Jakarta (ANTARA News) - Sejak tahun 2000, setiap tanggal 5 Juni, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkannya sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day/WED), menjadi hari bagi penduduk Bumi meneguhkan kembali arti penting lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun ini WED mengambil tema Green Economy: Does it Include You? yang mengadvokasi pentingnya pelaksanaan ekonomi hijau oleh semua pihak sesuai dengan kapasitasnya sebagai negara, perusahaan, dan individu.



Ekonomi hijau terus digaungkan karena terbukti "business as usual"--yang secara masif merusak alam demi keuntungan uang semata--adalah pola pikir yang keliru, demikian dikutip dari laman resmi United Nations Environment Programme (UNEP) seperti dipantau ANTARANews, Selasa.

Ekonomi hijau adalah tujuan dari pembangunan yang mengutamakan peningkatan standar hidup manusia, keadilan sosial, sembari menekan perusakan lingkungan serta kelangkaan sumber daya alam.

Dengan kata lain, bila tersebut kalimat "ekonomi hijau" maka itu adalah tentang upaya tindakan-tindakan ekonomi yang menghasilkan karbon lebih rendah, efisien sumber daya, dan pada saat yang bersamaan inklusif secara sosial.

Inisiatif ekonomi hijau mulai digiatkan oleh UNEP pada tahun 2008, sebagai panduan dan mekanisme praktis yang komprehensif tentang investasi di sektor-sektor pro-lingkungan hidup dan "menghijaukan" sektor yang selama ini tidak ramah terhadap kelangsungan sumber daya alam.

Ekonomi hijau terbukti bukan melemahkan pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa, pendekatan ini justru membuka demikian banyak lapangan kerja baru yang memperkuat sektor rendah karbon seperti pembuatan sel matahari dan pengelolaan sampah.
(E012)