Selasa, 29 Juli 2014

Tiga wisata darat pelengkap kunjungan Komodo

Kamis, 31 Mei 2012 05:49 WIB | 11.041 Views
Tiga wisata darat pelengkap kunjungan Komodo
Puluhan kapal tampak di perairan Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur dari atas Bukit Cinta. (ANTARA News / Imam Santoso)
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (ANTARA News) - Gugusan pulau eksotis dengan pantai pasir putih, laut jernih kebiru-biruan, dermaga-dermaga kayu lengkap dengan deretan perahu tradisional, serta tentunya komodo, pantas mengangkat Taman Nasional Komodo sebagai destinasi wisata primadona di bagian timur Nusantara.

Namun, destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara timur itu tidak sekedar terhenti pada kunjungan 'naga dari Indonesia', penyelaman taman laut dengan koral dan karang, maupun atraksi satwa air di bibir pantai berpasir putih.

Paling tidak ada tiga lokasi darat yang pantas melengkapi kunjungan para wisatawan baik domestik ataupun mancanegara di salah satu dari tujuh kawasan keajaiban alam dunia (new 7 wonders of nature) itu.

Tiga lokasi tersebut dapat ditemukan di Kota Labuan Bajo, pusat pemerintahan kabupaten di ujung barat Pulau Flores yang menjadi pintu gerbang menuju Pulau Komodo.

Lokasi pertama adalah Bukit Labuan atau lebih populer dikenal sebagai Bukit Cinta di utara tanjung Labuan Bajo. Deretan perbukitan itu dapat ditempuh sekitar 15 menit dari bandar udara Kota Pelabuhan itu.

"Dinamakan Bukit Cinta karena tempat itu sering menjadi tempat pemuda-pemudi Bajo untuk memadu asmara," kata Don Bosco, warga Labuan Bajo yang berprofesi sebagai pemandu wisata.

Penyebutan Bukit Cinta sebagai tempat memadu asmara agaknya relevan manakala turis bersedia mendaki bukit berketinggian sekitar 150 meter di atas permukaan laut itu.

Hamparan alam perbukitan savana dihiasi pohon lontar, sengon, dan cendana bertepikan  pantai Binongko langsung disuguhkan sebagai 'hidangan pembuka'.

Menu utamanya yaitu 'lukisan naturalis' tentang deretan perahu tradisional dan pesiar yang seakan mengerubuti Pelabuhan Labuan Bajo sepanjang mata memandang ke barat daya dari puncak bukit.

'Karya seni' itu diperkuat dengan goresan Sang Pencipta berupa selimut daratan bewarna hijau dan laut Flores berwarna Biru yang sebagian dipisahkan warna putih pasir pantai.

Sajian penutup dalam 'bingkai kanvas' Bukit Cinta berupa gradasi warna kuning berubah menjadi jingga dan merah dari matahari yang seolah tenggelam ke laut.

Sekitar dua kilometer ke timur dari Bukti Cinta, para pelancong dapat menyimak eksotisme wisata darat kedua Labuan Bajo yang berupa susunan batu.

Gua Batu Cermin, atau secara internasional disebut dengan Lime Stone Cave, siap menyambut para penikmat pesona alam Nusa Nipah.

Jika pemandangan alam dari Bukit Cinta di-ibaratkan karya seni lukis, Gua Batu Cermin bak kombinasi karya seni kria dan arsitektur yang tersembunyi di antara perbukitan Labuan Bajo.

Rimbunan pohon bambu berdiri seperti tirai yang mesti disingkap setiap pengunjung di sepanjang jalan menuju gua sedalam sekitar 200 meter itu.

Don Bosco mengatakan julukan batu cermin diangkat dari fenomena pantulan cahaya matahari pada bebatuan kristal di sela-sela gua sehingga berwujud seperti kaca cermin.

Karya rupa tiga dimensi gua temuan misionaris Belanda, Varhoeven, itu diperagakan oleh susunan stalaktit dan stalakmit di mulut dan perut gua.

"Masyarakat lokal hanya mengetahui keberadaan gua tanpa mengenalkannya kepada dunia luar sehingga orang Belanda-lah yang dianggap menemukannya pada 1920," kata Don Bosco.

Batuan kapur bergaya naturalis stilasi itu dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat persembunyian para pejuang kemerdekaan pada era kolonialis Eropa.

