Jakarta (ANTARA News) - Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi, mengatakan, pesawat Fokker F-27 Skuadron Udara 2 TNI-AU yang jatuh di Halim Perdanakusuma Jakarta, pukul 14.45 WIB, Kamis, masih layak terbang dan telah menjalani perawatan rutin sesuai jadwal.

"Pesawat yang jatuh telah menjalani perawatan sesuai jadwal dan pemeriksaan terakhir pada 1-15 Juni," kata Rusamsi kepada pers di kediaman resmi Wakil Presiden, Boediono, di Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis malam.

Hadir dalam keterangan pers tersebut Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dan Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono. 

Kondisi kelaikan mesin juga dinilai masih sangat laik dioperasikan, dengan jam pemakaian sekitar 9.200 jam operasi. Perawatan dan pemeliharaan di lingkungan TNI AU dilakukan dalam berbagai tahapan, mulai dari A check, B check, C check, D check, dan overhaul. Semuanya memiliki prosedur baku. 

Walau memegang panduan prosedur ketat sedemikian rupa, namun terdapat sejumlah keterbatasan yang masih menghadang. Di antaranya adalah pendanaan, karena hampir semua penggantian suku cadang pesawat terbang militer --sebagai misal-- tidak bisa dan tidak boleh melalui cara kanibalisasi.

Kronologi kejadian menurut dia, satu Fokker F-27 nomor registrasi A-2708, Kamis, jatuh di Jalan Branjangan I, Kompleks Rajawali, Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma. 

Pesawat tersebut diterbangkan Mayor Penerbang Heri Setyawan, Lettu Penerbang Paulus, dan Letda Penerbang Sahroni serta Kapten Teknik Agus Supriadi, Serma Simulanto, Serka Wahyudi dan Sertu Purwo.

Pada saat kecelakaan, enam kru tewas ditempat dan satu kru masih kritis. "Tapi pada pukul 18.20 WIB korban kritis Lettu Penerbang Paulus meninggal dunia di Rumah Sakit TNI-AU Halim," katanya.

Pesawat lepas landas dari pangkalan udara itu pukul 13.10 WIB untuk melaksanakan latihan profesiensi bagi kopilot dan tidak membawa pengikut kecuali personel TNI AU terkait. Mayor Penerbang Heri Setiawan yang berkualifikasi instruktur penerbang memimpin misi latihan profesiensi penerbang itu. 

Dilihat dari para pengikutnya, terdapat seorang perwira korps teknik dan beberapa bintara teknik selain ketiga penerbang. Berdasar data pemeliharaan pesawat terbang itu, F-27 A-2708 baru sepekan meninggalkan hanggar perawatan dan pemeliharaan.

F-27 itu jatuh dan menimpa delapan rumah warga di Kompleks Rajawali itu. Akibatnya, tiga orang warga setempat kehilangan nyawanya, yaitu Brian (6), Nafin (2), dan seorang pembantu. Sementara seorang lain atas nama Martina dalam keadaan luka kritis.

"Penyebab jatuhnya pesawat masih dalam penyelidikan Tim TNI-AU. Disampaikan bahwasanya pesawat ini maih layak terbang dan paginya pesawat ini digunakan terbang untuk latihan," katanya.

Pesawat Fokker 27 buatan pabrikan Fokker dengan mesin 2 EA Rolls Royce Dart MK 536-7R dengan rentang sayap 18 meter, panjang badan 15.154 meter, tinggi 6,61 meter, memiliki berat maksimum 7.450 kilogram. F-27 berdaya angkut 40 orang, serta mampu menjelajah selama enam jam.

(A025/Z002)