Jumat, 19 Desember 2014

Hewan berkelas harga kaki lima

| 40.425 Views
id pasar anjing, pasar binatang peliharaan, penjualan anjing, penjualan kucing, kucing peliharaan
Hewan berkelas harga kaki lima
Anak anjing Golden Retriever yang dijual di Jalan Cimahi, Jakarta. (ANTARA News/Deny Yuliansari)
Jakarta (ANTARA News) - Anak-anak anjing dan kucing yang biasa dijual dengan harga mahal bisa ditemukan di sepanjang Jalan Latuharhari dan Jalan Cimahi, Jakarta.

Kandang lipat aneka warna dan ukuran berisi anak-anak anjing jenis Pug, Golden Retriever, dan Pomeranian atau Pom serta anak-anak kucing jenis Anggora, dan Persia berderet di sepanjang jalanan di kawasan Taman Lawang tersebut.

Harga setiap anak anjing dibanderol Rp400 ribu sampai Rp600 ribu sementara seekor anak kucing harganya Rp1,5 juta. Anak kucing dijual lebih mahal karena membutuhkan perawatan ekstra.

"Harga segitu masih bisa nego," kata Herman, pedagang hewan peliharaan di Jalan Cimahi saat ditemui Selasa. 

Menurut dia, harga binatang peliharaan di kawasan itu juga lebih murah ketimbang harga di toko hewan peliharaan (petshop).

Namun hal itu tidak berlaku pada hewan peliharaan yang memiliki sertifikat keaslian ras, kata Boyer, rekan Herman.

Menurut dia, harga hewan peliharaan yang memiliki sertifikat keaslian ras bisa dua kali lipat lebih mahal dari harga binatang peliharaan tanpa sertifikat.

"Kalau ada sertifikat, harga juga nggak bisa ditawar lagi," katanya.

Meski demikian, menurut Barri (41)--penjual binatang piaraan lain-- keberadaan sertifikat tidak begitu mempengaruhi penjualan.

"Kalau pembeli sudah sreg, meski nggak ada sertifikat tetap saja dibeli," kata pria yang sudah berjualan hewan piaraan sejak tahun 1983 itu.


Penjualan

Dalam sehari, Herman mengaku bisa menjual hingga lima binatang peliharaan. Namun tidak demikian dengan Boyer dan Barri.

"Tidak tentu sih, kadang ada yang terjual kadang tidak. Namanya jualan seperti ini kan tidak bisa diprediksi," kata Boyer.

Menurut Herman, binatang piaraan yang paling banyak dicari pembeli adalah anjing. "Biasanya kalau orang-orang kemari ya memang mau cari anjing. Di sini memang terkenalnya jualan anjing," tambah Barri.

Anjing yang banyak terjual, kata Herman, adalah anjing pejantan yang harganya justru lebih tinggi dari anjing betina.

"Karena pejantan fungsinya banyak, antara lain sebagai penjaga dan untuk dikawinkan," jelasnya.

Pembeli binatang piaraan di kawasan itu, menurut Barri, beragam dari masyarakat biasa, artis sampai pejabat. "Pernah juga ada anak pejabat yang sering mampir ke sini, Puan Maharani pernah mampir ke sini," katanya.


Bukan anjing curian

Herman mengaku sering melihat komentar-komentar miring tentang reputasi penjualan hewan di kawasan tempat dia berjualan. "Ada yang bilang hewan curian," katanya.

Anggapan yang demikian, kata dia, membuat orang yang kehilangan anjing atau kucing sering datang ke lokasi jualan untuk mencari binatang piaraan mereka.

Citra bahwa daerah itu menjadi tempat penjualan hewan curian, menurut dia, kemungkinan muncul karena sejumlah pedagang hewan piaraan kadang membeli hewan dari perorangan yang asal usulnya kurang jelas.

"Kami mana tahu beli dari siapa," katanya serta menambahkan citra kurang baik itu tidak mempengaruhi penjualan.

Lebih lanjut Herman menjelaskan, selain membeli hewan piaraan dari perorangan para pedagang di kawasan itu biasanya mendapat pasokan dari peternak di Bandung, Surabaya, dan Jakarta.

Para pemasok binatang piaraan biasanya mengirimkan pasokan ke lokasi jualan. Herman dan kawan-kawannya biasa mengambil 15 hingga 20 anak anjing atau kucing dari pemasok.

"Kadang datang seminggu sekali, kadang kalau stok sudah habis," katanya.

Menurut dia, hewan dari pemasok lebih terjamin kualitasnya. "Sudah diberi vaksin. Kami terima beres, tinggal jual saja," katanya. 
(nta)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca