Sabtu, 1 November 2014

Empat musuh forensik digital

| 3.864 Views
id forensik digital, ahli forensik digital, puslabfor mabes polri, kejahatan digital, digital forensic analyst team, anti-forensik digital,
Depok, Jawa Barat (ANTARA News) - Kegiatan forensik digital memang dibutuhkan aparat penegak hukum, termasuk Kepolisian Republik Indonesia  untuk mengungkap kasus-kasus kejahatan terkait penggunaan peralatan elektronika.

Namun, investigasi digital yang dilakukan Tim Analis Forensik Digital (DFAT) Pusat Laboratorium Forensik  Markas Besar Polri bukan tanpa hambatan.

Kepala DFAT Puslabfor Mabes Polri, Komisaris Polisi Muhammad Nuh Al-Azhar, mengatakan terdapat empat tindakan anti-forensik digital selepas peluncuran buku "Digital Forensic: Panduan Praktis Investigasi Komputer" di Kampus Universitas Indonesia Depok, Senin.

"Pertama adalah kriptografi dengan melakukan enkripsi suatu file," kata pengarang buku Digital Forensic itu.

Anti-forensik digital kedua, lanjut Kompol Nuh, steganografi yaitu penyembunyian informasi yang tersimpan di media penyimpanan digital.

"Ketiga adalah kegiatan wipping atau penghapusan data secara sempurna dan terakhir, adalah peretasan (hacking)," kata alumnus Forensic Informatics dari University of Strathclyde Inggris itu.

Meskipun demikian, Nuh mengatakan DFAT masih mampu mengungkap kasus-kasus kejahatan yang melibatkan dokumen digital, seperti kasus pembobolan perbankan internet.

"Tidak ada bentuk kejahatan yang sempurna. Kami akan terus mengungkapnya," kata Nuh.

 (I026)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca