Sabtu, 25 Oktober 2014

BI terus pantau krisis Eropa

| 4.336 Views
id krisis moneter, krisis global, kris eropa, solusi atasi krisis, pejabat bi perry warjiyo, bank indonesia
BI terus pantau krisis Eropa
Bank Indonesia - BI (FOTO ANTARA News)
Kami akan memanatau terus dampak krisis baik di Yunani, Spanyol dan rambatannya ke Italia terhadap perekonomian Indonesia,"
Jakarta (ANTARA  News) - Bank Indonesia menjelaskan akan terus memantau krisis di wilayah Eropa menjelang pemilihan umum di Yunani pada Ahad (17/6).

"Kami akan memanatau terus dampak krisis baik di Yunani, Spanyol dan rambatannya ke Italia terhadap perekonomian Indonesia," jelas Direktur Eksekutif Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat.

Menurut Perry, dampak yang terjadi akibat krisis Eropa sudah terasa sejak beberapa bulan lalu seperti tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.

Namun dia menegaskan bahwa pelemahan terhadap nilai tukar tidak hanya terjadi kepada mata uang rupiah melainkan juga kepada sejumlah negara lain seperti mata uang won Korea dan ringgit Malaysia serta beberapa mata uang lain di kawasan ASEAN.

"Kami mengharapkan resolusi di Eropa segera terjadi. Sehingga dampaknya terhadap pelemahan mata uang di negara `emerging market` karena semua negara terkena dampak pelemahan itu," kata Perry.


Upaya BI

BI telah meluncurkan deposito valas berjangka (TDV) yang lebih mengoptimalkan pasokan valas di dalam negeri yang sebelumnya banyak disimpan di luar negeri.

"Tentu saja dari bank sentral, tambahan dari pasokan valas ini akan menambah ke pasar valas dalam negara. Selama ini masih terjadi kelebihan permintaan dari pasokan yang ada," tambah Perry.

Menurut Perry, BI akan terus mengawasi pasar valas melalui TDV hingga pasar dalam kondisi normal dengan berkurangnya tekanan pelemahan rupiah dari luar negeri.

Dengan TDV, BI menjadi mediator bagi bank yang memerlukan valas terhadap bank yang memiliki kelebihan valas.

"Bank akan mempertimbangkan kalau di luar negeri mereka dapat berapa. Kalau tempatkan di luar negeri di bank komersial, sementara kalau di BI kan karena bank sentral, jadi dari sisi `risk assessment` tentu saja resiko penempatan di luar negeri lebih besar dari pada di BI yang bebas resiko," jelas Perry.
(B019)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Top News
Baca Juga