Sabtu, 25 Oktober 2014

Buruh + pendidikan = Kebangkitan Nasional

| 3.969 Views
id ketua apkasi, hari buruh
Buruh + pendidikan = Kebangkitan Nasional
Ir.H.Isran Noor, MSi (APKASI)
Jakarta (ANTARA News) - Buruh itu adalah pahlawan, baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarga dan negaranya. Sehari saja buruh mogok, perekonomian bisa bangkrut.

Tidak ada alat produksi yang bekerja dan tidak ada layanan antar hubungan ekonomi, berarti dunia berhenti dalam satu hari.

Buruh itu vital bagi pergerakan ekonomi. Pergerakan ekonomi vital bagi kehidupan masyarakat dalam bersosialisasi dan menjalani hidup.

Satu negeri disebut mati kalau tidak ada pergerakan ekonomi. Ketika ini terjadi, berbondong-bondonglah warga bermigrasi ke tempat lain yang ekonominya berputar.

Mengapa semua orang Indonesia ingin ke Jakarta? Karena di Jakarta ekonomi bergerak cepat

Pergerakan itu dimotori para buruh yang tanpa lelah memproduksi segala barang dan jasa yang dibutuhkan warga Jakarta.  Hal sama juga terjadi pada sentra-sentra ekonomi lain di setiap kota dan kabupaten.

Maka, sangatlah bijak kalau kita menaruh respek pada buruh. Mereka memiliki hari besar di setiap tanggal 1 Mei.

Tidak adil rasanya kalau tidak meliburkan mereka pada hari yang spesial  itu. Saya melakukannya di daerah saya, Kutai Timur. Tanggal 1 Mei, semua buruh di Kutai Timur libur.

Sebagai tanda terima kasih dan hormat, kami beri mereka hiburan di hari libur itu.

Fantastis

Setiap orang yang bekerja dan diupah dari pekerjaannya itu pada dasarnya adalah buruh. Yang bukan buruh adalah direksi karena mereka wakil atau perpanjangan tangan owner (pemilik perusahaan).

Namun buruh selalu diidentikkan dengan pekerja kasar dan berpendidikan rendah. Itu stempel umum buruh.

Ada strata gelar untuk sebutan, meskipun rancu tapi bisa dibedakan. Kalau buruh berarti pendidikan rendah, maka pekerja diartikan berpendidikan di atas buruh.

Di luar negeri, mereka di sebut TKI. Perannya tak tanggung-tanggung, sebagai pahlawan devisa.

Para TKI ini sedikitnya menyumbang devisa 4,37 miliar dolar AS atau Rp39,3 triliun per tahun (data tahun 2011) ke kas negara.

Jumlah yang fantastis. Hebatnya jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

Mei adalah bulan luar biasa. Pada 1 Mei kita merayakan Hari Buruh, lalu pada 2 Mei kita rayakan Hari Pendidikan. Kemudian  20 Mei kita rayakan Hari Kebangkitan Nasional.

Tiga hari besar di bulan Mei yang sangat bermakna.

Senjata

Buruh sebagai simbol dinamika pergerakan ekonomi. Maknanya luar biasa,  mereka bisa menentukan ekonomi bergerak atau tidak.

Negeri ini akan semakin produktif kalau buruh sejahtera. Di Indonesia, porsi upah buruh dibanding biaya produksi masih berkisar 20:80 (%). Sangat kecil bila dibanding rata-rata upah buruh dunia terhadap produksi berkisar 35 - 40 %.

Untuk mencapai angka sebesar itu membutuhkan banyak faktor, bukan semata melalui tekanan seperti demonstrasi.

Tentu untuk meningkatkan porsi upah buruh, kualitas buruh sendiri harus diperbaiki. Di sinilah butuh peran pendidikan.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar.  Seharusnya buruh yang ingin menempuh pendidikan diberi peluang dan kemudahan, karena pada dasarnya pilihan menjadi buruh disebabkan terbatasnya pendidikan yang dimiliki.

Di tanah air ada 46 juta buruh. Kalau 10 persennya saja berminat menyelesaikan pendidikan lebih tinggi sembari bekerja, itu artinya 4,6 juta jiwa buruh memiliki pendidikan lebih tinggi. Ini juga berarti
kualitas pendidikan yang dimiliki buruh meningkat.

Akan ada perubahan intelektual yang masif. Kemudian akan terjadi perubahan nasib karena mereka menjadi berpendidikan lebih baik.

Saya yakin makna hari pendidikan yang kita rayakan akan jauh lebih berarti.

Akibat sentuhan pendidikan itu mahadahsyat. Pendidikan itu indikator sekaligus simbol kecerdasan. Pendidikan juga layaknya senjata serba guna.

Spesial

Bagaimana kalau senjata itu kita berikan kepada buruh, kaum yang terhenti pendidikannya karena ketiadaan biaya.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, kita bisa saksikan perubahannya.

Kemudian, baru kita akan memperoleh makna selanjutnya, yakni Kebangkitan Nasional.

Dulu, kebangkitan nasional berangkat dari semangat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan serta nasionalisme yang ditularkan para pendiri bangsa seperti Boedi Oetomo, Ir. Soekarno, Dr. Ciptomangunkusumo, Dr.
Dowes Dekker, Ki Hajar Dewantoro, dan lain-lain.

Untuk memelihara semangat itu, sekali lagi peran pendidikan sebagai jembatan penghantar jauh lebih efektif.

Pendidikan sifatnya rutin, tidak seremonial. Berperan merangkai logika-logika berpikir positif dalammemahami beragam fenomena kehidupan. Tersimpan lama dalam memori otak manusia.

Begitu spesialnya bulan ini dengan tiga hari besar yang penuh makna, makanya saya terpanggil untuk memberikan komentar.

Tiga hari besar itu terangkai satu sama lain.  Kalau disatukan dapat menjadi buruh cerdas karena pendidikan memberi semangat kebangkitan nasional  yang semakin baik untuk nusa dan bangsa.

Mungkin ini kebetulan, tetapi benar adanya.

Selamat Hari Buruh. Selamat Hari Pendidikan. Kita songsong Hari Kebangkitan Nasional.

(*) Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga