Jumat, 24 Oktober 2014

Menkeu: krisis Eropa berlangsung lama

| 5.451 Views
id krisis moneter, krisis global, krisis eropa, solusi atasi krisis, menkeu. agus martowardojo
Menkeu: krisis Eropa berlangsung lama
Agus Martowardojo (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)
Kalau krisis di Eropa akan cukup lama, kita sudah lihat, karena perkembangan politik di beberapa negara Eropa menunjukkan pemimpin-pemimpin yang baru dipilih memiliki pemikiran dan visi yang mungkin bisa berdampak pada kesatuan rencana euro zone sebe
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan krisis di Eropa dapat berlangsung lama dan tidak akan selesai dalam waktu dekat sehingga pemerintah harus terus mempersiapkan diri agar tidak terkena dampak krisis tersebut.

"Kalau krisis di Eropa akan cukup lama, kami sudah lihat, karena perkembangan politik di beberapa negara Eropa menunjukkan pemimpin-pemimpin yang baru dipilih memiliki pemikiran dan visi yang mungkin bisa berdampak pada kesatuan rencana euro zone sebelumnya," ujarnya di Jakarta, Rabu.

Salah satu antisipasi yang disiapkan adalah penguatan sektor keuangan, karena banyak lembaga perbankan di Eropa yang mulai terkena dampak krisis sehingga menarik portofolio mereka di kawasan Asia.

"Yang kami antisipasi adalah pengaruh dari sisi keuangan. Itu yang mesti kita selalu siap dan juga pengaruh pada buyback financing, karena bank-bank di Eropa banyak yang terpengaruh krisis dan mungkin mereka mempunyai preferensi beda dalam hubungan mereka dengan negara-negara di luar Eropa," ujar Menkeu.

Menkeu mengatakan situasi tersebut dapat mempengaruhi neraca perdagangan dan neraca pembiayaan, namun secara keseluruhan struktur perekonomian nasional saat ini masih baik.

"Secara umum ekonomi Indonesia dalam keadaan baik, kita hanya perlu meneruskan reformasi dan kami eksekusi anggaran 2012 dengan baik," katanya.

Selain itu, pemerintah bersama Lembaga Penjamin Simpanan dan Bank Indonesia akan memperbaharui krisis manajemen protokol sebagai antisipasi ketika krisis Eropa benar-benar berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

"Crisis Management Protocol di Bank Indonesia, Bapepam, LPS dan Ditjen Pengelolaan Utang itu sudah jadi standar nasional. Dan itu sudah ada dasar nota kesepahaman yang akan diperbarui dan dilengkapi dalam waktu dekat ini," ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menambahkan transaksi pada sektor finansial saat ini tergantung pada perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut dia, apabila perekonomian di Amerika Serikat membaik, maka modal akan cenderung lari dari emerging market dan itu bisa menyebabkan pasar modal bergejolak.

"Kalau ekonomi Amerika membaik, finansialnya cenderungnya lari dari negara emerging. Tapi kalau Amerika tidak terlalu baik dananya tidak akan lari," ujarnya.

Sedangkan, terkait kondisi di Eropa, Darmin sependapat dengan Menkeu bahwa krisis di Eropa tidak akan selesai dalam waktu cepat.
(S034/R010)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga