Jumat, 1 Agustus 2014

Mengenal Romo Carolus

Minggu, 27 Mei 2012 03:38 WIB | 12.678 Views
Mengenal Romo Carolus
Atas sumbangsihnya yang besar untuk kepemimpinan dan kemanusiaaan serta keagamaan universalnya Romo Carolus dianugerahi Maarif Award (ANTARA/Ansyor)
Jakarta (ANTARA News) – Perawakannya besar dan berkulit putih. Rambutnya tipis beruban seperti umumnya orang bule. Dialah Charles Patrick Edward Burrows, OMI.

Akrab disapa Romo Carolus, pria ini adalah pastor Paroki St. Stephanus di Cilacap, Jawa Tengah.  Dia keturunan Irlandia yang telah menjadi WNI sejak 1983.

Sosoknya tidak banyak diangkat oleh media massa tetapi masyarakat Cilacap mulai anak-anak hingga bupati sangat mengenalnya.

Hati Carolus terpaut ketika pada 1973 menginjakkan kakinya di Kampung Laut, sebuah kampung miskin nan terbelakang.

Butuh waktu dua jam berperahu comprang untuk bisa tiba di perkampungan dengan empat desa ini; Ujung Alang, Klaces, Ujung Gagak, dan Penikel. 

Jalan-jalan di kampung ini hanya bisa dilewati dua motor berpapasan.  Di kiri kanannya rawa dan kubangan air laut.

Pria berusia 69 tahun itu bertekad memperbaiki jalan-jalan di Kampung Laut dengan memanfaatkan tanah dan batu-batu cadas di sana.

Romo lalu mendirikan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) Cilacap untuk lebih mudah mengatur warga yang akan bekerja memperbaiki jalan.

Atas inisiatifnya, seluruh desa di Kampung Laut telah memiliki jalan yang lebar, sekaligus menjadi tanggul air asin dan persawahan. 

Setelah mengajak masyarakat Kampung Laut membuat jalan, dia mulai memikirkan pendapatan warga dengan mengubah rawa-rawa menjadi sawah yang bisa menghasilkan padi.

Carolus juga memperhatikan kesehatan warga kampung itu bersama tenaga medis YSBS yang dipimpinnya.

Tidak hanya itu, hingga sekarang dia  aktif berkarya untuk masyarakat Cilacap. 

Lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya ia dirikan dari Lembaga Pendidikan Yos Sudarso, Yayasan Pembina Pendidikan Kemaritiman, Mikro Kredit Swadaya Wanita Indonesia, Mikro Kredit Swadaya Perempuan Cilacap, sampai BPR Ukibima Cilacap.

Stigma 

Tetapi, di tengah kedermawanannya itu, stigma misionaris terus melekat pada aktivitas Romo Carolus, hingga kini.

Mengenai soal ini, Carolus hanya berujar, “Saya baru 20 persen Katolik. So, mana mungkin saya mengajak masuk Katolik jika saya sendiri belum benar-benar menjadi Katolik?”

Dengan alasan itu, Carolus selalu menolak membaptis warga yang berniat masuk Katolik.

Dia bahkan sempat dicurigai sebuah ormas Islam di Cilacap, yaitu Front Pembela Islam atau FPI.

Tetapi setelah melihat niat Carolus yang murni bermisikan kemanusiaan yang universal, Dewan Pimpinan FPI Cilacap akhirnya menerima dan bahkan mendukung kegiatannya.

“Kami sangat mengapresiasi bantuan Romo kepada sebagian masyarakat Cilacap. Beliau itu murni untuk aksi sosial,” kata Haryanto seperti dikutip dari booklet Maarif Award 2012.

Pluralisme

Dia memang Katolik, tapi Carolus juga banyak berperan dalam meningkatkan kerukunan umat beragama di Cilacap.

Dia mendirikan forum antarumat beragama Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) yang mengajak semua warga bersatu dengan menanggalkan baju agama mereka.

“Dia tidak pernah banyak bicara agama. Yang selalu dibicarakannya adalah mengenai kemanusiaan,” kata salah seorang pengurus FPUB Taufik.

Bahkan Carolus sering diajak mengikuti pengajian warga muslim Kampung Laut.

Sekolah yang didirikan Carolus pun memberikan toleransi besar kepada siswa muslim dengan memberinya materi pelajaran agama Islam. Kelasnya pun dipisah.

“Sekolah kami adalah yang kali pertama mengadakan pelajaran agama Islam untuk pemeluknya,” kata Kepala Sekolah SMK Yos Soedarso Yohanes Parsian.

Kekemanusiannya dan kesalehan sosialnya yang tinggi mengundang decak kagum siapa saja, termasuk tokoh-tokoh nasional.

“Jarang ditemukan orang yang seperti ini. Dimensi kemanusiaannya jauh lebih dalam. Seorang FPI saja hormat kepada dia,” kata Buya Syafii Maarif pendiri Maarif Institute dalam sambutannya pada malam penganugerahan Maarif Award di Metro TV, Jakarta, Sabtu Malam.

Buya Syafii berharap muncul generasi-generasi muda yang meniru dan bertindak seperti Romo Carolus.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga