Jakarta (ANTARA News) - Indonesia mengusulkan agar G-20 memberikan perhatian serius kepada pembiayaan infrastruktur, selain untuk mendukung program pembangunan global, namun juga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketidakseimbangan global.

Hal tersebut menjadi usulan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Los Cabos yang dilaksanakan di Los Cabos, Meksiko pada 18--19 Juni 2012 dalam keterangan pers Kementerian Keuangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Usulan tersebut disepakati oleh para pemimpin G-20 dan dimasukkan dalam deklarasi para pemimpin G-20 untuk mendapatkan tindak lanjut ke depan.

Selain itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang hadir dalam pertemuan tersebut, bersama-sama Meksiko, Chile, dan beberapa negara anggota serta negara non-anggota G-20 lainnya telah menandatangani deklarasi yang berisikan komitmen untuk memperjuangkan program keuangan inklusif.

Hal tersebut ditandai dengan membentuk badan koordinasi nasional dan mempercepat penyelesaian strategi nasional keuangan inklusif (national strategy for financial inclusion).

Tujuan dari komitmen keuangan inklusif itu untuk meningkatkan akses bagi kelompok masyarakat yang selama ini belum tersentuh pelayanan jasa keuangan agar ikut serta menikmati jasa layanan sistem keuangan yang membantu kegiatan usaha mereka.

Forum G-20 menyepakati bahwa keuangan inklusif (financial inclusion) sangat penting dalam membangunan ketahanan pertumbuhan ekonomi dan menjaga perekonomian global dari hantaman krisis.

Dalam kaitan ini, para pemimpin G-20 telah menyambut baik komitmen dari negara anggota dan negara non-anggota G-20 untuk melaksanakan peer learning program dalam kerangka inisiatif keuangan inklusif.

Mereka juga meminta Global Partnership for Financial Inclusion (GPFI), Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya untuk melakukan upaya dalam membantu negara anggota melaksanakan program keuangan inklusif ini secara maksimal.

Selain itu, G-20 sepakat bahwa volatilitas harga komoditas global saat ini khususnya komoditas energi masih merupakan tantangan yang serius.

Ketidakstabilan harga komoditas global telah memberikan dampak negative dalam mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi global.

Oleh karena itu, para pemimpin G-20 menerima laporan yang disampaikan oleh Energy and Commodity Market Working Group mengenai `the Report on the Macroeconomics Impacts of Excessive Commodity Price Volatility on Growth and Policy Options to Consider.

Dalam laporan ECM Working Group yang dipimpin oleh Indonesia dan Inggris tersebut, disebutkan bahwa pergerakan harga komoditas yang berlebihan dapat menyebabkan instabilitas pasar yang akan mempengaruhi kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Untuk itu penting bagi negara anggota G-20 untuk mendukung upaya peningkatan transparansi di pasar komoditas global, serta peningkatan pengawasan atas pelaku pasar komoditas termasuk lembaga pelaporan harga (price reporting agencies).

Forum G-20 juga sepakat bahwa kesempatan kerja yang berkualitas akan mendukung penciptaan kondisi makroekonomi yang stabil.

Para pemimpin G-20 sepakat bahwa Rusia akan menjadi Ketua G-20 tahun 2013 dan pelaksanaan KTT berikutnya akan berlangsung di St. Petersburg, Rusia pada September 2012.
(S034/B012)