Minggu, 21 Desember 2014

"Pecut Jati" menyeruak dari Bukit Dagi. Hidup nurani!

| 1.087 Views
id pecut jati, bukit dagi, hidup nurani
Azan Maghrib seakan bersahut-sahutan dari berbagai surau dan masjid di kawasan Candi Borobudur. Hari mulai masuk temaram petang, ketika belasan seniman setempat di puncak Bukit Dagi memainkan performa gerak dan tembang dengan tajuk "Pecut Jati".

Deretan pepohonan pinus di bukit sebelah barat candi makin membentuk bayang-bayang siluet. Sesekali masih tampak ranting kecil pinus dan dedaunan keringnya berjatuhan menyentuh tanah berumput hijau.

Lampu penyorot Candi Borobudur dari sudut barat daya dan timur laut bangunan itu tampak menyala, seiring gemerlap cahaya listrik muncul dari rumah-rumah warga di desa-desa dan jalan-jalan kawasan warisan peradaban dunia itu.

Pegunungan Menoreh yang dibelakangi bangunan megah peninggalan Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 itu pun menampakkan lekukan-lekukan garis hitam puncaknya dengan langit putih pertanda mendung tak begitu tebal.

Seorang lelaki yang warga setempat turun dari satu pohon kelapa dengan peluh mengucur di wajah. Dua bumbung dari bambu penuh berisi nira tergantung di pinggangnya.

Ia selesai mengambil nira, bahan baku untuk membuat gula Jawa, ketika petang itu menjemputnya. Kakinya kemudian melangkah menuruni jalan setapak Bukit Dagi, mengantarnya kembali ke rumah di sekitar candi.

Lantunan azan seakan tak boleh berkesudahan karena disusul syair "Tafakur Borobudur" dibacakan penciptanya, Es Wibowo, dari satu tebing bukit yang konon, pada masa lalu, menjadi makam leluhur masyarakat Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Dengan paritta tidak padam bara api, suara azan tak mengubur kecemasan, aku badar dari meditasi, beringsut dan melepas mudra bhumisparsa, sabda langit yang mengusik dewa bumi, dan bersaksi untuk dunia, atas perlawananku pada iblis Mara," demikian satu dari empat bait puisi itu dibacakan Es Wibowo yang petang tersebut mengenakan kain lurik dengan penutup kepala, iket, dalam performa tersebut.

Candi Borobudur telah ditinggalkan wisatawan karena waktu kunjungan mereka telah habis, ketika jarum jam menunjuk sekitar 30 menit menuju pukul 18.00 WIB.

Suara lecutan dari cemeti yang dimainkan seniman Padepokan Redi Tengis Magelang Ardhi Gunawan seolah membelah suasana, penanda pergantian siang terang menuju gelap malam dari Bukit Dagi. Dari tempat itu, ketinggian Bukit Dagi terasa hampir sama dengan Candi Borobudur.

Seniman dari Gunung Merapi Agus Suyitno yang mengenakan kain putih bertuliskan huruf-huruf rajah memainkan performa gerak dengan kedua tangan masing-masing menggenggam puluhan dupa. Pucuk-pucuk dupa menyalakan bara yang merambat dengan asapnya menebar wewangian yang khas.

Seorang seniman yang juga pemimpin satu komunitas Borobudur "Warung Info Jagad Cleguk" Sucoro menaburkan bunga mawar warna merah putih di atas bentangan kain warna hitam dan merah di atas rerumputan Bukit Dagi.

Tempat mereka berperforma dengan beralas rumput hijau di bukit itu berinstalasi antara lain nyala puluhan lilin dan dupa membentuk setengah lingkaran, serta tebaran beberapa batang manggar kering dan sejumlah belahan batok kelapa.

Seniman yang juga anggota grup musik tradisional "Pitutur Sekar Sari" Desa Ringin Putih, Kecamatan Borobudur Dahlan (50) yang mengenakan pakaian Jawa dengan surjan warna biru dan belangkon, duduk bersila mulai melantunkan tembang Jawa "Dandang Gula". Tembang berlaras slendro itu pun persis mengiring pembacaan empat bait puisi "Tafakur Borobudur".

"`Eling-eling prakadang den eling, urip ira ing donya tan lama, bebasan mung mampir ngombe, linecep mulya wangsul, myang asale ini, begja kang wus pana, pana sangkan paranipun, dedalan kang den ambah, mrih rahayu prapteng ndon kang sejati, sejatining kasedan`," demikian tembang Jawa itu yang kira-kira maknanya mengingatkan asal muasal kehidupan manusia.

Belasan seniman lainnya dari grup itu yang masing-masing mengenakan kain Jawa motif lurik dan berbelangkon mengiring dengan tetabuhan musik tradisional "pitutur" antara lain kendang, gong kulit, terbang, dan keprak.

Performa "Pecut Jati" tak lepas dari rangkaian kegiatan kebudayaan bertajuk "Srawung Seni Segara Gunung" di kawasan Candi Borobudur, 20-29 April 2012, dengan peserta antara lain para seniman berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.

"Melalui performa ini kami ingin merasakan penghayatan atas kehidupan. Terutama kehidupan secara personal agar makin memiliki kegunaan untuk kehidupan bersama di tengah masyarakat dengan berbagai tantangan," kata Sucoro.

Kehidupan masyarakat sehari-hari dengan berbagai hirup pikuk, dinamika, persoalan, dan solusinya, katanya, selalu menjadikan setiap orang perlu membangun perenungan agar tidak lepas dari suara nurani.

Ardhi Gunawan yang juga penggagas performa itu menjelaskan, performa "Pecut Jati" simbol terhadap pentingnya hidup manusia dilakoni dan didorong dari kesejatian nurani.

"Maka selalu saja kembali kepada Yang Ilahi. Dari sanalah hati nurani bersuara, bagaikan melecutkan langkah manusia kepada kebaikan dan selalu mencari kebaikan untuk titian hidup," katanya.

Dari puncak Bukit Dagi di kawasan Candi Borobudur itu, performa seni mereka seakan melecutkan seruan agar perjalanan hidup manusia selalu berangkat dari suara hati.

Dan saat hari sudah beranjak gelap di Bukit Dagi, tembang Jawa "Kinanti" yang dilantunkan Dahlan pada akhir performa "Pecut Jati" itu, seakan mengajak manusia merefleksikan tentang hidup di bawah naungan Sang Penguasa Hidup.

"`Amiwiti niat ingsun anyebut asmaning Gusti, kang paring murah ing donya, ing akherat paring asih, angganjar ingkang katrima, pra kang dosa pinisakit`," demikian syair tembang penyerta musik tradisional "pitutur" mereka.  (M029/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca