Sabtu, 25 Oktober 2014

Sudah dua Fokker F-27 Skuadron Udara 2 TNI AU jatuh

| 9.539 Views
id pesawat jatuh, fokker jatuh
Sudah dua Fokker F-27 Skuadron Udara 2 TNI AU jatuh
Pesawat Fokker F-27 A-2708 Skuadron Udara 2 TNI AU jatuh di kompleks perumahan Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (21/6). (ANTARA/M Agung Rajasa)
... Skuadron Udara 2 memakai Fokker F-27 tipe 400M, yang sedikit berbeda ketimbang versi sipilnya...
Jakarta (ANTARA News) - Kenyataan tidak menyenangkan terjadi lagi di penerbangan militer kita. Satu Fokker F-27 Friendship jatuh (lagi) di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis siang; pesawat angkut sedang itu bernomor registrasi A-2708. 

Kode A dari A-2708 itu menandakan penyandang nomor itu pesawat angkut, sebagaimana A1345 C-130 Herkules. Begitulah salah satu "aturan main" petunjuk teknis registrasi pesawat terbang militer TNI AU, sesuai Petunjuk Teknis Pesawat Terbang TNI AU.

Aksiden penerbangan (militer) kali ini seolah membongkar lagi ingatan kita akan kisah tragis Sukhoi Superjet 100 dalam penerbangan gembira keduanya, juga dari landas pacu 180-00 yang sama, namun dari otoritas Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma.

Saat itu 45 pengikut dan pasangan pilot in command dan copilot-nya tewas di punggungan Gunung Salak, Kabupaten Bogor, pada 9 Mei 2012. Peristiwa ini menyedot perhatian internasional, terutama dari kalangan aviasi  internasional. Pemerintah Rusia juga turun tangan, karena keberhasilan Sukhoi Superjet 100 ini turut menentukan kebangkitan ketiga industri dan perekonomian negara Beruang Merah itu.

Dalam nomenklatur skuadron udara TNI AU, Fokker F-27 Friendship (dikenal sebagai Troopship dalam kalangan militer) tergabung dalam dua skuadron udara, yaitu Skuadron Udara 2 dan Skuadron Udara VIP 17, yang dua-duanya berpangkalan di Halim Perdanakusuma. Skuadron udara yang terakhir khusus didirikan untuk penerbangan VIP; untuk para petinggi militer dan instansi sipil yang memerlukan atau tamu negara.

Skuadron Udara 2 TNI AU memakai Fokker F-27 tipe 400M, yang sedikit berbeda ketimbang versi sipilnya. Skuadron udara ini memiliki tujuh F-27 400M --seturut pabrikan Fokker Aerospace-- sejak diterima Indonesia pada pertengahan '70-an dari pabriknya, Fokker Aerospace, di Belanda. 

Belakangan pabrikan pesawat terbang Belanda yang didirikan Anthony Fokker (kelahiran Blitar, Jawa Timur) ini dinyatakan bangkrut dan diakuisisi pihak lain. Layanan purna jual kemudian bisa tetap berlanjut.

Oleh TNI AU, F-27 400M ini diutilisasi sebagian besar untuk kepentingan transportasi dan proyeksi pasukan. Mulai dari latihan terjun payung (bebas ataupun terjun statik) hingga dropping material tempur dan logistik melalui empat pintu di kedua sisi fuselage-nya. Keterampilan terjun tempur jelas menjadi keharusan bagi personel Korps Pasukan Khas TNI AU, satu hal yang didukung para "kuda terbang" militer ini.

Sejak awal, kehadiran F-27 ini diinspirasi dari DC-3 Dakota atau C-47 Skytrain dalam nomenklatur penerbangan militer. Dakota dengan rancang bangun sederhana namun sangat efektif dan mudah dioperasikan itu terbukti sangat handal dalam berbagai misi militer; terbukti dari angka produksinya yang puluhan ribu unit sebelum dihentikan. Inilah yang mendorong Anthony Fokker dan timnya merancang dan mengembangkan F-27 itu.

Sama-sama bermesin dua turboprop dan mampu membawa puluhan personel bersenjata lengkap, F-27 mampu terbang hingga kecepatan 460 kilometer perjam. Mesin Rolls-Royce Dart Mk 532-7 di kedua pilonnya bisa menghela ke udara total 19.773 kilogram dengan kecepatan tanjak udara 7,37 meter perdetik. Ukurannya juga masih cukup kompak, yaitu rentang sayap 29 meter dan panjang fuselage 25,04 meter maka dia bisa  terbang dari landasan yang kualitasnya tidak cukup ideal.

Bicara soal kebolehan kinerja F-27 ini, Fokker di Belanda mengembangkan dia menjadi F-50 yang versi militernya dipakai Angkatan Udara Singapura. Bedanya, perangkat kendali, sistem avionika, dan sensor-sensor perangnya sangat maju ketimbang yang dimiliki Indonesia. Beberapa tahun lalu F-50 Singapura ini mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Hassanudin, Makassar, dalam satu misi SAR pesawat terbang Adam Air yang jatuh di laut.

Tidak ada satu orangpun diijinkan awak militer Singapura memotret F-27 mereka, baik secara utuh apalagi instrumen-instrumen yang terlihat mata. Padahal F-50 itu diparkir di apron yang dilalui banyak orang! Itulah salah satu bukti kebolehan F-27 dan kembangannya dalam misi transportasi, pengintaian ataupun intelijen lain dan SAR.

Di Indonesia, F-27 Skuadron Udara 2 ini jatuh pertama kali di Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara, Bandung, pada 6 April 2009, hanya tiga hari sebelum TNI AU memperingati hari jadinya. 

Misi kali itu adalah dukungan latihan terjun personel Korps Pasukan Khas TNI AU yang lepas landas dari pangkalan udara yang sama. Catatan saat itu menyatakan, dia jatuh dalam persiapan akhir (final approach) pendaratan dalam cuaca yang tiba-tiba saja berubah menjadi mendung berhujan dengan visibilitas terbatas.

Saat itu, F-27 itu terhempas menimpa satu hanggar perawatan di sisi kiri landas pacu. Pesawat terbang itu kontan terbakar hebat dan pastilah total loss. Saat lepas landas, dilaporkan kondisi cuaca sangat cerah dan faktor-faktor penentu kesuksesan penerbangan sangat ideal; cuma sesaat sebelum final approach saja cuaca menjadi buruk.

Walau tidak pernah diungkap kepada umum, namun diperkirakan kehadiran sheer wind dari arah kanan belakang F-27 itu yang memegang peran penting atas kejatuhan dia. Selain antisipasi dan penentuan langkah dari pilot menyikapi perkembangan negatif cuaca itu yang sempat disorot.

Kali ini, F-27 A-2708 telah jatuh, menewaskan enam dari tujuh awak militer TNI AU yang ada di dalamnya. Cuma kopilot, Letnan Satu Penerbang Paulus, yang dinyatakan masih hidup, yang langsung dilarikan ke RS Pusat TNI AU Ernawan Antariksa. A-2708 itu  jatuh di deretan rumah di RW 10 Kelurahan Halim Perdanakusuma, di Jalan Branjangan, Kompleks Rajawali, Halim Perdanakusuma.

Pilot in command, Mayor Penerbang Heri Setiawan, ditemukan tewas di tempat kejadian, sebagaimana Kapten Teknik Agus Supriyadi, Letnan Satu Penerbang Sahroni, Sersan Mayor Simulanto, Sersan Kepala Wahyudi (dari Skuadron Teknik 021), dan Sersan Satu Purwo. Seorang ibu yang tengah hamil yang rumahnya tertimpa pesawat terbang itu juga kehilangan nyawa sebagaimana warga lain bernama Brian. Delapan rumah hancur dan terbakar akibat tertimpa A-2708 itu.

Dalam kecelakaan penerbangan, para ahli dan pemegang otoritas sejak lama sepakat bahwa tidak pernah terjadi penyebab tunggal kecelakaan. Hal ini juga sesuai dengan berbagai kesimpulan penyelidikan (investigasi) KNKT Indonesia dan negara-negara lain.

Ada banyak rumusan, namun yang paling terkenal, penentu itu dikategorikan ke dalam 4 M, yaitu men alias manusia pengawak di darat dan udara, management mengacu pada penatalaksanaan penerbangan itu, machine yaitu performansi pesawat terbang itu sendiri, dan terakhir adalah media yaitu media di mana wahana udara itu terbang, meliputi cuaca dan lalu-lintas penerbangannya.

Demikianlah, dari tujuh unit F-27 400M yang ada dalam Skuadron Udara 2 TNI AU, kini tinggal lima. Harapan kita, jangan terjadi lagi hal memilukan ini. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga