Kamis, 18 Desember 2014

"Matah Ati", drama tari di panggung miring

| 6.985 Views
id Matah Ati, resensi matah ati, karya jay subyakto, drama tari, pertunjukan drama jay subiyakto
Pementasan drama "Matah Ati" karya sutradara Atilah Soeryadjaya di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (12/5) malam. (ANTARA/Teresia May)
Tidak ada pertunjukan yang baik yang mudah dilaksanakan. Pasti ada proses yang panjang.
Jakarta (ANTARA News) - Tirai panggung tersibak sesaat setelah seorang sinden melantunkan lagu tentang lakon "Matah Ati", sebuah kisah nyata yang terjadi di tanah Jawa pada pertengahan abad ke-18, saat negeri ini berperang melawan tentara Perserikatan Perusahaan Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC).

Lampu pun kemudian menyorot ke panggung drama kisah cinta dua kesatria Surakarta, Raden Mas Said dan Rubiyah. Sebuah panggung yang ditata miring.

Adegan dibuka dengan tarian Rubiyah. Sambil menari, ia bernyanyi pilu. 

Ia sedang bermimpi menjadi seorang Putri Ningrat, namun sebagai rakyat biasa ia sadar itu hanya bisa jadi angan-angan. 

Rubiyah tidak tahu, suatu saat takdir akan membawanya menjadi istri penguasa tanah Jawa, Raden Mas Said.

Percikan cinta antara keduanya bermula saat rombongan Raden Mas Said melintasi Desa Matah, tempat Rubiyah tinggal. 

Hati Raden Mas Said dikisahkan langsung tergetar saat melihat seorang gadis yang kemudian diketahui sebagai Rubiyah. 

Suka cita warga pedesaan Jawa kemudian ditampilkan dengan tarian. Para penari tampak luwes, bergerak bebas di panggung miring.

Adegan selanjutnya berganti dengan Raden Mas Said yang sedang melakukan tapa brata, memohon kekuatan kepada Tuhan. 

Selama bertapa, tiga figur perempuan menggodanya. Tapi dia bergeming. Sukmanya justru melayang dari raga untuk menari bersama gadis yang ia lihat di Desa Matah. 

Sesaat setelah ruhnya kembali ke jasad, ia bertanya-tanya, "Apa maksud Tuhan mengirimkan gadis itu?"

Namun kondisi tanah Jawa yang sedang berada dalam cengkeraman penjajah Belanda membuat dia sejenak melupakan kejadian di pertapaan dan melaksanakan tugas sebagai kesatria Surakarta, memimpin perang.

"Tiji tibeh, mati siji, mati kabeh, mukti siji, mukti kabeh (mati satu, mati semua, mulia satu, mulia semua)" katanya menyemangati para prajurit.

Pasukan Raden Mas Said yang jumlahnya sedikit berhasil dipaksa mundur oleh pasukan Belanda. Mereka pun kemudian menyusun strategi, yang melibatkan prajurit putri.

Rubiyah, yang digambarkan sebagai gadis yang cantik dan sederhana, hadir sebagai pemimpin laskar prajurit putri. 

Raden Mas Said makin jatuh cinta padanya. Rubiyah pun kemudian menjadi penyemangatnya dalam berjuang dan dinamai "Matah Ati" yang artinya melayani hati sang pangeran. 

Perang besar selanjutnya pecah. Laskar prajurit putri yang dipimpin Rubiyah bergabung dengan pasukan Raden Mas Said. 

Bersama, mereka berhasil memenangkan perang. Sebuah perjanjian kemudian dibuat di Salatiga pada 17 Maret 1757, meski meninggalkan duka mendalam karena perang telah menewaskan banyak saudara dan menimbulkan perpecahan akibat politik devide et impera Belanda.


Panggung miring

Sang penata artistik, Jay Subyakto, sengaja membuat panggung miring untuk merepresentasikan latar cerita "Matah Ati", kawasan perbukitan Surakarta.

"Waktu kita napak tilas, di sana banyak sekali bukit-bukit miring. Selain itu, panggung ini juga untuk memperjelas konfigurasi tariannya," kata Jay.

Awalnya, panggung yang miring menjadi tantangan bagi sekitar 200 penari yang terlibat dalam pementasan lakon itu. 

Namun Jay, yang sempat dianggap "musuh" karena ide panggung miringnya, berhasil meyakinkan para pemain. 

"Tidak ada pertunjukan yang baik yang mudah dilaksanakan. Pasti ada proses yang panjang," kata tamatan Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu.

Proses yang panjang itu akhirnya memetik sukses. Para pelakon tidak tampak mengalami kesulitan bermain di panggung miring. Pertunjukan pun selalu mendapat respon bagus dari masyarakat sehingga kemudian ditampilkan berulang kali.

Lakon "Matah Ati" yang akan digelar pada 22-25 Juni di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan Solo pada 8-10 Juni mendatang, menjadi tahun ketiga pergelaran lakon tersebut. 

"Matah Ati" sudah bertandang ke Singapura pada 22-23 Oktober 2010 dan Jakarta pada 13-16 Mei tahun lalu.

"Karena banyak permintaan dari masyarakat yang belum menyaksikan 'Matah Ati'," kata produser dan sutradara "Matah Ati", Atilah Soeryadjaya.


Tak hanya sejarah

Drama tari "Matah Ati" tidak hanya menyajikan sejarah perjuangan yang patut dikenang dan menampilkan budaya bangsa yang wajib dilestarikan, namun juga memanjakan mata penikmat drama dengan tata artistik panggung yang membuat kagum. 

Karya yang patut mendapat penghargaan itu berawal dari keprihatinan sang sutradara. Atilah merasa tergugah hatinya karena prihatin saat membaca tulisan "Solo is heaven for terrorist" (Solo adalah surga bagi para teroris) di surat kabar negara tetangga.

Gambaran tentang Solo di surat kabar negara tetangga itu bertolak belakang dengan Solo yang dia kenal, sebuah kota yang kaya akan seni dan budaya. 

Ia pun kemudian merancang pementasan "Matah Ati" untuk menampilkan Solo yang dia kenal dan mengangkat kembali budaya-budaya Indonesia.

"Karena banyak budaya kita yang masih tersimpan dan belum muncul. Jangan sampai nanti muncul di negara lain dan baru ribut," tambah Atilah yang juga berperan sebagai penulis naskah dan perancang kostum drama itu.

Akhirnya jadilah "Matah Ati" yang membanggakan nama Indonesia, meski tidak mendapat dukungan dari pemerintah. 

"Kami hanya mendapat dukungan doa restu dari pemerintah," ujar Atilah.

(M047)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga