Buruh + pendidikan = Kebangkitan Nasional
Kamis, 10 Mei 2012 10:44 WIB | 3258 Views
Pewarta: Ir. H. Isran Noor MSi
Ir.H.Isran Noor, MSi (APKASI)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Buruh itu adalah pahlawan, baik bagi diri
sendiri maupun bagi keluarga dan negaranya. Sehari saja buruh mogok,
perekonomian bisa bangkrut.
Tidak ada alat produksi yang
bekerja dan tidak ada layanan antar hubungan ekonomi, berarti dunia berhenti dalam satu hari.
Buruh itu vital
bagi pergerakan ekonomi. Pergerakan ekonomi vital bagi kehidupan
masyarakat dalam bersosialisasi dan menjalani hidup.
Satu negeri
disebut mati kalau tidak ada pergerakan ekonomi. Ketika ini terjadi, berbondong-bondonglah warga bermigrasi ke tempat lain yang ekonominya
berputar.
Mengapa semua orang Indonesia ingin ke Jakarta? Karena
di Jakarta ekonomi bergerak cepat
Pergerakan itu dimotori
para buruh yang tanpa lelah memproduksi segala barang dan jasa yang dibutuhkan warga Jakarta. Hal sama juga terjadi
pada sentra-sentra ekonomi lain di setiap kota dan kabupaten.
Maka,
sangatlah bijak kalau kita menaruh respek pada buruh. Mereka memiliki
hari besar di setiap tanggal 1 Mei.
Tidak adil rasanya kalau tidak meliburkan mereka pada hari yang
spesial itu. Saya melakukannya di daerah saya, Kutai Timur. Tanggal 1
Mei, semua buruh di Kutai Timur libur.
Sebagai tanda terima
kasih dan hormat, kami beri mereka hiburan di hari libur itu.
Fantastis
Setiap orang yang bekerja dan
diupah dari pekerjaannya itu pada dasarnya adalah buruh. Yang bukan
buruh adalah direksi karena mereka wakil atau perpanjangan tangan
owner (pemilik perusahaan).
Namun buruh selalu diidentikkan dengan pekerja kasar dan
berpendidikan rendah. Itu stempel umum buruh.
Ada strata
gelar untuk sebutan, meskipun rancu tapi bisa dibedakan. Kalau
buruh berarti pendidikan rendah, maka pekerja diartikan berpendidikan di atas buruh.
Di luar negeri, mereka di sebut TKI.
Perannya tak tanggung-tanggung, sebagai pahlawan devisa.
Para
TKI ini sedikitnya menyumbang devisa 4,37 miliar dolar AS atau Rp39,3 triliun
per tahun (data tahun 2011) ke kas negara.
Jumlah yang fantastis. Hebatnya jumlahnya terus meningkat setiap
tahun.
Mei adalah bulan luar biasa. Pada 1 Mei kita merayakan
Hari Buruh, lalu pada 2 Mei kita rayakan Hari Pendidikan. Kemudian
20 Mei kita rayakan Hari Kebangkitan Nasional.
Tiga hari besar di bulan Mei yang
sangat bermakna.
Senjata
Buruh sebagai simbol dinamika
pergerakan ekonomi. Maknanya luar biasa, mereka bisa menentukan
ekonomi bergerak atau tidak.
Negeri ini akan semakin produktif kalau buruh sejahtera. Di
Indonesia, porsi upah buruh dibanding biaya produksi masih berkisar
20:80 (%). Sangat kecil bila dibanding rata-rata upah buruh dunia
terhadap produksi berkisar 35 - 40 %.
Untuk mencapai angka sebesar itu membutuhkan
banyak faktor, bukan semata melalui tekanan seperti demonstrasi.
Tentu
untuk meningkatkan porsi upah buruh, kualitas buruh sendiri harus diperbaiki. Di sinilah butuh peran pendidikan.
Tidak ada kata
terlambat untuk belajar. Seharusnya buruh yang ingin menempuh
pendidikan diberi peluang dan kemudahan, karena pada dasarnya pilihan
menjadi buruh disebabkan terbatasnya pendidikan yang dimiliki.
Di tanah air ada 46 juta buruh. Kalau 10 persennya saja berminat menyelesaikan
pendidikan lebih tinggi sembari bekerja, itu artinya 4,6 juta jiwa
buruh memiliki pendidikan lebih tinggi. Ini juga berarti
kualitas
pendidikan yang dimiliki buruh meningkat.
Akan ada perubahan intelektual yang masif. Kemudian akan terjadi
perubahan nasib karena mereka menjadi berpendidikan lebih baik.
Saya
yakin makna hari pendidikan yang kita rayakan akan jauh lebih berarti.
Akibat sentuhan pendidikan itu mahadahsyat. Pendidikan itu indikator sekaligus
simbol kecerdasan. Pendidikan juga layaknya senjata serba guna.
Spesial
Bagaimana
kalau senjata itu kita berikan kepada buruh, kaum yang terhenti pendidikannya karena ketiadaan biaya.
Setahun, dua tahun, tiga
tahun, kita bisa saksikan perubahannya.
Kemudian, baru kita akan
memperoleh makna selanjutnya, yakni Kebangkitan Nasional.
Dulu,
kebangkitan nasional berangkat dari semangat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan serta nasionalisme yang ditularkan para pendiri bangsa
seperti Boedi Oetomo, Ir. Soekarno, Dr. Ciptomangunkusumo, Dr.
Dowes
Dekker, Ki Hajar Dewantoro, dan lain-lain.
Untuk memelihara
semangat itu, sekali lagi peran pendidikan sebagai jembatan penghantar jauh lebih efektif.
Pendidikan sifatnya
rutin, tidak seremonial. Berperan merangkai logika-logika berpikir
positif dalammemahami beragam fenomena kehidupan. Tersimpan lama
dalam memori otak manusia.
Begitu spesialnya bulan ini dengan tiga hari besar yang penuh makna, makanya
saya terpanggil untuk memberikan komentar.
Tiga hari besar itu
terangkai satu sama lain. Kalau disatukan dapat menjadi buruh cerdas
karena pendidikan memberi semangat kebangkitan nasional yang semakin baik untuk nusa dan bangsa.
Mungkin ini
kebetulan, tetapi benar adanya.
Selamat Hari Buruh. Selamat Hari
Pendidikan. Kita songsong Hari Kebangkitan Nasional.
(*) Ketua
Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com