Selasa, 23 Desember 2014

Malaysia ijinkan orang asing miliki properti

| 2.983 Views
id perumahan malaysia, orang asing, kepemilikan rumah, malaysia
Ini yang mendorong minat asing untuk membeli properti di Malaysia
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Pemerintah Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memberikan kemudahan kepada orang asing memiliki properti untuk rumah tinggal maupun kondominium.

"Warga asing di sini bebas membeli properti dengan status hak milik, namun jatah kepemilikan dalam suatu proyek berkisar 20-40 persen," kata General Manager Property Division (South) SP Setia Bhd Group, Hoe Mee Ling, saat menerima kunjungan Real Estat Indonesia (REI)-Media Group Property Visit, di kantor pemasaran Setia Eco Gardens, di kawasan Johor Baru, Malaysia, Rabu.

Selain Malaysia, negara yang sudah membebaskan warga negara asing untuk memiliki properti adalah Singapura.

SP Setia BHD Group merupakan perusahaan properti terkemuka di Malaysia yang juga memiliki proyek properti prestisius di Singapura, Australia, China dan Vietnam.

"Kalau di Singapura warga asing hanya boleh memiliki kondominium, tapi di sini (Malaysia) diperbolehkan untuk memiliki kondominium dan juga rumah tapak (landed house)," kata Hoe.

Meski demikian, diutarakannya, pemerintah Malaysia memberikan aturan yang jelas dengan mengenakan pajak sebesar 10.000 Ringgit Malaysia setiap membeli unit kondominium mapun rumah hunian.

"Di satu sisi dikenakan pajak, tapi di sisi lain juga diberikan kemudahan bagi mereka (asing) untuk meminjam uang kepada bank (loan to value/LTV) hingga 70 persen dari nilai properti yang akan dibeli," ujarnya.

Ia menuturkan, sebelumnya pajak yang diberlakukan pemerintah untuk investor asing di sektor properti mencapai 100 persen, namun saat ini diturunkan hanya 10 persen.

"Ini yang mendorong minat asing untuk membeli properti di Malaysia," ujarnya.

Sejauh ini, kata Hoe, pembeli properti terbesar adalah warga negara Singapura, China, dan Indonesia serta sejumlah negara lainnya.

"Jika pembeli asing ingin menambah unit propertinya diizinkan, tapi disyaratkan melapor untuk mendapatkan izin baru," katanya.

Tiru Malaysia

Sementara itu, Sekjen International Real Estate Federation (FIABCI) untuk Asia Pasifik, Rusmin Lawin mengatakan, pemerintah Indonesia seharusnya dapat mencontoh Malaysia dan Singapura yang memperbolehkan asing memiliki properti.

"Kami rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena dengan masuknya asing akan dapat mendorong maraknya bisnis properti di tanah air. Tetapi tetap diatur batasan seberapa banyak yang boleh dikuasai asing," kata Rusmin.

Warga negara asing yang bekerja di Indonesia terutama di kota-kota besar sangat ingin memiliki tempat tinggal yang permanen di kondominium.

"Mereka (pekerja asing dan investor) merupakan pasar potensial untuk menjadi pembeli kondominium," ujar Rusmin.

Sementara itu Sekjen DPP REI Eddy Hussy mengatakan, pemerintah harus secepatnya menyelesaikan aturan kepemilikan properti oleh orang asing di Indonesia.

"Studi banding ke Singapura dan Malaysia ini, akan kami jadikan masukan penting kepada pemerintah. Kajian asing boleh masuk sudah kami sampaikan, namun hingga kini masih ada semacam kekhawatiran sejumlah kalangan jika asing boleh menguasai properti," tegas Eddy.

Menurutnya, Singapura, negara dengan luas kecil yang sudah membebaskan asing memiliki properti tidak ada masalah.

"Aman-aman saja, bahkan bisnis properti di negara ini bisa menyumbang hingga 20 persen terhadap GDP Singapura," ujarnya.

Eddy berharap, pemerintah Indonesia segera menerbitkan payung hukumnya bisa berupa Peraturan Pemerintah (PP), yang dapat diterapkan di daerah yang memiliki kalangan ekspatriat seperti di Jakarta, Bali, Surabaya, Batam, dan Medan.

(R017)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga