Kamis, 2 Oktober 2014

"... Gimana gak mau mati budaya Betawi ini."

Sabtu, 26 Mei 2012 16:56 WIB | 6.167 Views
Ondel-ondel Betawi "mejeng" di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Pada awalnya ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus, namun dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)
... gimana gak mau mati budaya Betawi ini...
Jakarta (ANTARA News) - Pemerhati budaya Betawi, Ridwan Saidi, prihatin dengan nasib kesenian kaum tersebut. Menurut dia, seniman dan budaya Betawi kian tersingkirkan karena lahannya juga tergusur.

“Gedung pertunjukan saja tidak punya yang di tengah kota, hanya di Setu Babakan. Miss Tjitjih saja ada gedungnya padahal itu untuk suku Sunda,” kata dia.

Ia menceritakan, zaman dulu di Taman Ismail Marzuki  dan Gedung Kesenian Jakarta setiap malam rutin digelar  kesenian Betawi dengan ribuan penonton.

Kini kesenian Betawi seolah "tergusur" ke Setu Babakan yang berada di perbatasan Depok, tepatnya di Kelurahan Srengseng Bawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Jauh dari tengah kota sehingga penonton yang melihatpun sedikit dan hanya lingkup orang setempat saja.Maunya kami itu di Jakarta Pusat,” katanya.

Nada prihatin juga dikemukakan Ketua Pembina Sanggar Bina Irama, Marta. Dia mengatakan kesenian Betawi sulit menyaingi budaya lain dalam menggelar pertunjukan.

Ia juga mengeluhkan kaum muda yang enggan menonton kesenian tradisional Betawi dan lebih senang menonton bioskop atau konser.

"Jangankan ditarik bayaran, ini tidak dipungut biaya saja tidak mau nonton, gimana gak mau mati budaya Betawi ini," kata dia.

Hilangnya penonton juga mengakibatkan seniman Betawi tidak mau menurunkan bakatnya ke generasi penerus. Menurut Marta, banyak seniman Betawi  menganggap seni mereka sudah mau punah.

"Kami ini otodidak belajarnya, tidak ada sekolahnya, tidak ada yang mengajari sehingga tersingkir oleh budaya yang baru," kata Marta.

Sanggar Bina Irama ia dirikan bersama istri untuk mengembangkan gambang kromong, lenong dan lawak.

Ia berharap, pemerintah lebih memperhatikan seniman betawi."Ini lho Betawi. kalau ada panggilan pentas di manapun kami ikuti," kata dia.

Di lain pihak, pemerintah provinsi DKI Jakarta mengatakan telah memberi perhatian cukup kepada kesenian Betawi.

Kepala Balai Latihan Kesenian (BLK) Jakarta Barat Ruswa Sudisman mengatakan pihaknya juga melestarikan kesenian Betawi. "60 persen kami fokus ke seni Betawi. Sisanya, kami memberi pelatihan kesenian daerah lain," kata dia.

Ia mengatakan BLK Jakarta Barat  bisa mendatangkan pelatih dari perguruan tinggi seni yang ada di Jakarta seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).  (tya)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga