Jumat, 24 Oktober 2014

Rusia dan AS saling serang terkait Suriah

| 5.571 Views
id rusia lawan amerika serikat, vladimir putin, bashar al assad, pembantaian di houla, moskow vs washington
Rusia dan AS saling serang terkait Suriah
Presiden baru Rusia Vladimir Putin memperhatikan barisan pasukan kehormatan dalam sebuah parade Resimen Kremlin di Lapangan Katedral, Kremlin, Moskow, Senin (7/5). (REUTERS/Alexander Zemlianichenko)
Putin tidak tahan paksaan. Kerjanya ialah menunjukkan bahwa dia tidak ingin dipaksa untuk melakukan apapun."
Moskow (ANTARA News) - Moskow dan Washington saling melancarkan serangan diplomatis ganas terkait Suriah, Kamis. Amerika Serikat melontarkan tuduhan bahwa Rusia mendorong sekutunya ke kancah perang saudara sedangkan Kremlin menuduh Washington emosional.

Saling semprot itu muncul ketika Presiden Vladimir Putin Jumat bersiap menghadapi cecaran para pemimpin Jerman dan Prancis dalam kunjungan pertamanya ke luar negeri sejak dilantik pada 7 Mei untuk jabatan ketiga kalinya yang kontroversial, lapor AFP.

Rusia telah menyatakan dengan jelas dari awal bahwa Putin tidak akan goyah oleh kemarahan Barat dan dunia Arab menyangkut penolakannya untuk mendukung tindakan terhadap rezim Timur Tengah yang lama didukung Moskow sejak jaman Soviet.

"Posisi Rusia sudah jelas. Seimbang dan konsisten dan sama sekali logis," kata juru bicara Putin Dmitry Peskov seperti dikutip Interfax.

"Jadi hampir tidak layak untuk membicarakan tentang perubahan posisi ini di bawah tekanan seseorang."

Namun Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menggunakan bahasanya yang paling eksplisit sampai saat ini untuk menunjukkan bahwa kesabaran Washington terhadap Moskow semakin tipis karena penolakkannya untuk komit dengan langkah-langkah lebih keras dari Dewan Keamanan PBB.

Orang-orang Rusia "mengatakan kepada saya mereka tidak ingin melihat perang saudara. Saya sudah menyampaikan kepada mereka bahwa kebijakan mereka akan membantu mengontribusi kearah perang saudara," katanya kepada audiens yang kebanyakan mahasiswa dalam kunjungannya ke Kopenhagen.

"Kita harus membawa orang-orang Rusia ke dalam kapal karena bahaya yang kita hadapi mengerikan. Kita tahu sebenarnya itu bisa menjadi jauh lebih buruk lagi."

Rusia bersikeras bahwa pihaknya tidak mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad namun menghormati hukum internasional dan kebijakan non-intervensi dalam konflik internal.

Argumen itu kurang diterima kekuatan-kekuatan asing menyusul pembantaian pekan lalu atas 108 penduduk sipil -- hampir setengahnya anak-anak -- di kota Suriah Houla yang Moskow sebagian persalahkan pada kedua belah pihak.

Peskov mengatakan penolakan Rusia untuk mendukung tindakan lebih jauh terhadap Assad setelah pembantaian Houla dan serangan-serangan lain terhadap sipil didasarkan pada pendekatan "yang sama sekali bebas dari emosi, yang hampir tidak layak disini."

Namun Putin diperkirakan masih akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan tajam dari Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Froncois Hollande selama perjalanan ke tiga negara mulai Kamis di Belarus -- sekutu otoritarian yang dipilihnya sebagai negara tujuan pertama sebagai kepala negara.

Merkel bagaimanapun juga menyambut dengan nada ramah menjelang kedatangan Putin dengan menyatakan bahwa "Rusia telah bekerja sama secara konstruktif di Dewan Keamanan PBB."

"Selalu ada masa ketika kita mengatakan 'kita ingin melangkah lebih jauh' namun saya rasa bahwa kita harus sepanjang kepentingan bersama jika itu merupakan pemastian hak asasi manusia dan pada akhirnya mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan itu," katanya.

Hollande telah membuat kaget Rusia dengan menolak mengesampingkan intervensi militer asing, sepanjang hal itu dilaksanakan dengan dukungan PBB, guna mengakhiri pertempuran selama hampir 15 bulan, yang para pengamat yakini telah menewaskan 13.000 orang.

Kremlin mengambil langkah tidak biasa Kamis dengan mengumumkan bahwa Putin telah mengadakan rapat tertutup Dewan Keamanannya yang didevosikan secara khusus pada tanggapan Rusia terhadap krisis sebelum tur perjalanan ke luar negerinya.

Karena pokok masalah rapat Dewan Keamanan Rusia biasanya dirahasiakan, pengumuman ini nampaknya didisain untuk menyoroti seriusnya posisi Rusia yang diambil Putin mengenai Suriah.

Ketegangan diplomatik tersebut disertai dengan kabar tentang negosiasi intens di belakang layar yang terfokus pada cara Moskow dapat mundur tanpa kehilangan perbawa diplomatisnya.

The New York Times melaporkan bahwa satu opsi yang diajukan sejumlah kalangan di Washington dan Moskow melibatkan transisi kekuasaan serupa dengan yang digunakan untuk mengakhiri kekuasaan orang kuat presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman tahun ini.

Transisi tersebut dilaporkan akan memastikan Assad menyerahkan kekuasaannya kepada lingkaran dalamnya selama periode sementara dibarengi dengan penyelenggaraan pembicaraan politik dengan oposisi.

Para analis mengatakan Moskow dapat secara teoritis mendukung opsi ini karena hubungan historisnya dengan Suriah tidak bergantung pada Assad tetapi pada pendapatan kontrak militer dan perdagangan yang mungkin secara potensial dapat dipertahankannya dalam jangka panjang.

"Keinginan Rusia adalah menghindari penggunaan pasukan asing lebih daripada mempertahankan Assad," kata Maria Lipman dari Carnegie Moscow Centre.

"Putin tidak tahan paksaan. Kerjanya ialah menunjukkan bahwa dia tidak ingin dipaksa untuk melakukan apapun." (K004)

Penerjemah: B Kunto Wibisono

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga