Sabtu, 20 Desember 2014

Mantan atlet tuntut pengurus PBSI mundur

| 3.281 Views
id Deklarasi Keprihatinan, mantan atlet bulutangkis, pengurus PBSI
Bulutangkis adalah milik kita bersama, bukan milik orang per orang. Untuk mengurusnya harus menempatkan orang yang tepat pada jabatan yang tepat. Kami siap dipanggil untuk duduk bersama membahas hal ini.
Jakarta (ANTARA News) - Para mantan atlet bulutangkis nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional menuntut Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) untuk mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban kegagalan di Piala Thomas dan Uber.

"Kalau mengaku gagal dan mempertanggungjawabkan kegagalan itu, maka mundur sajalah, ini namanya sikap dan jiwa sportif," ujar mantan pebulutangkis nasional Rudy Hartono di Jakarta, Senin.

"Dulu sewaktu saya duduk dalam kepengurusan dan tim Piala Thomas gagal, saya langsung mengundurkan diri, padahal itu hanya gagal juara. Yang sekarang ini terhenti di perempat final oleh Jepang adalah sesuatu yang sangat memalukan, kemana pun kita pergi kita menjadi malu," lanjut Rudy Hartono yang merupakan mantan juara All England delapan kali.

Hal itu dikatakan Rudy kepada wartawan ketika bersama sejumlah mantan atlet bulutangkis membacakan Deklarasi Keprihatinan untuk disampaikan kepada PB PBSI yang memuat tujuh butir keprihatinan secara tertulis. Deklarasi disampaikan terkait dengan hasil Piala Thomas dan Uber yang hanya mampu mencapai perempatfinal di Wuhan baru-baru ini, sebagai prestasi terburuk sejarah bulutangkis Indonesia.

Turut hadir dalam acara itu diantaranya Liem Swie King, Joko Supriyanto, Christian Hadinata, Sigit Budiarto, Bambang Supriyanto, Haryanto Arbi, Richard Mainaky, Ivana Lee, Imelda Wiguna, Retno Kustiah, Elizabeth Latif, Sarwendah Kusumawardhani, Luluk Hadiyanto dan beberapa mantan atlet nasional lainnya.

Dikatakannya, berbagai evaluasi telah dilakukan, demikian pula kritik dan saran sudah sering disampaikan oleh para mantan atlet menyusul sejumlah kegagalan di ajang internasional, namun PB PBSI tak pernah menindaklanjutinya dengan tindakan yang nyata.

"Bulutangkis adalah milik kita bersama, bukan milik orang per orang. Untuk mengurusnya harus menempatkan orang yang tepat pada jabatan yang tepat. Kami siap dipanggil untuk duduk bersama membahas hal ini. Orang-orang yang harus bertanggungjawab atas prestasi bulutangkis kita seharusnya memanggil kami semua," lanjutnya.

Rudy memaparkan, diantara kesalahan yang telah dilakukan PB PBSI adalah dalam menempatkan personil-personil kepengurusan yang berkaitan langsung dengan prestasi, seperti pelatih dan Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres).

(ANT 132)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga