Kamis, 18 September 2014

Apapun kejahatannya, forensik digital lawannya

Senin, 18 Juni 2012 14:54 WIB | 2.270 Views
Apapun kejahatannya, forensik digital lawannya
Ilustrasi Digital Forensik (accountingcertificateprograms.org)
Depok, Jawa Barat (ANTARA News) - Penegak hukum di Indonesia kini semakin mengandalkan keahlian forensik digital untuk mengungkap suatu kasus termasuk kasus kriminal non-digital.

"Tindak kriminal seperti pembunuhan, perampokan, penipuan, narkoba, dan korupsi dapat dilacak dari peralatan yang digunakan pelaku," kata Kepala Tim Analis Forensik Digital (DFAT) Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Komisaris Polisi Muhammad Nuh Al-Azhar, selepas peluncuran buku "Digital Forensic: Panduan Praktis Investigasi Komputer" di Kampus Universitas Indonesia Depok, Senin.

Nuh mengatakan forensik digital dibutuhkan polisi karena pelaku kejahatan cenderung memakai peralatan elektronika seperti telepon seluler dan komputer jinjing.

"Sekarang sudah bukan lagi zaman pemaksaan saksi ataupun terdakwa untuk mendapatkan keterangan. Tindakan kejahatan harus dibuktikan secara ilmiah," kata anggota Polri yang juga pengarang buku Digital Forensic itu.

Tren kejahatan di Indonesia yang melibatkan perangkat digital, menurut Nuh, mengalami peningkatan signifikan sejak 2010 dan 2011.

"Pada 2010 kami mengungkap 52 kasus dengan sekitar 200 barang bukti. Pada 2010 jumlah kasus menjadi 60 dan barang bukti sekitar 400. Padahal pada 2009 hanya terdapat sekitar 20 barang bukti," kata alumnus Forensic Informatics dari University of Strathclyde Inggris itu.

Dalam buku karangannya, Nuh membahas ilmu forensik digital dari aspek legal hingga aspek teknis.

"Ada pula pembahasan tentang bagaimana ahli forensik digital dapat dijadikan sebagai saksi dalam suatu persidangan," kata Nuh.

(I026)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca