Selasa, 23 Desember 2014

Peter Gontha: doktor Indonesia lebih banyak terjun ke politik

| 2.777 Views
id doktor politik, doktor sains, doktor industri, peter f gontha
Peter Gontha: doktor Indonesia lebih banyak terjun ke politik
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (kiri), Wakil Ketua KADIN Peter Gontha (kanan), dan pimpinan redaksi Oxford Business Group (OBG) Andrew Jeffreys (tengah), berbincang sebelum peluncuran The Report: Indonesia 2012 di Jakarta, Selasa (14/2). Publikasi The Report yang sekaligus menandai tahun kelima OBG berkiprah di Indonesia memberi kajian mengenai persiapan Indonesia dalam meningkatkan iklim usaha dan mengurangi sistem birokrasi dalam upaya menarik investasi untuk proyek-proyek utama. (FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)
Saat ini Indonesia memiliki sekitar 30.000 lulusan PhD (doktoral), namun lebih banyak terjun ke dunia poitik dan komunikasi, dan tidak banyak yang terjun ke sains."
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga ahli yang terjun di bidang sains agar mampu meningkatkan daya saing industri nasional.

"Saat ini Indonesia memiliki sekitar 30.000 lulusan PhD (doktoral), namun lebih banyak terjun ke dunia poitik dan komunikasi, dan tidak banyak yang terjun ke sains," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Transportasi dan Investasi Peter F Gontha, di Jakarta, Senin.

Dalam siaran pers Peter mengatakan, untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak hanya diperoleh dari mengancalkan konsumsi dalam negeri tetapi juga harus langkah konkrit dengan meningkatkan kemampuan industri nasional.

Berdasarkan data International Finance Corporation (IFC), pada tahun 2010-2011 peringkat daya saing Indonesia di Asia Timur dan Pasifik berada pada 129, lebih rendah dibanding Malaysia di peringkat 18, Thailand 17.

"Saya melihat sumber daya manusia (SDM) yang ada saat ini belum bisa mendukung daya saing industri nasional karena dinilai belum sesuai kebutuhan dunia industri," ujarnya.

Ia mencontohkan, Universitas Indonesia (UI) mencetak setidaknya 200 mahasiswa bergelar PhD setiap tahun.

Namun diantara 200 orang tersebut, hanya 10 persen yang terjun dalam bidang sains, yang mengakibatkan industri Indonesia tidak bisa bersaing dengan negara lain.

Berbeda dengan negara-negara seperti Korea, Jepang, dan China yang mampu menciptakan berbagai produk serta inovasi dalam bidang sains karena ditopang banyaknya lulusan PhD yang terjun dalam bidang tersebut.

"Korea dengan Samsung dan Hyundai, China dengan Huawei, belum lagi Jepang dengan Sony, Honda, Mitsubishi, dan Panasonic. Kenyatannya, kita baru memiliki sedikit perusahaan yang besar antara lain Gudang Garam, Djarum dan Indomie, dan lainnya," ujar Peter.

Untuk itu ujarnya, di masa datang Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi tenaga ahli dalam bidang sains, karena kalau tidak maka dipastikan sulit bersaing dengan negara-negara tersebut. (R017/B012)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga