Sabtu, 2 Agustus 2014

Air mata taubat Sang Jagoan

Rabu, 25 April 2012 09:27 WIB | 1.383 Views
Air mata taubat Sang Jagoan
(ANTARA/Fanny Octavianus)
Jakarta (ANTARA News) - Wajahnya tertunduk, terdiam di tengah tatapan ratusan pasang mata. Tak tahan, air mata akhirnya menetes dari pipi Miftahul Jannah.

"Coba pandang wajah ibu, minta maaf pada ibu," kata Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan suara lembut kepada Miftahul.

Lalu, terisak dan dengan suara parau, Miftahul Jannah meminta maaf kepada Darniah. Dia ulurkan tangannya, dan sang ibu menariknya dalam pelukan.

"Jangan ulangi lagi ya nak...," isak Darniah. Ial terus memeluk erat tubuh putra pertamanya itu.

Kejadian serupa berulang ketika Asep, pelajar SMK Putra Negara, diminta memohon maaf kepada sang ibu, Aam.

"Betapa sayang ibu kepada Asep. Sebenarnya orang tua sangat sayang, jadi sudah jangan berbuat yang aneh-aneh dan macam-macam," ujar M Nuh di hadapan Asep dan Aam.

M Nuh, masih dengan suara kebapakan dan penuh kasih sayang, meminta Asep tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

"Sudah taubat, ini yang terakhir. Asep kasihan adik-adik di rumah menunggu," ucap M Nuh kepada anak pertama dari dua bersaudara asal Jonggol, Bogor, itu.

Nuh mengingatkan bahwa mereka jangan merepotkan orangtua dengan tawuran, apalagi orangtua mereka hidup sederhana sekali.

Orang tua Asep hanyalah buruh, sementara ayah si Miftahul hanya pedagang kecil-kecilan yang harus menghidupi tiga anak sekaligus.

Isak tangis meliputi Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, saat Mendikbud M Nuh memberi pengarahan kepada 75 pelajar setingkat SMA/SMK yang digelandang polisi karena diduga akan tawuran, selain juga karena membawa senjata tajam.

Miftahul dan Asep, serta puluhan pelajar lainnya, berkumpul bersama orangtua dan guru mereka, guna mendengar arahan sang menteri itu.

Satu per satu pelajar yang ditahan di sejumlah polsek itu diminta memohon maaf kepada orangtuanya. Saat itulah tangisan memecah balai pertemuan tersebut.

Senjata tajam

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto mengungkapkan polisi menahan 70-an pelajar setingkat SMA/SMK yang diduga melakukan kejahatan di beberapa lokasi usai tuntasnya Ujian Nasional Rabu (18/4).

Para pelajar itu berasal dari daerah Tangerang (Banten), Cengkareng (Jakarta Barat) dan Bekasi (Jawa Barat).

"Beberapa pelajar yang terbukti membawa senjata tajam tetap diproses (hukum)," ujar Rikwanto.

Senjata tajam yang disita adalah clurit berbagai ukuran, pedang, gir, dan gergaji pemecah es.

Mereka diancam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam.  Tapi, Rikwanto menandaskan polisi akan mempertimbangkan masa depan anak-anak muda itu.

"Sudahlah taubat, kejadian ini yang terakhir. Tawuran tidak membawa kebaikan dan prestasi apa-apa, kalian masih punya masa depan jadi sudah berhenti tawuran," kata M. Nuh.

Nuh mengaku sayang kepada para pelajar ini. Dia yakin remaja-remaja bertawuran itu hanya terpengaruh pergaulan dan ikut-ikutan karena mereka sebenarnya anak baik-baik.

"Saya terus terang terenyuh dan tergerak untuk bisa bertemu kalian dan bersilaturrahmi. Tawuran ini yang menjurus kriminal yang rugi bukan anak-anak sendiri tapi orang tua dan bangsa ini juga kasihan," tambahnya.

Untuk mencegah pelajar adu jotos, Mendikbud meminta keluarga lebih memperhatikan anak-anaknya, begitu juga sekolah.

Tak cukup hanya mengajari mereka ilmu tapi berilah mereka sentuhan dan ajak dialog dari hati ke hati, terutama untuk siswa yang cenderung berbuat nakal.

Lalu, masyarakat dan semua pihak bersama-sama menjaga siswa tidak terjebak dalam pergaulan yang tidak baik.

Semoga air mata yang mengalir di wajah-wajah belia itu benar-benar air mata taubat.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Terpopuler
Baca Juga