Aden (ANTARA News) - Lebih dari 35 militan tewas dalam pertempuran tengah malam dengan pasukan Yaman di provinsi bergolak wilayah selatan, Abyan, kata seorang pejabat militer, Kamis.

Pertempuran itu berlangsung ketika militer melanjutkan ofensif pada hari ke-13 untuk menguasai lagi posisi-posisi yang direbut militan, lapor AFP.

Pejabat militer itu mengatakan, "Gerilyawan Al Qaida melancarkan serangan terhadap" militer di daerah Wadi Bani, sebelah barat Jaar yang dikuasai militan sejak tahun lalu.

Serangan itu menyulut bentrokan sengit yang "menewaskan lebih dari 35 militan", kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

Sementara itu, seorang pejabat lain mengatakan, bentrokan-bentrokan masih berlanjut di Zinjibar, ibu kota Abyan yang dikuasai militan pada Mei lalu.

"Bentrokan-bentrokan sporadis terus berlangsung," katanya, dengan menambahkan bahwa penembak gelap Al Qaida menyerang pasukan yang berhasil menguasai sejumlah bangunan di pinggiran kota itu.

Ia mengatakan, dua prajurit tewas dan sedikitnya enam orang cedera dalam pertempuran untuk memperebutkan Zinjibar pada Kamis. Petugas medis mengkonfirmasi angka korban itu.

Para ahli militer AS membantu pasukan Yaman dalam ofensif yang diluncurkan bulan ini untuk menghalau militan Al Qaida dari provinsi Abyan, Yaman selatan, dimana mereka menguasai sejumlah kota dan desa.

Sejak ofensif militer dimulai pada 12 Mei, sedikitnya 299 orang, yang mencakup 215 anggota Al Qaida, 49 prajurit, 18 militan lokal dan 17 warga sipil, tewas, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas laporan-laporan pejabat dan pemimpin suku.

Ofensif itu didukung oleh pesawat tak berawak AS yang pada hari itu melancarkan dua serangan udara di Yaman timur yang menewaskan 11 terduga anggota Al Qaida.

Pada 6 Mei, serangan udara AS di Yaman timur menewaskan pemimpin Al Qaida Yaman Fahd al-Quso, yang diburu dalam kaitan dengan pemboman mematikan terhadap kapal USS Cole pada 2000.

Serangan pada Oktober 2000 terhadap USS Cole, kapal perusak Angkatan Laut AS, di pelabuhan Aden, Yaman, menewaskan 17 pelaut dan mencederai 40 orang.

Quso tewas dalam serangan dua rudal di dekat rumahnya di Rafadh, sebelah timur Ataq, ibu kota provinsi Shabwa.

Menurut laporan-laporan, pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan sekitar sepuluh serangan udara di Yaman dalam empat bulan terakhir.

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) meminta izin untuk melancarkan serangan lebih lanjut pesawat tak berawak di Yaman, meski ada risiko korban mungkin bukan teroris, kata Washington Post pada April.

AS tidak pernah secara resmi mengakui penggunaan pesawat tak berawak terhadap Al Qaida di Yaman, yang dianggap sebagai cabang paling aktif dan mematikan dari jaringan teror global itu dan menjadi pusat perang melawan teror.

Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP).

AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu.

Militan melancarkan gelombang serangan sejak mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Februari menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabuh Mansur Hadi, yang telah berjanji menumpas Al Qaida.

Pada Maret, 185 prajurit tewas dalam serangan besar Al Qaida terhadap sebuah kamp militer di dekat Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan. (M014)