur Promosi Konvensi, Insentif, Event, dan Minat Khusus, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Rizki Handayani Mustafa dan Ketua Perhimpunan Indonesia Tiongkok (INTI) Ted Sioeng.

Dubes RI untuk China dan Mongolia Imron Cotan mengatakan jauh sebelum Republik Indonesia dan China menjalin hubungan diplomatik, bangsa Indonesia dan bangsa China telah menjalin kerja sama dan persahabatan.

"Hal tersebut terlihat dari banyaknya peninggalan sejarah dan budaya Indonesia yang dipengaruhi oleh kebudayaan Tiongkok, seperti Kuil Sam Po Kong peninggalan Laksamana Zheng He, dan sebaliknya banyak dokumen sejarah Tiongkok yang menyinggung mengenai bangsa Indonesia, khususnya kerajaan Sriwijaya," katanya.

Dubes Imron mengemukakan di bidang pariwisata, data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukan wisatawan China yang melakukan kunjungan ke Indonesia pada 2011 mencapai 770.000 orang, atau naik 17.3 persen dibanding 2010, yakni 660.000 orang.

"Meningkatnya `people-to-people contact`(hubungan antarwarga, red) dalam kunjungan wisata, selain membuka berbagai peluang kerja sama antara Indonesia dengan Tiongkok, juga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat kedua negara terhadap satu sama lain," ujarnya.

Imron menambahkan,"Oleh sebab itu, saya merasa sangat gembira bahwa malam ini kita dapat bersama-sama menyaksikan pagelaran seni dan budaya Indonesia dan Tiongkok, yang merupakan hasil kerja sama tim kesenian kedua negara. Kerja sama ini bukan hanya sebuah pertunjukan musik dan tari lintas budaya, namun juga perwujudan eratnya keterikatan sejarah dan persaudaraan masyarakat di kedua negara,".

Sementara Ketua Perhimpunan Indonesia Tiongkok (INTI) Ted Sioeng mengatakan Indonesia dan China merupakan dua negara bersahabat.

"Tamu Indonesia dibawa ke Minqing dapat membawa kesejahteraan untuk rmasyarakat Minqing, dan masyarakat Minqing diundang untuk berkunjung ke Indonesia sebagai wisatawan," katanya.
(T.R018/A011)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga