Kamis, 23 Oktober 2014

Broadband Island garansi Telkomsel sambut KTT APEC

| 7.976 Views
id telkomsel broadband, jaringan pita lebar, internet mobile, Nusa Dua
Broadband Island garansi Telkomsel sambut KTT APEC
Dokumen foto petugas pemasangan Base Transceiver Stations (BTS) milik Telkomsel. (ANTARA/Yudhi Mahatma)
"Saat itu kami sempat kecolongan."
Denpasar (ANTARA News) - Banyak wisatawan, baik mancanegara maupun Nusantara, menilai sungguh ironis kondisi jaringan seluler, termasuk layanan data berbasis pita lebar (broadband) di kawasan wisata elite Nusa Dua hingga sekitar Kuta maupun sejumlah tujuan wisata lainnya di Bali masih banyak yang tak terjangkau (blank spot).

Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri Konperensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (KTT ASEAN) ke-19 pada 17-19 November 2011 juga memberikan perhatian khusus soal wilayah tak terjangkau jaringan seluler maupun broadband Internet di Bali.

Faktanya, para pejabat negara dan wartawan --dalam maupun luar negeri-- kesulitan memantau, mengirim sekaligus menerima pesan data Internet saat KTT ASEAN. Keluhan yang juga dikemukakan Presiden Yudhoyono itu kemudian diakui Syaiful Bachri, selaku Head of Sales & Customer Care Telkomsel Regional Bali-Nusa Tenggara (Nusra).

"Saat itu kami sempat kecolongan. Selain mendapat komplain dari sejumlah jurnalis, kalangan Istana-pun menyampaikan bahwa Presiden SBY sempat mengeluhkan kondisi jaringan seluler, setelah gagal menghubungi ajudannya melalui telepon genggam," kata Ari, sapaan akrab Syaiful Bachri.

Ari mengungkapkan hal itu beberapa waktu lalu, sebelum mengemban tugas baru sebagai Head of Sales & Customer Care Telkomsel Regional Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan).

Ia mengakui bahwa hal tersebut terjadi karena kealpaan hanya memasang alat penguat sinyal (repeater) di sekitar kamar Presiden Yudhoyono di kawasan Nusa Dua. Sementara itu, menurut dia, di lokasi penting lawan bicara Presiden, seperti kamar sang ajudan, "tidak terpikir" untuk dipasang alat yang sama.

Masih banyaknya daerah tak terjangkautersebut, katanya, terutama disebabkan pengembangan jaringan seluler, termasuk layanan data berbasis pita lebar, terkendala sulitnya perizinan dari pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung.

"Terutama, di sekitar Nusa Dua, kawasan wisata internasional Kuta dan beberapa daerah, terutama di Kabupaten Badung, masih terhambat proses perizinan yang kami rasakan begitu sulit dan pelik," katanya.

Ari berharap, dukungan berbagai pihak untuk kemudahan prizinan pembangunan pemancar seluler, termasuk layanan data, baik melalui pembangunan menara, pemasangan stasiun pemancar utama (base transceiver station/BTS) secara bergabung, termasuk BTS generasi ketiga (third generation/3G) yang disebut Node B, guna melengkapi fasilitas kawasan wisata dunia itu.

"Nusa Dua, beberapa daerah di Kuta, masih banyak yang blank spot atau sinyalnya sangat lemah. Ini sungguh memprihatinkan, terutama bagi wisatawan asing," ujarnya saat itu didampingi Manager Service Quality Assurance Telkomsel Bali-Nusara, Charley Rambi, dan Manager Market & Customer Development-nya, Ana Sudiatman.

Dikemukakannya bahwa masyarakat di sekitar Nusa Dua dan Kuta, apalagi wisatawan asing, sangat menginginkan adanya dukungan pemancar seluler berbasis 3G yang setara standar internasional.

Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan mendukung pengembangan jaringan seluler yang bisa berdampak pada pelayanan terhadap wisatawan mancanegara maupun domestik.

Broadband Island

Berdasarkan pengalaman buruk saat KTT ASEAN yang juga dihadiri Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, Telkomsel kemudian menargetkan Bali menjadi Pulau Pita Lebar (Broadband Island).

Seluruh jaringan di tujuan kunjungan internasional itu diharapkan dapat memberikan layanan pita lebar berbasis seluler generasi kedua (second generation/2G) maupun 3G yang diatur sesuai kebutuhan masing-masing daerah menggunakan teknologi Flexi Multi-Radio (FMR).

"Untuk mewujudkan hal itu, kami mendapat prioritas dari kantor pusat untuk menambah 100 BTS per bulan dengan harapan pada akhir 2012 seluruhnya mencapai 3.200 menara pemancar seluler," kata Ari, yang posisi jabatannya baru digantikan Hasan Kurdi.

Dalam penjelasan didampingi Hasan Kurdi, yang saat itu masih menjabat Head of Modern Channel Telkomsel dan Head of Information, Communication and Technology (ICT) Network Management Bali-Nusra, Ganot Sunoto, disebutkan bahwa di wilayah Bali dan Nusa Tenggara kini telah beroperasi 2.600 BTS.

Dengan demikian, ia memperhitungkan, diperlukan tambahan 600 unit BTS lagi yang harus terwujud dalam enam bulan.

"Kami optimistis target tersebut dapat dicapai, karena pembangunannya melalui sistem kerja sama dengan menara seluler operator lain atau perusahaan pemancar seluler seperti yang ada di Badung," kata Ganot Sunoto.

Menurut Ari, kantor pusat Telkomsel menargetkan hal itu setelah pihaknya berhasil mencatat performansi yang positif di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, yakni jumlah pengguna (users) tumbuh 13 persen, yakni di atas rata-rata pertumbuhan industri berkisar 8 hingga 9 persen.

"Kehadiran Kartu Lombok sejak akhir tahun lalu yang mendapat respon positif dari masyarakat di Nusa Tenggara Barat itu menjadi salah satu pendongkrak pertumbuhan pelanggan, selain kejelian kami dalam menjaring peminat baru," ucapnya.

Capaian kinerja tersebut, menurut dia, juga didukung peningkatan jumlah pengguna layanan pita lebar yang hingga akhir Mei 2012, atau meningkat 30 persen dibanding akhir 2011.

Target menjadikan Bali sebagai "Pulau Broadband", juga menjamin kondisi jaringan seluler dan layanan data di daerah tersebut bisa setara dengan standar internasional pada saat pelaksanaan KTT APEC yang dijadwalkan digelar di Nusa Dua pada September 2013.

"Kami tidak ingin keluhan saat KTT ASEAN itu terulang. Kami ingin memastikan bahwa pada saat pelaksanaan konferensi tingkat tinggi kerja sama ekonomi negara-negara Asia-Pasifik ke-21 nanti, semuanya sudah setara kelas dunia," ucapnya.

Merchant application

Target layanan setara kelas dunia tersebut juga seiring meningkatnya jumlah pelanggan broadband di Bali dan Nusa Tenggara, yang kini menghadirkan aplikasi layanan dagang (merchant application) yang bisa diunduh menggunakan gadget atau perangkat genggam bersistem operasi terbuka produk Google, yakni Android.

Aplikasi tersebut, dalam promosi Telkomsel disebutkan, mempermudah pelanggan dalam memperoleh informasi mengenai diskon spesial pembelian produk dan layanan dari berbagai pedagang rekanan Telkomsel di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Pelanggan yang menggunakan smartphone atau telepon pintar dan komputer tablet ber-platform Android dapat mengunduh Telkomsel Merchant Apps melalui tautan www.tselmerchant.com/download/TelkomselMerchant.apk yang bersifat interaktif.

Melalui aplikasi ini, pelanggan juga dapat memperoleh informasi lebih lanjut dengan menghubungi langsung merchant tersebut melalui layanan suara atau menggunakan Foursquare, layanan direktori berbasis lokasi.

Sedikit-dikitnya ada 24 merchant dari kategori kuliner (restoran dan kafe), mart (pusat perbelanjaan), medical (rumah sakit dan klinik), recreation (tempat wisata), resort and spa, dan sport (olahraga) dalam aplikasi menawarkan berbagai diskon spesial.

"Dalam waktu dekat, kami akan menambah jumlah merchant dalam aplikasi ini agar pelanggan dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai aneka penawaran menarik yang bisa dinikmati," demikian Ari.

Hasan Kurdi saat acara pisah sambut posisinya di Telkomsel mengakui bahwa mempertahankan kinerja Telkomsel Regional Bali-Nusra yang sudah sangat bagus bukan pekerjaan mudah, apalagi dengan garansi kelas dunia guna menyambut APEC 2013.

"Ini bukan hal mudah, apalagi menjadikan layanan di Bali setara kelas dunia. Tetapi dengan dukungan tim yang solid, optimistis hal itu bisa terwujud," ucapnya, sekaligus juga memperkenalkan program 100 hari kerja dengan tambahan 850.00 pengguna baru itu. (*)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga