Surabaya (ANTARA News) - Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPTP2A) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB) Kota Surabaya menyatakan kasus perdagangan manusia (trafficking) di Kota Pahlawan selama 2012 masih marak.

Kepala Bapemas KB Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, Rabu, mengatakan, sejak Januari sampai April 2012 sudah ada sekitar 25 kasus yang terdata di PPTP2A. Jumlah kasus yang tak terdata sendiri bisa tiga kali lipat dari data yang dimiliki PPTP2A.

"Selain trafficking, jumlah pengaduan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga tinggi, setidaknya sampai saat ini ada 23 kasus," katanya.

Untuk itu, katanya, pihaknya berharap kepada masyarakat yang mengalami kasus KDRT atau perdagangan manusia dapat datang langsung ke PPTP2A Jalan Jimerto 6--8 Surabaya.

"Ada lima macam layanan yang diberikan di PPTP2A antara lain konseling, medis, hukum, psikologi dan shelter atau rumah khusus bagi korban," katanya.

Menurut dia, upaya pencegahan trafficking maupun KDRT juga dilakukan Pemkot Surabaya selama ini, seperti halnya dengan menyelenggarakan Sosialisasi Hak Asasi Manusia (HAM) tentang hak-hak perempuan dan anak yang digelar di pendopo Kecamatan Bulak, Rabu (23/5).

"Sosialisasi tersebut difokuskan pada masalah trafficking dan KDRT," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, pihaknya lebih menekankan upaya peningkatan kualitas anak untuk mencegah trafficking. Saat ini tidak boleh ada anak yang tidak bersekolah mulai dari SD sampai SMA karena itu merupakan hak anak.

Menurut dia, pertempuran ke depan adalah pertempuran sumber daya manusia (SDM), bukan sumber daya alam atau militer. "Kalau SDM kita kalah maka kita akan dijajah secara ekonomi, untuk itu kita harus mengoptimalkan SDM melalui sektor pendidikan," ujarnya.
(A052/H-KWR)