Minggu, 21 Desember 2014

Suu Kyi lakukan lawatan ke Eropa

| 2.331 Views
id aung san suu kyi, suu kyi ke eropa, kunjungan suu kyi ke eropa
Suu Kyi lakukan lawatan ke Eropa
Aung San Suu Kyi (FOTO REUTERS/Damir Sagolj)
Suu Kyi juga akan bergabung dalam "reuni keluarga" di Inggris
Yangon (ANTARA News) - Ikon demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi Rabu meninggalkan Yangon untuk perjalanan pertamanya ke Eropa sejak 1988 guna secara resmi menerima Nobel Perdamaian yang mendorong dia menjadi pusat perhatian dunia dua dekade lalu.

Kunjungannya menandai tonggak baru dalam perubahan politik yang telah melanda seluruh negeri yang sebelumnya dikenal sebagai Burma sejak militer yang berkuasa langsung puluhan tahun berakhir tahun lalu, dan membawa kekuasaan pemerintahan kuasi-sipil baru.

"Saya ingin melakukan yang terbaik untuk kepentingan rakyat," kata Suu Kyi kepada wartawan sebelum pesawatnya meninggalkan Bandara Yangon.

Dia akan mengunjungi Swiss, Norwegia, Inggris, Prancis dan Irlandia yang tercakup dalam tur selama dua pekan, termasuk rencananya untuk berpidato di Oslo untuk Hadiah Nobel Perdamaian 1991.

Dia pergi pada saat wilayah barat Myanmar diguncang oleh ketegangan sektarian antara warga Budha dan Muslim Rohingya. Presiden Thein Sein telah memperingatkan ketegangan sektarian itu bisa mengganggu proses reformasi negara yang masih rapuh.

Juru bicara Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Suu Kyi mengatakan, bahwa mantan tahanan politik itu telah memerintahkannya untuk bekerja "membantu kedua pihak secara seimbang" sebelum ia berangkat ke Eropa.

Suu Kyi akan berbicara pada konferensi Organisasi Perburuhan Internasional, menyampaikan pidato di depan parlemen Inggris dan menerima penghargaan Hak Azasi Manusia Amnesty International di Dublin dari bintang rock Bono.

Suu Kyi juga akan bergabung dalam "reuni keluarga" di Inggris, kata partainya.

Selama bertahun-tahun, pemimpin oposisi itu tidak berani meninggalkan negaranya - bahkan untuk melihat anak-anaknya atau suaminya pria Inggris sebelum kematiannya akibat kanker pada tahun 1999 - takut para jenderal yang berkuasa tidak akan membiarkan dia kembali.
(H-AK)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga