Minggu, 26 Oktober 2014

Berharap solusi dari Los Cabos?

| 5.435 Views
id pertemuan G-20, los cabos, meksiko, krisis zona euro, krisis eropa
Berharap solusi dari Los Cabos?
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (FOTO ANTARA/Setpres-Abror/HO)
Saya tidak akan berpura-pura memiliki solusi...
Los Cabos, Meksiko (ANTARA News) - Bermandikan sinar matahari di salah satu pantai populer dunia dengan iringan musik mariachi boleh jadi adalah salah satu pilihan bersantai yang tepat.

Namun, sayangnya bukan untuk bersantai alasan 20 pemimpin ekonomi dunia yang tergabung dalam kelompok ekonomi 20 atau G-20 terbang puluhan kilo meter dari negaranya menuju ke salah satu tempat peristirahatan mahal di Los Cabos, Meksiko, pekan ini.

Di bawah ancaman krisis keuangan global, selama dua hari, 18-19 Juni 2012, para pemimpin ekonomi itu harus memutar otak, mencari cara untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan ekonomi dunia, seiring dengan tidak kunjung pulihnya perekonomian di zona Euro.

Tuntutan dunia internasional agar G-20 segera menemukan suatu sistem yang tepat untuk mendesain ulang arsitektur keuangan global tahun ini kembali tenggelam di bawah bayang-bayang krisis keuangan yang membelit Yunani dan mulai menyeret Italia dan Spanyol ke jurang yang sama.

Selama beberapa bulan terakhir, dunia harap-harap cemas menanti solusi yang akan diambil oleh Uni Eropa untuk masalah itu--mengingat krisis yang menggantung itu membuat kondisi keuangan global juga tidak menentu.

Sambil menatap birunya pantai Los Cabos, ke-20 pemimpin ekonomi itu diharapkan minimal mampu mendorong Uni Eropa untuk segera mencapai kesepakatan tentang penyelesaian krisis sebelum dampaknya menyebar ke seluruh dunia.

Namun keberhasilan pemilihan umum di Yunani pun tidak berhasil membuahkan senyum di wajah para pemimpin ekonomi 20 itu.

Walaupun tentu saja sebagian di antaranya merasa lega mengingat partai pendukung bantuan internasional memenangkan pemilihan umum, meskipun tipis.

Kini semua tengah menanti keputusan apa yang akan dilakukan Yunani--dan Eropa pada umumnya--untuk menyelamatkan kawasan itu dan mengakhiri ketegangan keuangan global.

Sekalipun Uni Eropa pada umumnya menolak untuk duduk di kursi tertuduh untuk kasus pelambatan ekonomi global namun Kanselir Jerman Angela Merkel, di sejumlah media, berulang kali menyatakan kekesalannya atas lambatnya penerapan program reformasi keuangan Yunani.


Solusi Eropa


Harapan agar Eropa segera mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan permasalahan kawasan itu juga disampaikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Secara terbuka di hadapan ratusan pelaku dunia usaha yang tergabung dalam forum Bisnis 20, Presiden mengatakan bahwa ketiadaan solusi untuk krisis zona Euro hanya akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat global.

"Kami semua sangat prihatin dengan skala dan besaran krisis di kawasan Eropa...Saya tidak akan berpura-pura memiliki solusi untuk mengatasi masalah ekonomi, politik, dan sosial yang sangat kompleks di kawasan Eropa, namun saya harap negara-negara Eropa mampu segera mengatasinya," kata presiden.

Kepala Negara menambahkan, krisis ekonomi yang berkepanjangan di kawasan Eropa dan dinamik politik di Yunani saat ini telah mempengaruhi pusat dari sektor keuangan serta sektor riil di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

"Saat ini, volume ekspor kami secara bertahap terkena dampak dari pemulihan ekonomi global yang lemah," paparnya.

Ia kemudian mengutip data sejumlah lembaga keuangan dunia yang menyebutkan, pada 2012 perekonomian dunia akan makin sulit.

IMF, menurut Presiden, meramalkan pertumbuhan ekonomi dunia akan turun dari empat persen pada 2011 menjadi 3,5 persen pada tahun ini.

Sementara itu OECD, lanjut Presiden Yudhoyono, meramalkan kawasan Eropa akan mengalami kontraksi hingga dua persen pada 2012.

"Bank Dunia juga memperkirakan bahwa pertumbuhan di Asia-Pasifik akan melambat dari 8,3 persen pada 2011 menjadi 7,6 persen tahun ini," ujarnya seraya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 ditargetkan sebesar 6,5 persen.

Sementara itu Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia menyambut baik hasil pemilihan umum Yunani namun mengaku hingga saat ini belum mendengar langkah-langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah baru untuk mengatasi krisis.


Bukan Prioritas


Pada saat sejumlah pihak sibuk memberikan tekanan kepada G-20 untuk segera muncul dengan satu solusi yang dapat mendorong penyelesaian krisis Yunani, sebagian yang lain memprotes keras keputusan para pemimpin ekonomi dunia itu.

Di bawah terik matahari Los Cabos, sejumlah organisasi non-pemerintah menggelar aksinya menentang keputusan yang mereka sebut sebagai "salah arah" itu.

Mereka menyebut bahwa prioritas utama G-20 semestinya adalah menyelamatkan kelompok miskin sehingga isu-isu kemiskinan, ketahanan pangan, dan pembiayaan pembangunan seharusnya lebih mendominasi perundingan yang berlangsung selama dua hari itu.

Dominasi kuat krisis Yunani dalam forum-forum diskusi G-20 mereka sebut sebagai kemenangan sekali lagi kelompok "berkuasa" atas kaum minoritas.

Di tengah-tengah melemahnya perekonomian dunia, jumlah kelompok rentan menjadi meledak dari tahun-tahun sebelumnya. Jutaan orang di seluruh penjuru dunia kehilangan pekerjaan dan peluang untuk hidup layak, sementara sisanya berjuang untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya atas pangan.

Dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan munculnya sejumlah anomali alam, yang dikaitkan dengan perubahan iklim, dunia bergulat untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh menipisnya sumber pangan dan energi. Ketahanan pangan dan energi adalah dua dari sejumlah isu krusial yang selalu menghiasi sejumlah perundingan tingkat atas.

Namun, entah untuk pertemuan bersejarah di Los Cabos kali ini.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga