Jayapura (ANTARA News) - Dalam rentang waktu dua pekan terakhir Kota Jayapura, provinsi Papua diteror dengan peristiwa kekeraasan.

Penembakan sejumlah warga sipil, aparat keamanan, hingga warga asing yang tengah menikmati keindahan pantai dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK).

Aksi teror seperti ini sebelumnya sering terjadi di daerah pedalaman Papua namun kini merebak masuk ke pusat ibu kota provinsi Papua, Kota Jayapura.

Pada Minggu (29/5) sekitar pukul 11.30 WIT seorang turis asing asal Jerman, Dietmer Helmut Pieper (55) ditembak oleh OTK ketika sedang menikmati keindahan pantai Base-G bersama istrinya Eva Medina yang berkebangsaan Spanyol.

Dietmer ditembak sebanyak tiga kali dan kena dibagian dada, pungung dan paha kiri oleh OTK sesaat setelah berenang dipantai itu dengan jarak yang cukup dekat.

"Pelaku berambut keriting dan (janggut) brewok langsung menembak sebanyak 3 kali," ungkap Eva Medina kepada Kapolda Papua yang langsung bertemu korban sesaat setelah dibawa ke UGD RSUD Dok II Jayapura.

Enam hari kemudian atau pada Senin (4/6) Gilbert F.M seorang pelajar SMU Kristen Kalam Kudus yang hendak pulang ke rumahnya di BTN Kotaraja ditembak oleh OTK ketika sedang melintas di sekitar Skyline dengan menggunakan sepeda motor.

Penembak diduga dua orang yang berboncengan menggunakan sepeda motor, dengan cara mendekati Gilberth kemudian melepaskan tembakan dari jarak dekat sehingga mengenai bagian dada.

Selang sehari setelah penembakan Gilberth, pada Selasa (5/6) sekitar pukul 22.00 WIT kembali terjadi penembakan di dua tempat yang berbeda. Korbannya adalah dua warga sipil yakni Iqbal Rivai (22) dan Hardi Jayanto (22).

Sementara seorang lainnya, anggota TNI AD ditembak di jalan raya Abepura-Entrop. Pratu Frengky Kune (25) adalah warga Asrama Denzipur 10 Waena, distrik Heram Kota Jayapura.

Belum lagi aparat kepolisian berhasil mengungkap sejumlah kasus diatas, Rabu (6/7) sekitar pukul 21.00 WIT, Arwan, PNS di lingkungan Kodam XVII Cenderawasih ditembak orang tak dikenal (OTK) dibagian leher.

Korban yang baru pulang piket itu ditembak OTK saat melintas di jalan alternatif tembus dari Makodam XVII Cenderawasih di Polimak menuju perkantoran Wali kota Jayapura.

Kabar terakhir PNS Kodam itu dikabarkan meninggal dunia.


Situasi mencekam

Kejadian penembakan yang berturut-turut itu menyebabkan kekhawatiran diantara warga Kota Jayapura.

Mereka mengaku trauma dan takut untuk beraktifitas malam setelah terjadi sejumlah peristiwa kekerasan berupa penganiyaan dan penembakan oleh orang yang tak dikenal.

"Biasanya anak saya berjualan makanan hingga larut malam, tapi dengan adanya peristiwa ini kami jadi takut," ujar

Ny Mammudah (51) warga Tanah Hitam, distrik Abepura, Kota Jayapura, Rabu (6/6).

Beberapa warga lainnya mengaku was-was jika harus keluar rumah pada malam hari, sebab penembakan tersebut selama beberapa hari selalu terjadi pada malam hari.


Usut tuntas

Wakil ketua DPRD Kota Jayapura M Darwis Massi meminta kepada aparat kepolisian setempat agar cepat tanggap menangani dan mengatasi masalah penembakan yang terjadi diwilayah tersebut.

Ia mengatakan dengan adanya kasus penembakan yang terjadi belakangan ini di ibu kota provinsi Papua itu telah membuat warga kehilangan hak atas rasa aman dan nyaman.

"Saya yakin sekali dengan adanya penembakan ini, dan sejumlah kasus lainya yang belum terungkap membuat hak rasa aman warga itu semakin hilang," katanya.

Darwis menegaskan bahwa aparat kepolisian setempat seharusnya mulai meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan dengan melakukan patroli secara rutin ke tempat-tempat yang dianggap rawan hingga ke pelosok Kota Jayapura.

Sementara itut komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) Wilayah Papua menyatakan prihatin dengan berbagai peristiwa kekerasan berupa penganiayaan dan penembakan yang belakangan ini terjadi di Kota Jayapura.

Kontras Papua meminta pihak kepolisian segera mengungkap siapa dalang di balik peristiwa itu. Kontras menilai dengan pengalaman kasus serupa yang pernah terjadi di Kota Jayapura dan sekitarnya, seharusnya polisi telah memiliki pedoman untuk melakukan deteksi dini tentang kekerasan seperti kasus penembakan.


Dugaan Pelaku

Secara terpisah, Kapolda Papua Irjen Bigman Lumban Tobing kepada wartawan di Jayapura, Rabu (6/6) mengatakan pihaknya telah membentuk tim khusus untuk penanganan masalah tersebut.

Pihaknya bersama TNI akan mengintensifkan patroli, mengejar pelaku tindak kriminal dan diminta pertanggungjawaban terhadap aksi yang mereka lakukan selama ini.

"Kami akan tingkatkan patroli dan segera ungkap kasus ini," katanya.

Kapolda juga mengatakan sejak bulan Mei 2012 tercatat lima kasus penembakan yang terjadi di kota Jayapura dan sekitarnya.

"Kasus penembakan itu diduga dilakukan organisasi tertentu yang saat ini senantiasa melakukan berbagai aksi yang meresahkan warga," kata perwira bintang dua itu.

Ketika ditanya terkait nama kelompok massa dari sebuah organisasi tertentu, Kapolda Papua mengelak dengan mengatakan pihaknya belum dapat memberitahukan apakah kelompok yang dimaksud adalah organisasi tersebut atau bukan.

"Kami masih terus melakukan penyelidikan guna mengungkap apakah betul kelompok itu yang melancarkan berbagai aksi meresahkan masyarakat yang terjadi di Kodya Jayapura dan sekitarnya," katanya.
(ANT)