Sabtu, 2 Agustus 2014

REI pelajari kiat Singapura tarik investor properti

Selasa, 19 Juni 2012 19:27 WIB | 1.835 Views
REI pelajari kiat Singapura tarik investor properti
Pameran perumahan Seorang pengunjung mengamati maket rumah pada pameran perumahan di Semarang, Jateng, Kamis (2/2). Pameran yang diselenggarakan Real Estate Indonesia (REI) dan akan berlangsung hingga 13 Februari itu ditargetkan bisa mencapai transaksi sebesar Rp 60 miliar. (FOTO ANTARA/R. Rekotomo)
Singapura (ANTARA News) - Asosiasi pengusaha pengembang Real Estat Indonesia (REI) melakukan studi banding ke Singapura dan Malaysia terkait kepemilikan asing di sektor properti.

"Kunjungan ini bagian dari program REI mempelajari pemberlakuan oleh pemerintah Singapura dan Malaysia terhadap investor asing yang akan masuk di sektor properti," kata Wakil Ketua DPP REI Joko Slamet Utomo, di sela-sela acara "Media Group REI Property Visit", di Singapura, Selasa.

Kunjungan tersebut juga melibatkan pengurus daerah REI seperti DKI Jakarta, Papua, Batam, dan Surabaya.

Di Singapura, rombongan akan mengunjungi kantor Urban Redevelopment Authority (URA) semacam badan perencanaan penggunaan lahan dan badan pemberi otoritas konservasi di Singapura.

Kemudian juga mengunjungi Association of Singapore Realtors (ASR), Association of Singapore Real Estate Agents (ASREA) dan Society of Singapore Institute of Surveyors and Valuers Accredited Estate Agents (SOCREA).

Tiga badan asosiasi ini bertugas mempromosikan dan melindungi kepentingan agen realestat Singapura.

Selain itu mengunjungi pula Housing and Development Board (HBD), lembaga badan hukum milik departemen pembangunan nasional dan bertanggungjawab untuk perumahan rakyat di Singapura.

Menurut Joko, hasil studi banding tersebut akan menjadi masukan bagi pemerintah Indonesia terkait wacana diperbolehkannya asing memiliki properti hingga 99 tahun.

Ia menjelaskan, Singapura merupakan salah satu negara yang sukses mengembangkan properti terutama yang diperuntukan asing.

"Terbukti Singapura telah menjadi salah satu tujuan utama investor properti di kawasan Asia Tenggara," ujarnya.

Sementara itu Deputy General Manager Far East Organization, Tommy William, mengatakan, satu daya dorong terus bertumbuhnya sektor properti di sini (Singapura) adalah tidak ada larangan untuk kepemilikan asing.

Faktor lainnya adalah suku bunga yang rendah 1-2 persen, dan warga asing yang akan berinvestasi justru diperbolehkan untuk mendapatkan pinjaman perbankan hingga sekitar 80 persen dari harga pembelian.

Selain itu, investor asing tidak dikenakan pajak perolehan modal, tidak ada pajak warisan, dan jadwal pembayaran yang teratur karena semua pengembang di Singapura mendapat jaminan dari pemerintah.

"Prospek bisnis properti Singapura juga didukung mata uang yang stabil, pendapatan sewa yang tinggi, dan pasar sekunder yang terus aktif," kata William.

Berdasarkan hasil survei Property Asia Market 2011, warga Indonesia menjadi pemburu properti ketiga terbesar Singapura.

"Malaysia pembeli properti terbesar di Singapura yang mencapai 27 persen, disusul China 20 persen, dan Indonesia 17 persen, serta India 12 persen," kata William. (R017/I007)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga