Sabtu, 25 Oktober 2014

Memutar roda ekonomi Pulau Enggano

| 5.495 Views
id enggano
....tidak bisa dikebut, perjalan normal 12 jam menjadi 18 jam,"
Bengkulu (ANTARA News) - Perjalanan laut selama 18 jam melintasi Samudra Hindia berakhir setelah kapal feri Pulo Tello merapat di Pelabuhan Kahyapu, Pulau Enggano.

Para penumpang bernafas lega. Pelayaran yang biasa ditempuh selama 12 jam menjadi 18 jam akibat tingginya gelombang perairan Bengkulu hingga Pulau Enggano yang berjarak 106 mil laut dari Kota Bengkulu.

Termasuk lebih dari 50 orang peserta kegiatan "Peduli Enggano" yang digelar Bank Indonesia bekerja sama dengan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Bengkulu serta Bank Pembangunan Daerah Bengkulu yang mengikutseratkan sejumlah jurnalis.

"Kalau cuaca kurang bersahabat biasa seperti ini karena kita melawan arus jadi tidak bisa dikebut, perjalan normal 12 jam menjadi 18 jam," kata Kapten Kapal feri Pulo Tello, Ruba`i.

Ia mengatakan dalam kondisi tertentu, bahkan pelayaran terpaksa dibatalkan akibat cuaca buruk yang sering melanda perairan Bengkulu.

Puluhan warga yang sudah menunggu sejak subuh langsung menyambut kapal yang menjadi transportasi andalan warga yang bermukim di pulau terluar itu.

Sebagian warga menunggu sanak saudaranya yang kembali dari luar pulau dan sebagian langsung bergegas mengangkut sejumlah komoditi hasil bumi ke dalam kapal.

Timori Kauno, warga Desa Malakoni mulai mengangkut sejumlah tandan pisang kepok dan pisang bawean ke dalam kapal.

Pisang itu akan dijual ke Bengkulu dengan harga Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per tandan setelah dibeli dari petani di Pulau Enggano seharga Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per tandan.

"Harga pisang terus naik karena pasokan dari daerah lain tidak banyak jadi petani pisang di Enggano sangat bersemangat," katanya.

Hasil penjualan pisang itu langsung dibawa pulang ke Enggano setelah dibelanjakan sebagian untuk kebutuhan keluarganya.

Tidak adanya fasilitas perbankan untuk menyimpan dan meminjam uang di pulau berpenghuni 3.000 jiwa itu membuat masyarakat menyimpan uang mereka di rumah.

"Sebenarnya kalau ada bank kami mau membuka tabungan karena menyimpan di bank lebih aman, juga bisa bertambah dari bunga tabungan," katanya.

Menurutnya, sudah sejak lama masyarakat Enggano menantikan kehadiran perbankan di pulau terluar itu karena jarak menuju Kota Bengkulu cukup jauh dan bergantung pada kondisi cuaca.

Kehadiran para petugas perbankan dari Bank Indonesia dan Bank Bengkulu yang sudah diketahui warga sebelum rombongan tiba di Pulau Enggano kembali memunculkan harapan untuk mendapatkan akses bank.

Pemimpin Bank Indonesia Bengkulu Causa Iman Karana yang menggagas "Peduli Enggano" mengatakan selain mengadakan bakti sosial, kegiatan itu sekaligus survei pembukaan kantor kas atau kantor cabang pembantu di pulau itu.

"Potensi ekonomi ada, makanya kami menggandeng Bank Bengkulu untuk bersama melakuka survei potensi perbankan dan ternyata Enggano ini punya potensi besar," katanya.

Potensi kelautan dan hasil pertanian dari pulau itu akan semakin berkembang jika difasilitasi perbankan yang menyediakan jasa simpan pinjam.

Selain itu, para pegawai negeri yang bertugas di pulau terluar itu juga dapat mengambil gaji lewat bank tanpa harus berlayar ke Bengkulu.

Rencana membuka kantor kas mendapat sambutan dari para tokoh adat dan tokoh masyarakat di pulau itu saat bertatap muka dengan rombongan "Peduli Enggano".

"Kami harapkan kali ini benar terealisasi jadi tidak perlu ke Bengkulu untuk mengambil dana pensiun," kata anggota veteran Manaf Kaaruba.

Koordinator Kepala Suku atau disebut Pa`abuki Iskandar Zulkarnain Kauno mengatakan sudah saatnya pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat Pulau Enggano.

"Salah satunya dengan penyediaan akses perbankan, kami harapkan kunjungan kali ini benar-benar ada tindaklanjutnya, karena dari BRI sudah pernah datang tapi tidak ada realisasi," katanya.

Selain kebutuhan terhadap akses perbankan, masyarakat di pulau itu juga membutuhkan akses telekomunikasi, listrik dan perbaikan jalan utama yang kondisinya rusak.

Bank Bengkulu
Kerinduan masyarakat Enggano terhadap perbankan itu sepertinya akan berbuah manis sebab Direktur Utama Bank Bengkulu Wimran Ismaun mengatakan siap membuka kantor kas di Pulau Enggano Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara itu.

"Hasil survei awal yang dilakukan petugas, ada potensi untuk membuka kantor kas untuk memutar perekonomian masyarakat di Pulau Enggano," katanya.

Namun, rencana pembukaan kantor kas tersebut akan diputuskan dalam revisi rencana bisnis bank yang akan dibahas pada bulan ini.

Jika pembukaan kantor kas sudah disepakati oleh komite melalui revisi rencana bisnis bank tersebut, serta mendapat izin dari Bank Indonesia maka kantor kas siap dibuka.

"Tapi masih ada variabel lain seperti jaringan komunikasi, potensi ekonomi dan perputaran uang yang terjadi disana," tambahnya.

Kecamatan Enggano terdiri dari enam desa yakni Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meok dan Banjarsari, serta didiami lima suku asli yakni Kauno, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba dan Kaahua.
(KR-RNI)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga