Minggu, 21 Desember 2014

Anak ladang TKI Sabah ukir prestasi SILN

| 6.866 Views
id sekolah indonesia luar negeri, anak tki sabah
Kami berhasil dan menjadi juara dalam Lomba Sekolah Indonesia Luar Negeri kali ini, prestasi yang tak pernah diimpikan sebelumnya."
"Anak ladang!...anak ladang!", teriak Herryanto murid SMP Sekolah Indonesia Kota Kinibalu (SIKK) saat sekolahnya diumumkan menempati urutan pertama dalam ajang lomba antar 14 Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang diselenggarakan di Denpasar, Bali akhir Mei 2012.

Suasana gembira bercampur haru mewarnai rombongan peserta dari anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Kota Kinabalu, Sabah.

Keberhasilan peserta lomba tari asuhan Dwi Kristiyanto dan Sri Ningsih dalam Lomba Apresiasi dan Kreasi Seni dan Sains di Denpasar, Bali yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kali ini bukan hanya menjadi kebanggaan wakil siswa SIKK saja, tetapi menjadi kebanggaan seluruh anak-anak Tenaga Kerja Indonesia di Sabah.

"Kami berhasil dan menjadi juara dalam Lomba Sekolah Indonesia Luar Negeri kali ini, prestasi yang tak pernah diimpikan sebelumnya," ujar Herryanto didampingi Rosmaini dan Titiek kawan satu tim yang telah mengantar kemenangan melalui tarian bertajuk "Dongeng Bocah Ladang".

Wajar saja bila ada luapan kegembiraan di antara rombongan SIKK, karena dari beberapa jenis kompetisi, yakni matematika, story telling, menari, menyanyi dan pidato, akhirnya tim tari mampu meraih juara pertama untuk kategori lomba kreasi tari yang kelak akan mengantar tim tari SIKK itu untuk maju pada lomba tingkat nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 17 Juni sampai dengan 23 Juni 2012.

Luapan kegembiraan Herryanto dan kawan-kawan bukan karena meraih juara pertama semata tetapi bagi wakil murid-murid SIKK lebih pada sebuah harga diri karena selama ini mereka adalah "kelompok tersisih".

"Kemenangan ini telah membangunkan rasa percaya diri kami yang mewakili puluhan ribu anak TKI yang masih belum berkesempatan mengenyam pendidikan karena mereka tinggal di pelosok ladang-ladang sawit di berbagai wilayah Sabah, Malaysia dan khususnya bagi ratusan anak-anak TKI tingkat SD dan SMP yang kini sudah berada dalam binaan kami di SIKK," kata Kepala Sekolah SIKK Dadang Hermawan.

Lomba Apresiasi dan Kreasi Seni Sekolah Indonesia Luar Negeri merupakan ajang kompetisi yang mempertemukan sekolah-sekolah Indonesia di Luar Negeri.

Terdapat 15 Sekolah Indonesia yang memeriahkan kegiatan tersebut, yakni Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (Malaysia), Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (Malaysia), Sekolah Indonesia Singapura, Sekolah Indonesia Davao (Filipina), Sekolah Indonesia Yangon (Myanmar), Sekolah Indonesia Moskow (Rusia).

Kemudian Sekolah Indonesia Riyadh (Arab Saudi), Sekolah Indonesia Jeddah (Saudi Arabia), Sekolah Indonesia Kairo (Mesir), Sekolah Republik Indonesia Tokyo (Jepang), Sekolah Indonesia Wassenaar (Belanda), Sekolah Indonesia Tripoli (Libya), Sekolah Indonesia Damaskus (Suriah), Sekolah Indonesia Bangkok (Thailand), dan Sekolah Indonesia Beogard (Yugoslavia).

Bila kebanyakan Sekolah Indonesia Luar Negeri lainnya berdiri dengan latar belakang untuk memfasilitasi pendidikan anak para pegawai Kantor Perwakilan Republik Indonesia dan para profesional Indonesia yang bekerja di luar negeri, maka SIKK memiliki latar belakang sejarah yang unik.

Sekolah yang didirikan pada tanggal 1 Desember 2008 ini terbentuk atas dasar pertemuan bilateral antara dua kepala negara Indonesia dan Malaysia, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Abdullah Badawi yang melahirkan kesepakatan untuk memberikan layanan pendidikan bagi sekitar 24.199 anak-anak Indonesia (Data Konsulat Jenderal Republik Indonesia Kota Kinabalu tahun 2008) di negeri Sabah.

"Anak-anak ini merupakan anak para pekerja Indonesia yang mencari peruntungan di negeri seberang dan kebanyakaan bekerja sebagai buruh di ladang-ladang sawit serta pekerja kasar di berbagai sektor ekonomi di Negeri Jiran tersebut", ungkap Dadang.

Di negeri Sabah, keberadaan anak-anak TKI dapat dikatakan sebagai ilegal, karena tidak memiliki hak yang sama seperti anak-anak warga negara Malaysia. Termasuk dalam hak memperoleh pendidikan, pemerintah Malaysia tidak dapat memfasilitasi anak-anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan di sekolah Malaysia dikarenakan ketidaklengkapan dokumen yang mereka miliki, ujarnya.

"Puluhan ribu orang anak Indonesia berada dalam keadaan yang terlunta-lunta di negeri Sabah ini. Atas dasar alasan ini lah SIKK lahir, Sekolah ini mempunyai tanggung jawab untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak para pekerja Indonesia di Sabah. Dengan berdirinya SIKK, anak-anak Indonesia di negeri Sabah berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana anak-anak Indonesia lainnya," kata Dadang.

