Jakarta (ANTARA News) - Mantan atlet renang andalan Indonesia, Richard Sam Bera, mengatakan ada yang salah dalam sistem Pekan Olahraga Nasional (PON) sehingga atlet bisa diperjualbelikan atau terjadi pembajakan atlet.

"Sistem PON berubah karena sudah melenceng dari tujuan utama. Pada PON terjadi banyak pembajakan atlet, sering terjadi mereka menyimpan atlet untuk PON," kata Richard usai acara "P&G Proud Sponsor of Moms" di Jakarta, Selasa.

Menurut Richard, tujuan awal PON adalah untuk pembinaan atlet Indonesia namun hal itu disalahgunakan untuk berbagai kepentingan yang akhirnya menjebak atlet itu sendiri.

"PON itu menjadi kendaraan politik untuk menyukseskan seorang tokoh, belum lagi dalam persiapannya menjadi kesempatan untuk pembobolan anggaran daerah serta terjadi korupsi pada pelaksanaanya," jelas Richard.

Sementara pemberian bonus yang diberikan tidak setara dengan tingkatan ajang turnamen. Richard menuturkan bonus prestasi di PON ditawarkan jauh lebih tinggi dari Olimpiade. Ia menilai seharusnya ada sistem penghargaan berjenjang yang setara.

Ia mencontohkan pernah ada atlet yang diberikan pilihan untuk mengikuti PON atau Olimpiade sementara bonus prestasi PON yang ditawarkan jauh lebih besar.

"Akhirnya atlet itu memilih PON karena bonusnya. Atlet terjebak karena atlet juga manusia, punya keluarga. Sistem yang membuat mereka seperti itu," kata Richard.

"Kalau sistemnya baik dengan makin tinggi ajang maka apresiasi makin tinggi, mereka pasti juga akan memilih ajang yang lebih tinggi," tambahnya.

Padahal menurut Richard, tidak semua atlet bisa tampil di Olimpiade, sementara PON hanya batu loncatan menuju tingkatan yang lebih tinggi.

Pada kesempatan yang sama, mantan atlet bulu tangkis yang juga peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti, mengatakan hal yang senada. Menurutnya harus ada perbaikan sistem sehingga atlet yang berpotensi memiliki pola pikir untuk mencapai prestasi puncak hingga ajang tertinggi.

"Seorang atlet bisa diperjualbelikan sehingga atlet bermimpi hanya menjadi juara PON saja. Jangan sampai hanya karena materi, membuat prestasi mandek hanya di PON saja, ini juga yang membuat prestasi Indonesia mandek," kata Susy.

Sementara itu, Richard juga menilai tujuan PON harus kembali lagi pada tujuan utama, yakni pembinaan atlet oleh karena itu peserta PON sebaiknya juga diperuntukkan bagi atlet muda dan diprioritaskan untuk cabang-cabang olahraga yang tidak masuk di Olimpiade.

"Cabang-cabang Olimpiade misal renang atau atletik dihilangkan saja dan beri kesempatan untuk cabang-cabang sepatu roda, panjat tebang, dan lainnya yang tidak punya kesempatan ke ajang yang lebih tinggi," kata Richard yang menjabat Direktur Media dan Pengembangan Bisnis Asosiasi Olympian Indonesia.

(M047)