Selain tempat persembunyian, lanjut Don Bosco, Gua Batu Cermin juga merupakan tempat para pejuang untuk saling bertukar makanan. Pernyataan Don Bosco itu dibuktikan dengan ruangan seluas sekitar 35 meter persegi yang berada di tengah perut goa.

Sejumlah binatang seperti kelelawar, laba-laba, jangkrik, dan monyet-lah yang sekarang menjadi penghuni gua di pangkal tanjung Labuan Bajo itu.

Jika beruntung, koloni kelelawar yang terbang keluar gua akan menjadi atraksi langka bagi pengujung di pagi hari.

Pengunjung goa sebaiknya mempersiapkan bekal air karena kawasan sekitar goa, sebagaimana tanah Labuan Bajo secara umum,  merupakan daerah tandus hampir tanpa sumber air.

Rangkaian tur darat berikutnya, ketiga, merupakan wisata budaya dengan mengunjungi sejumlah kampung adat di kaki Gunung Mbeliling, seperti Kampung Melo, Desa Liang Dara.

Berbeda dengan warga Labuan Bajo yang sebagian besar nelayan, desa berpenduduk sekitar 2.700 orang itu merupakan desa petani kopi dan kakao.

Di Kampung Melo, terdapat Sanggar Compang To'e yang bersedia menampilkan sejumlah tarian dan adat Manggarai Barat bagi rombongan pelancong.

Dengan durasi sekitar satu jam perjalanan dari Labuan Bajo, wisatawan akan menerima upacara penyambutan dari sanggar berupa selendang tenun yang dikalungkan di leher tamu. Upacara penyambutan dilanjutkan dengan penyerahan ayam jantan, meminum tuak dan makan sirih.

Setiap upacara adat, termasuk penyambutan, dipimpin Tua Teno sebagai ketua adat atau ketua sanggar.

Setelah mendapatkan 'ucapan selamat datang' sanggar menampilkan tiga tarian, Tarian Caci, Tarian Ndudu Ndake, dan Tarian Tetekalu atau Rangkuk Alu.

Masyarakat Manggarai Barat, dalam ritual adat resmi, menyelenggarakan ketiga tarian tersebut setelah menuai hasil panen perkebunan dan pertanian yang biasanya jatuh pada Juni hingga Juli.

"Sebagai simbol ucapan terimakasih setelah panen," kata Yovita Nurmi, warga kampung Melo.

Tarian Caci merupakan tarian saling bertukar pukulan yang dimainkan oleh para laki-laki Manggarai Barat. Mereka menggunakan cambuk dan tameng dari rotan dilengkapi kain sebagai pelindung wajah.

Sedangkan para perempuan memainkan tarian Ndudu Ndake secara berkelompok. Mereka mengenakan busana adat berupa ikat kepala berwarna merah-emas, baju berwarna kuning, dan kain adat sebagai pakaian bawah.

Tarian ketiga adalah tarian Tetek Alu atau disebut juga Rangkuk Alu. Tarian ini dimainkan oleh laki-laki dan perempuan menggunakan bambu.

Enam orang berjongkok membentuk bidang persegi dan memegang dua bambu. Mereka merapat-buka bambu. Penari akan masuk dalam bidang persegi itu dan melompat-lompat sesuai irama buka-tutup bambu.

Ketiga tarian itu diiringi musik dengan alat Nggong dan Gendang yang dimainkan silih-berganti antara laki-laki dan perempuan.

Tidak sekedar menampilkan tarian, kelompok sanggar juga akan menawarkan kain hasil tenunan mereka kepada tamu.

Yovita mengatakan kain selendang dibuat selama tiga minggu dan sarung dua bulan. Tapi, jika tidak bertani atau berlandang, dalam sebulan setiap rumah dapat memproduksi empat selendang.

Meski Desa Liang Dara termasuk daerah subur, Yovita mengaku warga Melo masih sulit memperoleh infrastruktur listrik dari Labuan Bajo. Padahal, di kaki Gunung Mbeliling itu tersedia sumber mata air yang belum termanfaatkan.

Ketiga destinasi wisata tersebut, dan sejumlah lokasi lain, tampaknya memang pantas melengkapi wisata Taman Nasional Komodo yang menyematkan kemolekan Nusa Tenggara Timur secara internasional.
(I026)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Terpopuler
Baca Juga