Salah satu misi utama SIKK adalah membuat mereka berani untuk bercita-cita dan memiliki impian. "Cita-cita dan Impian, dua kata ini tidak akrab di sebagian telinga anak-anak Indonesia di sini. Hampir tidak pernah terpikirkan dalam benaknya kalau mereka akan mampu menorehkan prestasi besar dalam kehidupannya, karena yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari hanyalah bekerja membantu orang tua mereka, seperti membantu menjaga adik saat orang tua mereka pergi bekerja dan memungut biji sawit".

Karena itu, sejak tahun 2008 dirintis pendirian SIKK untuk menampung ratusan anak-anak TKI yang orang tuanya bekerja sebagai buruh kasar di sekitar Sabah, baik sebagai pemetik kelapa sawit, supir taksi, kuli bangunan, kuli bongkar muat dan sebagainya.

Di sekolah Indonesia anak-anak TKI diperkenalkan dan diajarkan kurikulum Indonesia dan berbagai perkembangan tentang Indonesia yang selama ini sama sekali anak-anak tidak ketahui. "Mereka buta tentang Indonesia sekalipun di tubuh mereka mengalir darah Indonesia. Kondisi itu terjadi karena orang tua mereka rata-rata berpendidikan rendah sehingga tidak mampu mendidik dengan baik, terutama soal sopan santun".


Mimpi Jadi Kenyataan


Berkesempatan untuk mengikuti Lomba Sekolah Indonesia Luar Negeri membangkitkan antusias, semangat anak-anak TKI, apalagi untuk pertama kali dalam hidup mereka akan menginjakkan kakinya di tanah tumpah darah Indonesia.

Anak-anak berlatih siang dan malam tanpa mengenal kata lelah. Namun tidak sedikit tantangan yang dihadapi anak-anak serta para guru Indonesia yang melatih dan menggembleng anak-anak karena resiko dihadapi dengan seringnya operasi pemeriksaan dokumen yang gencar dilakukan oleh pemerintah Sabah, Malaysia.

"Paspor merupakan benda yang wajib dibawa jika tidak mau tertangkap oleh pihak berwenang. Tak jarang demi keamanan bersama para guru dan juga kepala sekolah merangkap menjadi pekerja antar jemput untuk mengantarkan para calon peserta lomba SILN," kata Dwi Kristiyanto, guru seni di SIKK.

Tim tari terdiri dari Herryanto, Rosmaini dan Titiek, tim menyanyi, yakni Lorenzo dan Nurul Ayuni, Alya (pidato), Zaenal (matematika), dan Maria Jovinta (story telling) seringkali kelelahan karena harus menempuh jarak cukup jauh dari sekolah antara 20 km hingga 25 km bahkan sering sampai rumah sudah tengah malam atau dini hari, katanya.

"Saya dan kawan-kawan memang sesekali merasa jenuh dan lelah tetapi berkat dorongan dari Pak Dadang selalu membuat diri kami semangat. Saya ingin membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing. Rasa gelisah, penat dan letih selalu menghantui kami, tetapi dengan tujuan besar kami ingin menjuarai lomba semuanya bisa disingkirkan,"ujar Herryanto.

Apalagi, ujar Herryanto, bila mengingat akan berlomba di Bali yang disebut surga dunia, ia dan kawan-kawannya sangat gembira karena bisa naik pesawat terbang dan tidur di hotel yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

"Saya dan kawan-kawan berharap bisa lebih berprestasi lagi terutama di lomba tingkat nasional di Mataram. Saya bersama Rosmaini dan Titiek Munarty dari tim tari sudah serasa sehati dan sejiwa. semoga saja sukses," tambahnya.

Tarian "Dongeng Bocah Ladang" merupakan jenis tarian kreasi baru yang di ciptakan karena terinspirasi dari kehidupan anak-anak para pekerja buruh Indonesia di pedalaman ladang-ladang kelapa sawit di Sabah Malaysia. Gerak yang digunakan adalah pengungkapan gerak sehari-hari yang di perhalus menjadi gerak yang kreatif dan menarik yang berunsurkan tari tradisi Indonesia.

Cerita dalam karya tari ini menggambarkan keakraban, semangat kebersamaan dalam bekerja, dan keceriaan anak-anak dalam bermain, pada waktu mereka membantu orang tua mereka bekerja di ladang kelapa sawit. Properti yang di gunakan adalah lentera, basung (tempat menyimpan kelapa) dan daun kelapa sawit.

"Kebanggaan kami adalah karena anak-anak ini semuanya merupakan anak TKI yang dilatih dari nol sehingga menjadi semahir sekarang. Dengan kesabaran dan ketekunan dari para guru dan kepala sekolah yang luar biasa. Meski terkadang mereka merasa letih dan lelah tetapi terus kami pompa semangatnya sehingga akhirnya bisa menyelsaikan latihan dengan baik", kata Dadang Hermawan Kepala Sekolah SIKK.

Keberangkatan delapan siswa delegasi SIKK menuju Bali bukan sekedar misi sekolah. Lebih jauh lagi, mereka berangkat membawa nama seluruh warga negara Indonesia di Sabah yang sebagian besar berstatus sebagai pekerja dan buruh. Sebuah misi luar biasa yang diemban mereka untuk membuktikan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk bangkit dan berprestasi, ujarnya.

Meski SIKK tidak berhasil mendapatkan satu piala pun di bidang menyanyi, story telling, pidato, dan matematika. Akan tetapi sebuah kebanggaan tersendiri karena SIKK berhasil merebut juara satu di kategori Lomba tari yang merupakan kategori paling bergengsi dalam lomba kali ini. (Z003/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca