Sabtu, 2 Agustus 2014

Malaysia diklaim jadi pencoleng kekayaan budaya

Selasa, 19 Juni 2012 21:25 WIB | 3.586 Views
Malaysia diklaim jadi pencoleng kekayaan budaya
Tari tor-tor asal Sumatera Utara yang diklaim oleh Malaysia. (istimewa)
Jakarta (ANTARA News) - Buntut dari kasus tarian tor-tor dan gondang sambilan melibatkan Malaysia, Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, menyatakan, Malaysia dia klaim sebagai "pencoleng" kekayaan budaya Indonesia.

Alasan dia sederhana saja, negara itu kerap mengklaim kepemilikan warisan budaya nusantara yang turun-temurun ada dan dilestarikan masyarakat Indonesia.

Tarian tor-tor dan ansambel perkusi gondang sambilan (gendang sembilan) adat Batak Mandailing, Sumatera Utara, diwacanakan pemerintah Malaysia masuk ke dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005 negara itu. 

Malaysia berargumen semata karena komunitas Batak Mandailing telah beranak-cucu di sana sejak lama dan tetap menarikan tarian-tarian adat itu di bumi Malaysia sampai kini.

Masalah ini, kata Nainggolan, bisa makin besar jika pemerintah Indonesia tidak tegas dalam menjaga kehormatan nilai-nilai budaya nasional dalam bentuk dan besaran apapun. 

Singkatnya, Indonesia harus lebih terang-terangan menegaskan secara resmi apapun bentuk dan produk budaya serta kebudayaan yang dimiliki. 

Pada ranah produk budaya, dia memberi catatan, dimulai dari klaim memiliki kekayaan budaya batik oleh Malaysia. Indonesia mendaftarkan batik dan berbagai motif, jenis, dan tipenya ke UNESCO; sampai akhirnya dikukuhkan menjadi warisan asli budaya Indonesia pada 2 Oktober 2009.

Klaim Malaysia berlanjut pada lagu Rasa Sayange, kebanggaan masyarakat Maluku. Hal ini memicu pernyataan kemudian dari Menteri Penerangan dan Komunikasi Malaysia, Rais Yatim, bahwa lagu itu milik Indonesia pada 11 November 2007.

Masih ada lagi. Malaysia masih mengklaim kesenian reog ponorogo, wayang kulit, kuda lumping, tari pendet, tari piring, angklung, gamelan, keris, serta makanan rendang, sebagai warisan budaya mereka.

Hal ini sangat sensitif bagi rakyat Indonesia. Dia menilai, ulah Malaysia itu merusak nilai-nilai historis suatu negara (Indonesia); selain cara mereka yang tidak pas sebagai negara bertetangga dalam kerangka persekutuan bangsa-bangsa Asia Tenggara.   

(B009/A023)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga