Sabtu, 20 September 2014

Berita sangat penting, keselamatan wartawan lebih penting

Selasa, 12 Juni 2012 15:44 WIB | 1.687 Views
Berita sangat penting, keselamatan wartawan  lebih penting
Dokumen foto hasil liputan wartawan dalam bencana kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di kawasan Gunung Salak. (ANTARA/Jafkhairi)
Jakarta (ANTARA News) - Redaktur senior surat kabar harian umum Kompas, Mohammad Subhan, menegaskan bahwa berita dalam liputan operasi pencari dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) sangat penting, namun keselamatan wartawan jauh lebih penting lagi.

"Berita itu sangat penting, namun keselamatan jauh lebih penting,: ujarnya dalam seminar "Keselamatan Jurnalis dalam Liputan Berisiko Tinggi" yang diadakan Serikat Pekerja ANTARA (SPA) di Auditorium Adhyana, Wisma Antara, Jakarta, Selasa.

Seminar itu membahas keselamatan wartawan/jurnalis/reporter/awak pers dalam liputan yang berisiko tinggi yang belajar dari peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 pada 9 Mei 2012, yang menewaskan 45 penumpang dan awaknya, di kawasan Gunung Salak Bogor, Jawa Barat.

Subhan mengatakan, wartawan dalam operasi SAR berperan sangat penting sebagai penyampai informasi kepada masyarakat, namun kurangnya persiapan dapat membuat mereka justru tersesat saat liputan.

"Seharusnya jurnalis itu meliput, tapi akhirnya malah diliput," kata Subhan.

Saat terjadi bencana, menurut dia, maka wartawan diharapkan dapat menanggapinya secara cepat dan mengumpulkan bahan berita secara akurat. Apalagi, Indonesia termasuk dalam kawasan yang berada di bawah pusaran daerah bencana, sehingga wartawan harus bisa mengenali jenis-jenis bencana terlebih dahulu.

"Indonesia termasuk kedalam kawasan yang berada di bawah pusaran bencana, diantaranya jalur ring of fire atau cincin api, ekspolitasi sumber daya alam, kecelakaan, kebakaran dan konflik. Maka dari itu, jurnalis harus bisa mengenali dulu jenis-jenis bencananya," ungkap dia.

Jenis-jenis bencana tersebut, dikemukakannya, antara lain gempa, gelombang pasang air laut (tsunami), badai, dan gunung meletus, yang termasuk ke dalam bencana alam.

Selain itu, katanya, penggundulan hutan termasuk ke dalam bencana akibat perbuatan manusia. Kecelakaan pesawat, kapal laut, mobil dan kereta api termasuk ke dalam bencana kecelakaan. Pencemaran lingkungan termasuk kedalam bencana teknologi serta bencana konflik, perang dan terorisme, ujarnya.

Setelah mengetahui jenis bencana, maka wartawan harus melakukan pelatihan dan persiapan peliputan bencana, dan memiliki kesiapan fisik dan mental.

Sebelum terjun ke lokasi bencana yang akan diliput, ia mengemukakan, wartawan harus mencari informasi tentang lokasi yang meliputi kondisi alam, suhu dan pemukiman penduduk terdekat.

Kemudian, wartawan harus mengetahui akses lokasi, apakah bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua atau empat, perahu, kapal laut, helikopter dan pesawat terbang?

Selain itu, wartawan harus mengetahui nomor kontak warga setempat atau pihak yang berwenang, serta menyiapkan alat pribadi, alat kerja, seperti telepon seluler, komputer jinjing, handy talkie (HT), dan alat keselamatan layaknya senter, kompas, pelampung, masker dan rompi antipeluru.

Subhan juga mengatakan, seminar dan pelatihan diharapkan akan lebih membuat  wartawan memperhatikan keselamatan dirinya, dan mempersiapkan diri untuk liputan siaga bencana.

"Dengan adanya seminar ini, saya harap ke depannya para jurnalis bisa lebih memperhatikan keselamatan jiwanya yang harus dipersiapkan dari sekarang", katanya menambahkan.
(T.Citra* Wilda* A011/Rw.P003)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga