Jakarta (ANTARA News) - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Tatang Kurniadi, mengatakan, alat pemancar sinyal kedaruratan (emergency locator transmitters/ELT) yang ada di pesawat Sukhoi Superjet 100 boleh saja memakai model lama.

"Model lama masih boleh dipakai, cuma satelit penerima frekuensi sudah ganti dengan yang baru, yaitu frekuensi 406 MHz yang lebih handal," ujarnya di Jakarta, Selasa.

Perangkat ELT sudah ditemukan di puing-puing pesawat Sukhoi SSJ 100 yang jatuh di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, merupakan model lama dengan frekuensi 121,5 Mega Hertz (MHz), sedangkan yang baru menggunakan frekuensi 406 MHz yang sinyalnya bisa ditangkap Basarnas.

"Dulu emergency frekuensi untuk sipil 121,5 MH, sedangkan militer 243 MH, karena sering memancar sendiri oleh PBB diganti dengan frekuensi 406 MH yang lebih handal," katanya.

Oleh karena pemancar model lama sudah tidak dipakai yang menggunakan frekuensi lurus, ia menilai, jika sinyal darurat berbunyi di lembah, maka sinyal tidak bisa ditangkap.

"Sinyal ELT Sukhoi yang tidak berbunyi masih dalam penelitian KNKT," demikian Tatang.
(T.D016/S023)